BEBERAPA SALAH PAHAM TERHADAP ANAK CI+BI
Oleh. Amril Muhammad
1. Seringkali dianggap anak nakal, susah diatur dll.
Hal ini terjadi karena Orang tua guru/sekolah tidak mengenali potensi mereka. Pembelajaran model reguler yang cenderung menunggu siswa yang belum bisa, mengakibatkan anak-anak CI+BI yang sudah menyelesaikan pekerjaan, menjadi tak punya aktivitas. Ini menjadikan muncul perilaku negatif seperti menganggu teman dan sebagainya. Dampaknya Potensinya terabaikan , karena guru menganggap mereka anak nakal dan harus dihukum atau diberi “pelajaran” agar tidak nakal.
2. Pernyataan “IQ hanya menyumbang 20% terhadap keberhasilan”.
Pemahaman tentang pernyataan ini menjadikan seolah-olah IQ itu tidak penting. Padahal banyak juga ditemukan orang-orang yang secara EQ dan SQ nya tinggi tapi tak bisa mencari makan untuk kehidupannya, akhir melakukan tindakan-tindakan kejahatan seperti mencuri, merampok dan korupsi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
3. Sebutan cerdas +berbakat istimewa.
Istimewa selalu dianggap bernilai positif, sehingga ketika anak CI+BI tampak tidak berperilaku positif dan tidak menghasilkan prestasi tinggi, lalu dianggap mereka anak CI+BI bohong-bohongan. Bahkan ada guru yang menyatakan bahwa anak CI+BI lulus masuk aksel Cuma keberuntungan. Padahal sejatinya anak CI+BI itu mengalami kondisi disinkronitas. Di sisi IQ berada pada posisi yang tinggi, sedangkan aspek sosial emosional sering seesuai dengan yang diharapkan. Disini pentingnya pembimbingan pada anak CI+BI adalah kemajuan dalam aspek kognitifnya diimbangi oleh aspek sosial dan emosionalnya.
4. Penggunaan kata Cerdas vs Bodoh.
Ada anggapan bahwa anak CI+BI dibiarkan berkembang sendiri untuk bisa mempelajari apapun. Sehingga ditemukan guru di beberapa tempat, yang cenderung tidak mengajar di kelas akselerasi dan hanya memberikan tugas untuk dikerjakan oleh siswa. Ini jelas kekeliruan besar, karena anak CI+BI tetap memerlukan bimbingan yang memadai agar mampu mengoptimalkan potensi mereka. Beberapa tahun yang lalu, ketika media mulai mengangkat tema anak CI+BI ini, sempat ada tulisan di surat kabar nasional yang menyatakan bahwa anak cerdas tidak perlu diurus lagi, yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah mengurus orang-orang bodoh agar menjadi pintar. Jelas ini kesalahpahaman tentang anak CI+BI, karena anak CI+BI baru memiliki potensi yang harus dibantu dengan benar agar tidak mengalami underachiecer.
5. Anak gifted dianggap homogen yaitu high normal,
Hal ini mendorong guru melakukan model layanan yang bersifat all size. Ini jelas tidak tepat. Guru harus memahami perbedaan-perbedaan pada anak CI+BI. Meskipun mereka disatukan dalam kelas aksel, tetapi harus tetap dikenali kemampuan personal mereka dan diberikan stimulasi agar kemampuan itu bisa berkembang secara optimal. Oleh karena itu guru harus diberi informasi tentang profil anak secara psikologis dan kognitif yang diperoleh dari tes yang dilakukan oleh psikolog. Dengan pemahaman ini, guru akan bisa memberikan layanan yang sesuai dengan karakteristik anak CI+BI.
6. Seringkali diasumsikan sama dengan anak pintar (high achiever).
Karakteristik gifted berbeda dengan anak high achiever. Ini jelas berbeda. Ada perbedaan mendasar anak pintar/high achiever dengan anak CI+BI. Untuk lebih memahami perbedaan karakter anak CI+BI dengan anak pintar, silahkan dibaca artikel lain di blog ini.
7. Ada ketidaksesuaian sosial dan emosional jika diberikan program khusus.
Seolah-olah kalo dimasukkan ke dalam kelas khusus maka anak CI+BI menjadi eksklusif, lalu dipaksakan anak aksel digabung dengan siswa lain yang disebut kelas inklusi. Ini jelas tidak tepat dan menjadi salah paham tentang “inklusi’. Inklusi ada yang bersifat kelas dan ada yang dalam lembaga atau sekolah. Anak CI+BI tidak cocok untuk inklusi dalam sistem pembelajaran di kelas. Karena dari hasil penelitian yang dilakukan sejak tahun 1990 sampai 1999 yang dilakukan oleh Prof. Yaumil Akhir dan Dr.Herry Widyastono menunjukkan bahwa ketika anak CI+BI bergabung dalam pembelajaran bersama anak biasa, yang terjadi justru anak CI+BI mengalami under achiever. Penelitian yang dilakukan oleh Swiatek dan Benbow pada tahun 1991 menyimpulkan bahwa penggunaan model akselerasi yang benar akan mampu mengembangkan secara positif yang semakin baik dan berkurang sisi negatif dari aspek sosial dan emosional. Jadi yang dilakukan bukan membubarkan program aksel seperti yang disuarakan oleh sebagian kecil pihak tetapi membenahinya agar sesuai dengan ketentuan dan harapan.
8. Makna kata “diskriminasi” .
Ada anggapan keliru yang menyatakan bahwa mengelompokkan siswa dalam kelas akselerasi adalah tindakan diskriminatif. Kalo kita secara cermat melihat di sekeliling, yang namanya pengelompokkan selalu terjadi. Dari aspek jenis kelamin, ada kelompok wanita dan pria. Dari kelompok umur, ada anak-anak, remaja, dewasa dan orng tua dan seterusnya. Nah dalam tingkat kemampuan intelektual yang diukur dengan tes IQ, ada anak yang masuk dalam kelompok tuna grahita, anak normal, anak superior, anak very superior dan anak jenius. Setiap anak ini membutuhkan layanan pembelajaran yang berbeda, dan itu akan lebih mudah dikelompokkan. Justru menjadi diskriminatif ketika seorang siswa dipaksa untuk memperoleh sesuatu yang bukan menjadi kebutuhan dan apa yang menjadi kebutuhannya justru tidak diberikan.