KOnaspi CI+BI 2012

Kebutuhan pendidikan anak cerdas masih belum diperhatikan serius.

 

JAKARTA – Masih banyak anak-anak usia sekolah yang memiliki potensi Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (CI+BI) belum mendapat layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Di Indonesia, ada sekitar 1.305.000 anak usia sekolah yang memiliki potensi CI+BI. Namun, setiap tahun hanya 6.500-7.000 anak yang mendapat pendidikan khusus dalam bentuk program akselerasi.

Sayangnya, layanan pendidikan yang diberikan juga belum optimal. Kurikulum dan pembelajaran yang diberikan relatif sama dengan siswa reguler. Ketidakoptimalan pendidikan tersebut dapat menyebabkan potensi kecerdasan dan bakat istimewa tidak berkembang dengan baik.

“Hal ini membutuhkan perhatian pemerintah, pendidik, orang tua, dan masyarakat untuk memahami kondisi tersebut serta mencari jalan keluar agar pelayanan pendidikan untuk siswa CI+BI menjadi lebih optimal dan efektif dari waktu ke waktu,” kata Salamun, Presidium Asosiasi CI+BI Nasional di Jakarta, Selasa (11/12).

Dia menyampaikan hal itu saat Konferensi Nasional Pendidikan CI+BI 2012 bertema “Menjadikan Anak Cerdas+Berbakat Istimewa Menjadi Generasi Emas Indonesia”, Selasa. Tema tersebut dipilih untuk menyiapkan generasi emas dalam menyongsong kemerdekaan Indonesia yang ke-100 tahun.

Asosiasi CI+BI Nasional memiliki tujuan meningkatkan kapasitas kelembagaan penyelenggara pendidikan khusus bagi siswa CI+BI. Selain itu, Asosiasi CI+BI berharap bisa meningkatkan peluang bagi siswa CI+BI untuk memperoleh akses terhadap layanan pendidikan yang bermutu.

Dengan demikian, diharapkan pula masyarakat dapat memahami dan menyadari pentingnya pendidikan khusus bagi siswa CI+BI. “Terutama pola pemikiran sebagian masyarakat akan anak-anak dianggap ‘terlalu muda’ untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari anak-anak sebayanya,” katanya.

Sumber : Sinar Harapan
Iklan

Sekolah Harus Bisa Maksimalkan Potensi Anak CI + BI

Setiap anak dilahirkan dengan potensi masing-masing. Dan, diantara mereka pasti ada anak yang mempunyai kecerdasan dan bakat diatas rata-rata. Kemampuan itulah yang disebut dengan kemampuan Givted talented atau Cerdas berbakat istimewa yang disingkat CI plus BI. Untuk membina anak dengan kecerdasan khusus ini, pembelajaran formal seperti yang diterapkan pada kebanyakan anak tidak bisa diterapkan. Karena anak dengan kecerdasan istimewa akan cenderung bosan karena kurangnya tantangan yang diberikan oleh pembelajaran umum di sekolah-sekolah formal.

Untuk itu, kebutuhan akan kelas akselerasi di Indonesia semakin tinggi adanya dan harus menjadi kesadaran pihak sekolah. Keterangan tersebut diungkapkan Amril Muhammad, Sekjen Asosiasi CI + BI Nasional dalam seminar Pengembangan Pembelajaran untuk anak CI + BI yang digelar oleh MAN I Bojonegoro.

Dalam seminar yang diikuti perwakilan guru dan kepala sekolah Madrasah Aliyah se-kab Bojonegoro itu, dijelaskan juga berbagai criteria dan perbedaan antara anak yang pintar dan anak yang cerdas. Sehingga, kebutuhan akan kelas akselerasi sangat penting adanya. Sebagaimana yang telah dikenal public, ciri-ciri anak pintar diantaranya adalah anak yang rajin, mau belajar dengan keras, mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, anak yang berperilaku baik dan selalu meraih nilai yang baik disekolah.

