Mainan untuk Anak

SERINGKALI….
orang tua memberikan mainan pada anak, agar mereka bisa melakukan pekerjaan lain atau beristirahat. jika ini yang terjadi maka keberadaan mainan bagi anak tidak terlalu bermanfaat.

100_7003

Orang tua hendaknya mendampingi anak saat bermain, agar bisa memberikan stimulus dalam upaya tumbuh kembang anak. Pendampingan bisa berupa mengajarkan cara memainkan mainan, baik dengan cara yang seharusnya maupun membuat variasi cara lain. Selain itu, orangtua juga bisa mengajak anak memainkan mainan dengan bernyanyi dan bergerak. Oleh karena itu, orang tua perlu meluangkan waktu untuk bermain dengan anak.

Dalam mengoptimalkan stimulasi, orangtua perlu memberikan mainan pada anak sesuai dengan kategori usianya. Bila kategori usia mainan lebih rendah dari usianya, anak akan lebih mudah merasa bosan karena tidak ada tantangan. Sebaliknya, bila terlalu tinggi dari kategori umurnya, anak umumnya tidak akan mampu menikmati mainan yang diberikan

rujukan: Kompas.com

Penerapan Kur. 2013 di kelas Akselerasi

Pada tahun 2013, pemerintah mulai menerapkan kurikulum 2013 secara bertahap. Dimulai dengan adanya piloting di lebih dari 6000 sekolah mulai jenjang SD, SMP dan SMA/SMK. Sedangkan madrasah belum satupun melaksanakan kur 2013. Dari 6000 sekolah tersebut, diantaranya adalah sekolah-sekolah yang menyelenggarakan aksel. Namun pada tahun 2013 itu, khusus kelas aksel tidak menggunakan kurikulum 2013, karena Ujian nasional dengan Kur 2013 baru dilaksanakan pada tahun 2016, sedangkan siswa kelas aksel yang masuk pada tahun 2013 akan tamat pada tahun 2015. Mulai tahun 2014, sesuai dengan kebijakan pemerintah bahwa semua sekolah menerapkan kurikulum 2014 termasuk kelas akselerasi.

gambar Kur 2013

Di madrasah pada tahun 2014, baru akan mulai diterapkan kurikulum 2013. Berbeda dengan sekolah yang menggunakan model piloting, seluruh madrasah diwajibkan untuk melaksanakan kurikulum 2013. Hal ini diatur dalam surat edaran Dirjen Pendis Kemenag no. SE/DJ.I/HM/114. Oleh karena dimulai pada tahun 2014, maka ujian nasional di madrasah pada tahun 2016 masih menggunakan standar isi dan standar kompetensi lulusan dari permendikbud tahun 2006 atau dikenal dengan sebutan KTSP.

Point 2 dari surat edaran Dirjen Pendis menyatakan bahwa : “seluruh madrasah di lingkungan direktorat madrasah akan melaksanakan ujian nasional untuk tingkat madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah pada bulan mei-juni 2016 menggunakan tipe soal KTSP yang menjadi tanggung jawab Kemendikbud”.

Dengan mengacu pada point itu, berarti siswa baru kelas aksel di madrasah tahun 2014, akan mengikuti ujian nasional pada tahun 2016, soal ujian nasional model KTSP. Sayangnya surat edaran ini keliru dipahami oleh birokrat Pembina madrasah di daerah. Mereka hanya memahami point 1 dari edaran itu bahwa mulai tahun 2014, semua madrasah menerapkan kur 2013, tapi melihat point 2 dari surat edaran tersebut.

Jika kekeliruan pemahaman ini tidak segera dibetulkan, maka siswa kelas aksel angkatan tahun 2014 yang juga diharuskan mereka menggunakan kur 2013, pada tahun 2016 bisa jadi tidak kebagian soal UN, karena pada tahun 2016 tidak ada satupun madrasah yang menggunakan soal kur 2013 untuk ujian nasional. Asosiasi CI+BI Nasional sudah berusaha mengingatkan mereka akan kekeliruan ini, tapi sayangnya mereka tidak mau memahami. Kami hanya bisa berdoa, semoga birokrat-birokrat itu menyadari kekeliruannya dan segera mengubah pemahamannya, sehingga siswa kelas aksel di madrasah tidak dirugikan.

