GURU “stressor” anak CI+BI

PENDIDIKAN KHUSUS..
bagi anak CI+BI merupakan kebutuhan mutlak. pengelola sekolah yang tidak peka terhadap kebuthan anak CI+BI di sekolahnya menjadikan potensi anak tersia-sia. Tanpa pendidikan khusus yang dirancang dan dilaksanakan dengan benar, anak CI+BI tidak bisa berkembang optimal , bahkan cenderung menjadi siswa yang bermasalah karena kebutuhan belajarnya tidak terpenuhi..

Layanan untuk anak CI+BI harus diampu oleh guru yang kompeten. Tidak semua guru dapat menjadi guru efektif bagi anak Ci+BI. Dibutuhkan karakteristik intelektual dan kepribadian yang spesifik, serta dibutuhkan pelatihan agar guru dapat menyusun kurikulum diferensiasi, menggunakan metode pembelajaran dan evaluasi yang tepat agar anak CI+BI bisa berkembang optimal.

Masih banyaknya guru yang tidak mendaptkan pelatihan tentang layanan aksel secara mamadai, menjadikan guru tersebut menjadi “stressor” bagi anak CI+BI dan memiliki kemungkinan untuk menjadi potensi anak CI+BI menjadi layu sebelum berkembang.

#AmrilMuhammad

Syarat UN untuk Siswa kelas Akselerasi..

ALHAMDULILLAH…
di hari ulang tahun Asosiasi CI+BI Nasional yang keenam dan diangka bagus.. 11-12-13…. kami sudah mendapatkan pemberitahuan dari BSNP bahwa siswa kelas akselerasi yang bisa ikut ujian nasional untuk tahun pelajaran 2013-2014 adalah mereka yang memiliki hasil tes IQ min. 130…

Dengan demikian segelintir pihak (al: pakde supri, mas bro, bang toha) yang mengatakan di beberapa forum, bahwa sekolah/madrasah yang tidak cukup memiliki siswa kelas aksel, boleh menerima mereka yang IQ min. 125 ke kelas aksel dan menjanjikan bisa mengurus ke BSNP supaya bisa ikut UN, adalah penipuan dan pembohongan..

Semoga para kepala sekolah/madrasah itu menjadi sadar bahwa mereka telah dibohongi/ditipu oknum-oknum tersebut.
Layanan aksel bukanlah barang dagangan, yang jika kurang siswa, maka diturunkan harganya dengan mengurangi angka skor IQ min. dari 130 ke min. 125, agar bisa memperoleh siswa yang banyak.

Penetapan angka IQ min. 130 bukan asal-asalan, tetapi berdasarkan hasil kajian literatur yang kami lakukan. Beberapa ahli al:
1. Weschler (2003, 2008, 2012)
2. Stanford-binnet (2003)
3. Woodcock-Johnson R (2007)
4. Kaufman (1993)
5. Das-Naglieri (1997)
6.Colin D. Elliott (2007)
7. Cecil Reynolds and Randy Kamphaus (2003)

Betapapun kebohongan/penipuan itu mereka kemas dengan diam-diam dan terencana, kami bersyukur bisa melawannya. Kebenaran tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh kebusukan dan kebohongan

syarat peserta UN tahun pelajaran 2013/2014 dapat dilihat pada link berikut

http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/sites/default/files/POS%20UN%20Tahun%20Pelajaran%202013-2014_0.pdf

 

REKAYASA SESAT UNTUK KELAS AKSELERASI

KITA….
tidak perlu merekayasa setiap anak menjadi anak CI+BI, tapi kita pasti bisa mengembangkan setiap anak sehingga mereka mencapai potensi maksimal.  Setiap anak memiliki potensi terbaik yang mereka bawa (nature) sejak lahir untuk dikembangkan dan diwujudkan dalam prestasi…..Oleh karena itu JANGAN rekayasa hasil psikotes demi untuk memasukkan anak ke dalam kelas akselerasi..

Dalam temuan di lapangan banyak penyelenggara layanan aksel melakukan rekayasa agar memperoleh siswa lebih banyak untuk kelas aksel. Ada dua cara yang biasa mereka lakukan, yaitu:

1. Melakukan drill/latihan mengerjakan soal-soal psikotes, beberapa hari/minggu sebelum psikotes yang sebenarnya dilakukan.