Sedangkan anak cerdas istimewa biasanya malah didominasi dengan ciri-ciri anak yang suka mempertanyakan banyak hal, kritis, suka melakukan eksperimen dan sebagainya, hanya saja anak cerdas memiliki kemampuan yang jauh diatas rata-rata anak pada umumnya. Untuk itu, sekolah dan pemerintah harus bisa mengakomodir kebutuhan anak-anak istimewa tersebut. Karena apabila tidak dibina dengan baik, anak-anak cerdas itu akan dibawa keluar negeri atau terjebak pada pergaulan yang salah. (fan

Ironi Anak Cerdas yang Terabaikan

Pengadilan Koroner Singapura, Rabu (29/7), menetapkan kematian David Hartanto Widjaja, mahasiswa Universitas Teknologi Nanyang (NTU) Singapura, yang tewas awal Maret lalu, adalah perbuatan bunuh diri. David (22) adalah mahasiswa genius asal Indonesia di jurusan elektronik yang pernah memenangi olimpiade matematika di Meksiko 2005. Keluarga David yang hadir dalam sidang tersebut keluar dari persidangan sebelum hakim Victor Yeoh membacakan secara tuntas keputusannya. ”Kami sudah tahu, keputusan hakim pasti suicide (bunuh diri).

Sejak awal persidangan ini sudah diarahkan sebagai bunuh diri, bukan dibunuh,” kata Hartono Widjaja, ayah David. Hartono mengatakan, keluarga tidak akan menang karena yang dihadapi adalah sebuah tembok bernama Pemerintah Singapura. ”Seharusnya Pemerintah Indonesia membantu dan mendukung perjuangan kami.

Ada anak bangsa mendapat musibah di negeri orang, tetapi tidak secuil pun bantuan yang diberikan pemerintah. Padahal anak bangsa ini pernah mengharumkan nama Indonesia,” katanya. Hartono mengakui, selama ini Kedutaan Besar RI di Singapura selalu mendampingi keluarga di persidangan, tetapi tidak ada bantuan hukum atau dukungan diplomasi antarpemerintah yang diberikan Pemerintah RI.

Kasus putusan pengadilan Singapura terhadap kematian David di negeri singa itu, menunjukkan aib ketidakpedulian Pemerintah Indonesia terhadap aset bangsa dan sumbangsih aset tersebut untuk bangsa. Fenomena ini menjadi penguat tidak jelasnya arah pembangunan masa depan bangsa Indonesia. Penyebabnya, bisa jadi karena urusan masalah “internal” penyelesaian problem ketidakbecusan mengurus SDM anak-anak cerdas di dalam negeri saja belum terwujud.

Menurut Amril Muhammad, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara, Pengembang, dan Pendukung Pendidikan Khusus untuk Siswa Cerdas/Berbakat Istimewa (Asosiasi CB/BI), di Jakarta, Rabu (28/1), terdapat sekitar 2,2 persen anak usia sekolah yang memiliki kualifikasi cerdas istimewa. Dan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006, ada 52,9 juta anak usia sekolah. Artinya, terdapat sekitar 1,05 juta anak cerdas/berbakat istimewa di Indonesia. Akan tetapi, jumlah siswa cerdas/berbakat istimewa yang sudah terlayani di sekolah akselerasi masih sangat kecil, yaitu 4.510 orang. Ini menunjukkan, baru sekitar 0,43 persen siswa cerdas/berbakat istimewa yang terlayani. Namun, layanan pendidikan yang didapatkan anak-anak cerdas istimewa ini belum mampu memunculkan keunggulan mereka. “Kompetensi anak-anak ini tidak menonjol, baru sekadar mengembangkan kepintaran. Karena itu, harus ada perbaikan dalam layanan pendidikan pada anak-anak ini,” kata Amril.

Belum optimalnya potensi kebijakan pemerintah mengakomodasi anak-anak cerdas istimewa di kelas-kelas akselerasi, menurut Amril, bukanlah satu-satunya metode yang tepat. Sebab, kebutuhan yang dipenuhi baru pada cepatnya selesai masa studi, belum pada pengembangan potensi serta keunggulan kompetensi anak-anak tersebut. Amril menambahkan, banyak anak cerdas istimewa di daerah justru merasa enggan memilih kelas akselerasi. Ada ketakutan jika mengikuti metode yang ditawarkan pemerintah saat ini, mereka akan tertekan dan kehilangan masa remaja mereka.