Wallahu ‘alam

Task Commitment

Dalam acara Sudut Pandang bersama Fifi Aleyda Yahya di Metro TV tanggal 19 juli 2014, ada seorang narasumber yang menyatakan bahwa para “pengantin bom” atau pelaku bom bunuh diri di Indonesia, adalah mereka yang memiliki task commitment yang tinggi dan dapat diklasifikasi sebagai anak CI+BI. Ungkapan ini jelas tidak pas, karena bukan itu makna dari task commitment.

Seorang anak dapat diklasifikan sebagai CI+BI adalah mereka yang memiliki IQ very superior, kreativias baik dan juga task commitment yang baik

Task commitment mencakup: kemampuan mengubah motivasi menjadi tindakan (seperti ketekunan, daya tahan, dan kerja keras, rasa percaya diri, dan daya tarik khusus dengan topik tertentu). Tanpa komitmen pada tugas, prestasi tinggi sama sekali tidak mungkin. Komitmen pada tugas adalah rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang dihadapi, mendorong seseorang untuk tekun dan ulet, meskipun mengalami macam-macam rintangan dan hambatan, melakukan dan menyelesaikan tugas atas kehendak sendiri karena rasa tanggung jawab terhadap tugas tersebut.

Karakteristik atau ciri-ciri anak yang mempunyai task commitment tinggi, menurut Renzulli antara lain:

  1. Kapasitas untuk mendalami bidang tertentu yang ditekuni, antusias, keterlibatan tinggi, rasa ingin tahu tinggi pada bidang yang ditekuni;
  2. Ketekunan;
  3. Daya tahan kerja;
  4. Keyakinan diri mampu menyelesaikan tugas;
  5. Dorongan untuk berprestasi;
  6. Kemampuan mengenali masalah pada bidang yang ditekuni;
  7. Kemampuan menanggapi topik yang mutakhir terkait dengan bidang yang ia tekuni;
  8. Menetapkan standar kerja yang tinggi;
  9. Selalu bersedia melakukan introspeksi diri dan menerima kritik orang lain;
  10. Mampu mengembangkan rasa keindahan, kualitas, dan kesempurnaan pekerjaannya, maupun pekerjaan orang lain.

Tulisan ini merupakan klarifikasi sambil berharap semoga  di waktu yang akan datang jangan sampai ada lagi ada narasumber yang diundang untuk menyampaikan sesuatu gifted, tetapi tidak memiliki informasi dan kapasitas yang memadai.

PRINSIP UTAMA LAYANAN AKSELERASI

PRINSIP UTAMA LAYANAN AKSELERASI

Oleh. Amril Muhammad (Sekjend Asosiasi CI+BI Nasional)

 

Prinsip utama dalam penyelenggaraan layanan akselerasi untuk anak CI+BI adalah penerapan kurikulum diferensiasi. Kurifikulum diferensiasi kurikulum nasional dan lokal yang dimodifikasi dengan penekanan pada materi esensial dan dikembangkan melalui sistem eskalasi dam enrichment yang dapat memacu dan mewadahi secara integrasi pengembangan spiritual, logika, etika dan estetika, kreatif, sistematik, linier dan konvergen.

Pengembangan desain kurikulum bagi siswa akselerasi diperlukan karena kurikulum regular tidak mencukupi dan tidak cocok bagi siswa aksel. Hal ini disebabkan Siswa CI+BI memiliki beberapa karakter antara lain: mampu bertindak cepat (Saccuzzo, 1994), berkemampuan belajar mendalam (Davis & Rimm, 2003), berkemampuan memanipulasi konsep (Sternberg, 2003), berkebutuhan khusus dan memerlukan pembelajaran yang menantang (Baska, 2003).

Banyak dari guru menganggap sama perlakukan terhadap siswa akselerasi seperti halnya siswa regular.  Realitanya siswa akselerasi adalah berbeda baik dalam kecerdasan, kemampuan maupun minat sehingga tidak mungkin disamakan dengan siswa regular.  (Gross., 2000). Diperlukan antara lain kurikulum berdiferensiasi sebagai persyaratan pokok dalam penyelenggaraan layanan pembelajaran siswa akselerasi (Croft, 2003).