2. Bekerjasama dengan oknum psikolog/lembaga psikologi/PT yang memiliki fak/jurusan psikologi agar diperoleh siswa dengan skor min. 130 dalam jumlah yang memadai

JANGAN juga rekayasa menurunkan ketentuan/aturan skor IQ agar lebih banyak siswa yang masuk ke dalam kelas akselerasi. Saat ini ada upaya sebagian pihak untuk menurunkan aturan minimal IQ untuk anak bisa masuk kelas akselerasi, dengan cara mengubah Pedoman layanan akselerasi. Hal ini dilakukan agar mereka bisa mendapatkan jumlah siswa lebih banyak. Perilaku semacam adalah perilaku buruk. Ibaratnya kita menjual barang, tapi pembeli sedikit, lalu kita menurunkan harga sehingga barang tersebut menjadi lebih laku. Mereka lupa bahwa pendidikan khusus untuk anak CI+BI diberikan kepada mereka yang memiliki potensi sebagai anak CI+BI, bukan direkayasa menjadi anak CI+BI.

Kelas AKSELERASI bukan kelas yang lebih “tinggi” dari kelas reguler…masing-masing anak punya tempat terbaik untuk mengembangkan potensi mereka, tidak perlu dipaksakan masuk kelas akselerasi..Kelas reguler cocok untuk anak yang normal secara intelektual, sebagaimana SLB C/tuna grahita cocok untuk siswa yang memiliki kategori intelektual tuna grahita ringan, sedang ataupun berat, karena mereka akan mendapatkan layanan pembelajaran sesuai kemampuan mereka..

BERMAIN untuk BELAJAR

Pola ‘belajar’ yang diterapkan oleh orang tua sebagai lingkungan pertama bagi anak akan berpengaruh pada perkembangan anak ditahap selanjutnya.”Bermain punya peran penting. Anak berbagi rasa. Lewat permainan juga akan muncul rasa berbagi dan sosial. Anak-anak juga suka ekspresi wajah, dan ini bisa didapatkan dari bermain termasuk bersama kedua orangtuanya.

bermain punya banyak manfaat di antaranya:
* Membantu mengerti tentang lingkungan sekitar.
* Mendorong anak untuk belajar memecahkan masalah.
* Membantu anak mengembangkan kreativitas.
* Mengembangkan kemampuan sosialisasi dan komunikasi pada anak.
* Meningkatkan kesehatan tubuh

untuk info lebih lanjut: http://health.kompas.com/read/2013/10/07/0859469/Tanpa.Bermain.Anak.Kehilangan.Momen.Belajar

SEMUA ORANG TUA…..
menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, begitu juga orang tua anak CI+BI. Sayangnya masih banyak orang tua yang tidak memahami karakteristik anak CI+BI, sehingga mereka melakukan kekeliruan dalam melakukan pendampingan untuk pengembangan potensi putra putrinya…

Jadi…..

kenali karakteristik kognitif maupun psikologis anak CI+BI, agar pendampingan yang dilakukan menjadi efektif dan potensi anak CI+BI berkembang dan menghasilkan kinerja yang optimal..

#amril muhammad

HATI-HATI MASUK KELAS AKSELERASI

Sejak RSBI/RMBI dinyatakan terlarang atau bubar oleh Mahkamah Konstitusi pada awal tahun 2013, banyak sekolah/madrasah pelaksana RSBI/RMBI kebingungan untuk mengembangkan layanan unggulan di sekolah. Pada tahun 2010, Direktorat PSMP pernah mengeluarkan surat larangan kepada SMP yang menjadi rintisan RSBI untuk menutup semua program-program unggulan yang ada termasuk AKSELERASI. Asosiasi CI+BI Nasional kemudian merespon surat larangan tersebut dengan menulis kepada Direktur PSMP Kemendiknas dan Dirjen Dikdasmen (waktu itu), yang mempertanyakan keluarnya larangan tersebut dan meminta berdialog.

Dalam dialog tersebut diperoleh temuan bahwa Direktur PSMP tidak memahami dengan benar apa yang dimaksud dengan AKSELERASI dan beliau menerima informasi yang salah dari seorang oknum konsultan yang bernama KH. KH ini juga merupakan adik dari ESY konsultan pada direktorat yang lain, yang juga menginginkan supaya AKSELERASI dibubarkan dengan mengganti menjadi istilah kelas CI atau kelas CI Inklusi. Alhamdulillah sebagian sekolah masih menyadari surat yang keliru itu, dan tetap membuka layanan akselerasi.