Ekodjatmiko Sukarso, Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa Depdiknas, mengakui jika penanganan terhadap anak-anak cerdas/berbakat istimewa yang sebenarnya diamanatkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Perlindungan Anak belum optimal.

Citra kelas akselerasi yang selama ini diandalkan untuk melayani anak-anak ini justru belum dirasakan manfaatnya karena keistimewaan mereka tidak terlihat. Menurut Ekodjatmiko, pembenahan sudah mulai dilakukan dalam layanan pendidikan di kelas-kelas akselerasi. Anak-anak cerdas istimewa dengan IQ di atas 125 itu belajar bersama untuk bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Di luar mata pelajaran tersebut, anak-anak cerdas istimewa bergabung dengan siswa reguler lainnya.

Butuh Layanan Khusus Menurut data, baru 9.551 siswa cerdas dan berbakat istimewa mendapat layanan khusus di sekolah. Diperkirakan ada 2,2 persen anak usia sekolah atau 1,05 juta anak sekolah memiliki kualifikasi cerdas istimewa. Amril menilai, berbeda dengan anak berkebutuhan khusus yang mendapat pelayanan melalui sekolah luar biasa (SLB) dan anak normal di sekolah umum, anak cerdas dan berbakat istimewa belum mendapat pelayanan terbaik.

Pelayanan terbaik itu bisa beragam bentuk. Tahap awal, kecerdasan dan bakat anak dinilai. Nilai itu dijadikan dasar penyusunan program individual oleh guru dan psikolog pendamping. Jenis pelayanan yang ada baru kelas akselerasi di 318 sekolah. Padahal juga dibutuhkan penguasaan substansi. Adapun kemampuan verbal dan komunikasi juga harus baik agar apa yang mereka sampaikan mewakili kecerdasan mereka.

Program pengayaan juga dibutuhkan sesuai dengan minat anak. Dia menyarankan, setiap kota dan kabupaten setidaknya memiliki satu sekolah khusus anak cerdas dan berbakat, tidak perlu mahal, tetapi dikelola guru yang kompeten dan kreatif. ”Anak-anak itu butuh ruang berekspresi dan bereksperimen sesuai kecerdasan dan bakatnya. Lepas dari kekakuan birokratisasi pendidikan,” ujarnya.

Sementara menurut Fisikawan Prof Yohanes Surya, potensi ribuan anak genius kurang terasah baik. Diduga beberapa penyebabnya adalah karena pengajaran kurang baik dan pelajar kurang dimotivasi agar mengeluarkan kemampuan terbaik. Surya mengatakan, penelitian di dunia menyebutkan, ada satu orang genius dari setiap 11.000 orang. Jadi dari 230 juta penduduk Indonesia, ada sekitar 20.900 orang jenius. ”Mereka punya IQ minimal 160 atau setara Einstein,” ujarnya.

Anak Indonesia yang semula tak pernah menang kompetisi tingkat dunia kini sering memetik medali emas pada kompetisi sains dunia. Dia membuktikan itu dengan mendidik anak-anak pedalaman Papua. ”Mereka perlu motivasi untuk memunculkan kemampuan terbaik. Manusia secara naluriah perlu berada dalam kondisi kritis untuk bisa mengeluarkan potensi terpendamnya,” ujarnya.

 Prestasi Tak Dihargai

Meski kurang diperhatikan, ternyata tak sedikit prestasi yang terus ditoreh anak-anak Indonesia untuk mengharumkan negeri ini. Baik di ajang regional maupun internasional. Seperti ajang IMO yang baru mulai diikuti utusan Indonesia sejak 1998, tapi telah berhasil mengumpulkan 3 medali perak, 12 perunggu, dan 25 penghargaan (honourable mentions), seperti diberitakan di situs resmi penyelenggaranya, http://www.imo-official.org. Bahkan telah banyak torehan sejarah lain yang dibuat oleh ACI, seperti: Jonathan Pradhana Mailoa, yang menjadi juara utama (The Champion) pada Olimpiade Fisika Dunia ke 37 di Singapura tahun 2006. Jonathan mendapatkan nilai tertinggi (The Absolute Winner) baik dalam ujian teori maupun eksperimen dengan nilai 29,7 untuk ujian teori dan 17,10 dalam eksperimen. Ia mengalahkan saingan utama Yang Suo Long dari China yang meraih nilai 29,6 untuk teori dan 16,45 untuk eksperimen.