Dalam upaya menyusun kurikulum diferensiasi adalah penggunaan pendekatan peta konsep. Peta Konsep merupakan Merupakan salah satu intrumen yang digunakan untuk menata materi kurikulum agar diperoleh keterkaitan antar konsep dan keutuhan materi yang akan disajikan kepada siswa dalam satu kesatuan waktu (semester).  Dengan peta konsep siswa akan mengetahui cakupan, urutan dan seberapa banyak materi yang direncanakan akan dipelajari oleh siswa serta bagaimana hubungan antara materi satu dengan lainnya.

Peta konsep merupakan gambaran visual yang berisikan jumlah materi serta hubungan antar konsep. Peta konsep juga dinamakan dengan road map (McAleese, 1986) sebab peta konsep disamakan seperti peta jalan yang menunjukan letak tempat dan bagaimana urutan jalan yang harus diikuti bila seseorang menuju suatu tempat.

Dalam kenyataannya di lapangan, masih banyak pengelola aksel di sekolah/madrasah belum memahami bagaimana wujud kurikulum diferensiasi dan bagaimana menyusunnya. Penerapan kurikulum diferensiasi harus didukung dengan 3 dokumen perangkat pembelajaran lainnya, yaitu silabus siswa, rekam jejak siswa dan jadwal pelajaran berbasis topic atau pokok bahasan. Silabus siswa akan menggambarkan pokok-pokok bahasan yang akan dipelajari siswa yang dilengkapi dengan tugas yang harus dilakukan siswa untuk setiap pokok bahasan.

Tugas merupakan suatu aktivitas yang dilakukan siswa di luar jam tatap muka. Tugas yang diberikan kepada siswa memiliki dua tujuan, yaiatu (1) memperkuat penguasaan materi dan kompetensi siswa terhadap materi yang disampaikan pada hari ini dan (2) mempersiapkan hal-hal yang harus dibawa atau disiapkan siswa untuk pembelajaran tatap muka pada pertemuan  berikutnyea. Silabus siswa juga dilengkapi dengan informasi mengenai sumber belajar, terutama yang berasal dari buku dan dunia maya. Untuk sumber belajar dari buku, harus dijelaskan buku yang dirujuk terkait dengan judul, penulis, penerbit, tahun terbit dan halaman yang memuat materi yang dimaksud. Sedangkan untuk informasi yang terdapat di dunia maya harus mencantumkan alamat situs yang dirujuk dan akan dikunjungi oleh siswa. Dengan adanya informasi ini, maka siswa menjadi efisien penggunaan waktu di depan internet dan menghindari mereka dari kemungkinan membuka situs-situs yang tidak perlu.

Rekam jejak siswa memuat informasi tentang pokok bahasan, tanggal tuntas dari setiap siswa menyelesaikan pokok bahasan dan nilai yang diperoleh. Berdasarkan dokumen ini, siswa boleh memilih atau mengajukan diri unutk mendapatkan nilai lebih dahulu temannya sebelum materi pelajaran diberikan. Hal ini bisa terjadi karena sangat mungkin mereka sudah pernah mendapatkan materi yang sama pada jenjang pendidikan sebelumnya dan mereka sudah menguasai materi itu sebelum diajarkan oleh guru. Ketika materi pelajaran tersebut dibahas, maka siswa yang telah tuntas dapat menjadi asisten guru yang bisa membantu siswa lain untuk agar lebih mengerti materi pelajaran itu. Disinilah pendekatan tutor sebaya diterapkan. Di samping itu, dengan pendekatan semacam ini, siswa yang sudah menguasai materi lebih belajar untuk memahami konsep bahwa kehebatan seseorang baru akan bermanfaat jika bisa membantu orang lain yang belum  mampu.

