Indonesia punya 1,3 juta anak istimewa

JAKARTA: Indonesia memiliki sekitar 1,3 juta anak usia sekolah yang berpotensi cerdas istimewa dan bakat istimewa (CIBI) atau gifted-talented. Namun dari jumlah itu, baru 9.500 anak (0,7%) yang mendapat layanan khusus dalam bentuk program percepatan. “Itu data tahun lalu, 2009, dan masih sangat banyak siswa CIBI belum memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan mereka,” kata Sekjen Asosiasi Penyelenggara, Pengembang, dan Pendukung Pendidikan Khusus untuk Siswa Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (Asosiasi CIBI) Nasional, Amril Muhammad di Jakarta, hari ini.

Dia menyebutkan sejumlah ciri anak gifted-talented antara lain kecerdasan intelektualnya sangat superior, seperti skor IQ (intelligence quotient) lebih dari 130, dengan skala Wechsler. Amril mengatakan akselerasi ada dua macam, yaitu percepatan berbasis kontens dan percepatan berbasis gradasi.

Percepatan kontens adalah kemampuan per bidang, sedangkan grade adalah percepatan sekolah 3 tahun bisa ditempuh hanya 2 tahun. “Dibutuhkan perhatian khusus untuk menangani tipe anak cerdas ini dan hal ini tidak dimaksudkan untuk melakukan diskriminasi, tetapi semata-mata untuk memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa,” kata Amril.

Saat ini, dari 260.471 sekolah, baru 311 sekolah yang memiliki program layanan khusus bagi anak CIBI, termasuk 10 madrasah di Jawa Timur. Sekolah ini tersebar di 22 provinsi, baik sekolah negeri maupun swasta. Sekolah yang memiliki program ini terbanyak di Provinsi Jawa Timur.

Keunggulan siswa Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Namun bibit unggul yang diasah dari sekolah Indonesia itu kemudian diambil oleh perguruan tinggi di negara luar, seperti dari Singapura, Malaysia, AS, dan sekarang Korea Selatan mulai agresif. “Ada sekitar 300 orang lebih bibit unggul kita yang diambil oleh negara luar, karena mereka mampu memberikan iming-iming kesejahteraan melebihi dari kita,” kata Amril, yang juga dosen Jurusan Manajemen Pendidikan FIP Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Amril menyebutkan bibit unggul yang diambil itu terutama berada di kota besar seperti Malang, Semarang, Jakarta, Bandung, dan Makassar. Bahkan di Singapura, mereka ditawari bekerja sampai usia 55 tahun, sehingga usia produktifnya habis baru dikembalikan ke Indonesia. “Nah andaikan kita bisa melakukan yang terbaik untuk mereka, dipastikan Indonesia akan berkembang,” katanya.

Padahal, perkembangan suatu negara di dunia itu tentu bukan karena orang lain tapi oleh warganegaranya sendiri. Oleh karena itu pemerintah dan orang tua perlu memberikan kesadaran pada anak-anak tersebut untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya. “Untuk menjawab masalah ini seluruh pemangku kebijakan perlu membuat program komprehensif bagi anak-anak berbebutuhan khusus ini.

Jika hanya menunggu maka masalah tak akan terpcahkan. Siswa RI kini merajai berbagai olimpiade sains, jadi jangan ada yang dibajak negara lain,” tegas Amril.(Bisnis Indonesia/JIBI/Hilda Sabri Sulistyo)

http://www.harianjogja.com/beritas/detailberita/Luar/19989

Iklan