Dalam perjalanannya kemudian, ternyata justru RSBI/RMBI yang dibubarkan dan dinyatakan terlarang berdasarkan keputusan Mahkamah KOnstitusi. Munculnya larangan ini membuat sekolah yang punya RSBI melirik AKSELERASI sebagai produk unggulan mereka. Sehingga berlomba-lombalah mereka membuka kelas AKSELERASI, meskipun mereka tidak paham konsep dan bagaimana layanan AKSELERASI dilakukan. Di sebuah kota di Pulau Jawa, sempat walikotanya mengeluarkan larangan membuka kelas aksel di sekolah-sekolah. Tapi kemudian pada awal bulan Juni 2013, justru di kota tersebut didorong untuk membuka kelas AKSELERASI.

Maraknya keinginan sekolah/madrasah untuk membuka layanan AKSELERASI di satu sisi perlu disambut dengan baik, karena memang jumlah sekolah/madrasah yang memberikan layanan ini masih sangat mini, baru mampu menampung sekitar 1% (sekitar 10.00an) anak usia sekolah yang berpotensi CI+BI. TETAPI jika pemberian layanan dilakukan oleh orang-orang yang tidak paham tentang konsep, kurikulum, pembelajaran, penilaian dan cara pengelolaan program, maka program ini akan sekedar mempercepat penyelesaian studi, tanpa masuk pada hal yang substantive.

Pada sekolah/madrasah yang sekarang ini berjalan saja, masih sedikit yang guru pernah diberikan pelatihan dan bekerja untuk menyusun kurikulum diferensiasi dan pengelolaan AKSELERASI. Di Sumatera Barat, yang pernah berworkshop layanan AKSELERASI adalah SMA Don Bosco Padang, di Jakarta adalah SMAN 81,di Jawa Barat, antara lain: SMPN 1 Tasikmalaya, SMPN 1 Pangandaran dan SDN 07 Ciamis. Di Jawa Tengah antara lain: SMA YSKI Semarang, MTs Assalam Solo, SMAN 1 Purwokerto, SMPN 3 Cilacap. di Jawa Timur : MTs Sumber Bungur di Pamekasan Madura, MTs Denanyar di Jombang, dan MTs Pajarakan di Probolinggo. Di banten: SDI Al Azhar Serpong dan SMP al Azhar Serpong.

Guru yang tidak pernah mendapatkan pelatihan dalam memberikan layanan akselerasi akan berimplikasi mereka memberikan layanan yang keliru dan justru menjadikan anak memiliki beban belajar yang sangat berat.

Oleh karena itu, masyarakat yang ingin memasukan anaknya ke layanan AKSELERASI harus mengecek betul kesiapan sekolah/madrasah tersebut. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian orang tua yang akan memasukan anaknya ke kelas aksel adalah:

1. Apakah sekolah/madrasah yg bersangkutan telah memiliki ijin membuka kelas aksel. Jika sekolah tidak memiliki ijin, maka keberadaan layanan akselerasi tidak akan diakui dan berakibat siswa tidak bisa ikut ujian nasional maupun ujian masuk perguruan tinggi.

2. Apakah sekolah/madrasah sudah menyusun kurikulum diferensiasi dan melatih guru untuk melakukan pembelajaran dan penilaian yang sesuai karakteristik layanan akselerasi

3. Apakah putra bapak/ibu memiliki IQ min. 130 dengan skala weschler, yang diuji oleh psikolog dari perguruan tinggi dan biro psikologi yang terakreditasi oleh BNSP?…jika ternyata putra bapak/ibu memiliki IQ di bawah 130, jangan menerima tawaran itu, karena berisiko putra bapak/ibu tidak bisa mengikuti ujian nasional.

4. Para orang tua jangan mau anaknya dilatih terlebih dahulu sebelum mengikuti psikotes. Karena psikotes bukan seperti ujian yang mencari nilai setinggi-tingginya, tetapi psikotes merupakan cara untuk mengetahui seorang anak, apakah mereka tepat untuk mengikuti program AKSELERASI, atau lebih tepat di program regular.

5. Jangan ragu bertanya kepada Asosiasi CI+BI Nasional terkait dengan layanan akselerasi.

Apabila orang tua/masyarakat bersikap kritis dan mau melakukan pengecekan dengan benar, Insya Allah mereka akan terhindar dari layanan AKSELERASI yang tidak sesuai. Dengan ini pula, eksistensi layanan AKSELERASI akan dapat dijaga dari gangguan dan rongrongan segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan materi dari layanan AKSELERASI, tetapi melanggar hal-hal yang mendasar. Sehingga dapat berimplikasi menguatnya sebagian kecil orang yang menghendaki layanan AKSELERASI dibubarkan.

Salam.

Amril Muhammad