Penggunaan jadwal pelajaran berbasis topic atau materi pelajaran akan mendorong siswa menjadi focus untuk mengikuti pelajaran dan mempelajari lebih dahulu materi yang akan dipelajari di kelas. Penggunaan jadwal semacam ini juga menjadi menarik, karena siswa tidak hanya mengenal nama mata pelajaran, tetapi juga mengenal pokok bahasan. Hal ini juga dapat menghindarkan siswa dari ketakutan atau kebosanan dalam melihat nama-nama mata pelajaran. Penggunaan jadwal ini juga menjadikan penerapan prinsip transparansi dalam pembelajaran bisa dilakukan. Kepala sekolah dan pengawas yang datang pada suatu ketika, akan tahu materi pelajaran yang dipelajari pada tanggal/hari atau jam terentu. Begitu pula orang tua, akan mengetahui materi pelajaran apa yang dipelajari anaknya di sekolah.

Materi pelajaran unutk kelas akselerasi Jangan terlalu menekankan pada aspek kognitif tetapi harus mendorongterjadinyaPenyeimbangan pembelajaran dilakukan dengan menyajikan aspek sintetik dan praktikal. Materi yang tercakup harus berisikan materi unggul dan problem solving. Implikasinya, guru harus mampu mengubah struktur materi pelajaran yang mengarah pada struktur materi kasus.

Coooperative learning siswa CI+BI MTsN Sumber Bungur Pamekasan

Coooperative learning siswa CI+BI MTsN Sumber Bungur Pamekasan

Selanjutnya dari segi materi, muatan dari materi pelajaran dipilah menjadi materi esensial dan non esensial. Materi esensial adalah yang harus disampaikan kepada siswa melalui bimbingan khusus atau personal kepada siswa karena dianggap penting bagi siswa.  Tingkat intensitas kepentingan materi esensi adalah wewenang guru dalam penetapannya dengan memperhatikan beberapa hal berikut : (a)  Merupakan konsep dasar yang harus dimengerti siswa untuk memahami materi selanjutnya. (b) Materi yang sering atau pasti keluar di ujian nasional dan (c) Materi yang sulit dan memerlukan bimbingan khusus oleh guru.

Materi non esensial adalah Dapat dipelajari siswa melalui penugasan dan pembahasan sepintas. Pada prinsipnya materi non esensial ini merupakan materi yang dapat dibaca dan dipahami siswa tanpa bimbingan khusus dari guru. Dalam pengelolaan materi non esensial ini siswa dioptimal dengan penggunaan IT. Oleh karena itu penyediaan sarana IT untuk kelas akselerasi bukanlah ditujukan untuk gagah-gagahan tetapi untuk mendukung efektivitas pembelajaran bagi siswa CI+BI.

Konsekuensi perapan diferensiasi dalam layanan akselerasi tidak hanya berhenti pada diferensiasi kurikulum tetapi juga domain lainnya yaitu pada pembelajaran, pada kebutuhan siswa sehingga sesungguhnya dalam melayani pembelajaran diperlukan tindakan diferensiasi pula. Tidak memberikan dampak positif kurikulum berdiferensiasi diberlakukan tetapi strategi pembelajarannya tidak menyesuaikan (Tomlinson, 2003).

Adalah kekeliruan mendasar dalam pengelolaan pembelajaran di kelas akselerasi ketika pembelajajaran yang dilakukan:

  • Tidak membedakan kecepatan belajar siswa
  • Tingkat membedakan minat dan tingkat keunggulan siswa
  • Mematikan kreativitas yang tampak siswa dilarang menggunakan cara berbeda dengan yang diajarkan
  • Guru Tidak memahami sensitivitas sosial emosional siswa
  • Tidak memberi ruang yang cukup bagi anak beraktivitas
  • Anak dipaksa belajar dengan modul yang hanya berfokus pada ringkasan materi dan latihan soal. Hal ini akan mereduksi penguasaan materi pelajaran oleh siswa. Belum lagi seringkali modul yang digunakan adalah hasil produksi guru yang bersifat plagiat dan tidak dilakukan penilaian oleh ahli bidang substansi materi dan metodologi.

Selanjutnya dalam penilaian, harus mengacu pada Mengacu pada indikator yg disusun dalam silabus, Lebih menekankan pada produk dan hasil karya. Selanjutnya penilaian juga Minimalisasi pada paper & pencil test, Minimalisasi soal pilihan ganda, jika dilakukan arahnya kemampuan analisis siswa seperti soal yang menggunakan model sebab akibat. Jika ada yang materi tidak dikuasai siswa kemudian berdampk mereka mendapat mungkin dapat nilai jelek, maka  remedial langsung dilakukan setelah hasil diketahui. Soal ujian berbeda juga dapat dibuat berbedasehingga dapat  menghindari dari perilaku mencontek. Selanjutnya Penilaian sikap/budi pekerti dilakukan pada saat proses belajar dan kerja siswa berlangsung.

Apabila prinsip-prinsip di atas diterapkan oleh sekolah/madrasah penyelenggara layanan akselerasi, maka layanan itu akan menjadi efektif. Tetapi bila tidak dipahami dan tidak dilakukan, maka layanan akselerasi yang dilakukan menjadi keliru, dan menjadikan layanan akselerasi dengan menu regular. Hal ini lah yang kemudian memunculkan salah paham terhadap layanan akselerasi yang dianggap hanya mempercepat penyelesaian studi, tanpa memahami substansi.

Dalam konteksi inilah, maka Asosiasi CI+BI nasional memberikan pelatihan ke sekolah/madrasah dalam bentuk Inhouse training, agar semua warga sekolah/madrasah memahaminya.  Sasaran pelatihan, bukan saja guru, tetapi juga orang tua dan siswa. Berikut ini adalah daftar sekolah/madrasah yang telah mengikuti pelatihan penyusunan kurikulum diferensiasi, yaitu:

  1. SDN 07 Kota Ciamis
  2. SD Al Azhar BSD
  3. SMPN 3 Cilacap
  4. SMPN 2 Dumai
  5. SMPN 1 Cisaat Sukabumi
  6. SMPN 1 Pangandaran
  7. SMPN  1 Tasikmalaya
  8. SMP Al Azhar BSD
  9. SMAN 1 Purwokerto
  10. SMAN 2 Dumai
  11. SMA Dharma Loka Pekanbaru
  12. SMA Don Bosco Padang
  13. SMAN 81 Jakarta
  14. SMAN 3 Salatiga
  15. SMAN 7 Kediri
  16. MTs PPMI Assalam Sukoharjo
  17. MTsN Sumber Bungur  Pamekasan Madura
  18. MTsN Pajarakan Probolinggo
  19. MTsN Denanyar Jombang
  20. MTsN Pare Kediri
  21. MTsN Kunir Blitar
  22. MTsN Temboro, Magetan
  23. MTsN Kota Madiun
  24. MTsN Lumajang
  25. MTsN Paron 2 Ngawi
  26. MTsN Tanjung tani Nganjuk
  27. MTsN Bangkalan Madura

Kita berharap sekolah/madrasah yang lain akan segera melakukan pelatihan ini, agar para guru memahami dan terampil dalam mengelola kurikulum, pembelajaran dan penilaian terkait dengan layanan akselerasi di sekolah/madrasah.

bareng pengurus aksel tanjung tani

IHT Aksel di MTsN Sumpa

Kurikulum 2013 untuk kelas Akselerasi

UNTUK SEKOLAH…
yang menjadi piloting penerapan K-13 pada mulai tahun 2013, maka pada tahun pelajaran 2014/2015 kelas sudah menerapkan K-13. siswa aksel ini akan mengikuti UN dengan K-13 pada tahun 2016.

Sedangkan sekolah yang baru tahun 2014 ini menerapkan K-13, maka kelas aksel baru menggunakan K-13 pada tahun 2015. siswa ini akan mengikuti UN K-13 pada tahun 2016.

Untuk madrasah, kelas aksel baru akan menggunakan K-13 pada tahun 2015, karena ujian nasional dengan K-13 di madrasah baru dilakukan pada tahun 2017.

 

Tujuan Aksel

TUJUAN program akslelerasi untuk anak CI+BI:

  1. menyesuaikan kecepatan belajar dengan kemampuan siswa CI+BI
  2. Memberikan tantangan belajar pada tingkatan yang sesuai untuk menghindari kejenuhan belajar akibat dari pembelajaran yang diulang-ulang
  3. mengurangi waktu untuk menyelesaikan sekolah secara tradisional

Sumber: NAGC

Bersama siswa CI+BI di kelas Aksel MTsN Lumajang

Bersama siswa CI+BI di kelas Aksel MTsN Lumajang