Prestasi Jonathan termasuk istimewa karena mengalahkan 385 siswa terbaik dunia yang mewakili 84 negara. Lalu, Septinus George Saa pemenang First Step to Nobel Prize in Physic (semacam nobel “junior” untuk bidang fisika tingkat dunia). Di usianya yang ke-17, siswa kelas tiga SMA Negeri 3 Buper, di Jayapura, Papua ini berhasil menjadi juara dengan riset berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Network of Identical Resistor. Dengan riset tersebut, ia menemukan cara menghitung hambatan antara dua titik rangkaian resistor tak hingga yang membentuk segitiga dan hexagon.

Yogi Ahmad Erlangga, pemecah rumus persamaan matematika Helmholtz. Alumni jurusan penerbangan ITB, yang kini menjadi dosen di jurusan yang sama ini lebih dikenal sebagai ilmuan matematika Belanda (Dutch Matmatichisian), tempat di mana ia menyelesaikan riset S3. Metoda Yogi tersebut dapat digunakan untuk menemukan minyak bumi 100 kali lebih cepat dari sebelumnya, sebagaimana dinyatakan oleh perusahaan minyak internasional, Shell.

Yogi menggunakan metode dengan cara membuat profil 3 dimensi dari cadangan minyak, berdasarkan metode numeric untuk persamaan Helmholz. Selain itu, penemuan Yogi juga digunakan dalam perancang Blu-Ray, keping DVD super yang memiliki kapasitas puluhan Giga Bytes (GB)

http://majalahqalam.com/features/feature-pendidikan/ironi-anak-cerdas-yang-terabaikan/

Anak Berbakat Istimewa Perlu Diperhatikan

Di Indonesia, terdapat 1,3 juta anak usia sekolah kategori cerdas istimewa dan berbakat istimewa (CI+BI). Dari jumlah itu, baru 9.500 di antaranya yang mendapat layanan sesuai kebutuhannya. Demikian ujar Sekjen Asosiasi CI+BI Nasional, Amril Muhammad, Kamis (24/2). Ia hadir sebagai pembicara seminar “Pengenalan dan Pelayanan Terhadap Anak Berbakat Istimewa”.

Bertempat di Balai Islamic Village, Tangerang, Banten, acara dihadiri puluhan guru dan orangtua. Pada kesempatan itu, Pak Amril menyayangkan minimnya layanan pendidikan khusus anak CI+BI. Menurutnya, anak CI+BI butuh percepatan (akselerasi) proses belajar-mengajar. Sebab, mereka memiliki kemampuan 3—4 kali lebih cepat dibanding anak seusianya. Sayang, kini baru 311 sekolah dari total 260.471 sekolah yang punya layanan untuk anak CI+BI.

“Akselerasi tidak dimaksudkan untuk menimbulkan perbedaan. Tapi, untuk memberi layanan pendidikan sesuai kebutuhan anak CI+BI,” jelas Pak Amril. Ia khawatir, jika tidak difasilitasi dengan baik, potensi anak CI+BI justru dinikmati oleh bangsa lain. Kini, 300 anak CI+BI memilih berkarya di luar negeri setiap tahunnya setelah lulus sekolah di Indonesia.

Penerimaan yang Utama 

Hadir dalam seminar, salah satu anak CI+BI, Satrio Wibowo. Ia telah aktif melukis saat usia 2 tahun dan berbicara dalam bahasa Inggris saat 4 tahun. Saat usia 12 tahun, ia berhasil menulis novel fantasi berbahasa Inggris. Kini, ia pun tengah mengasah bakat main piano. Semua itu dilakukan secara autodidak. Ia berpendapat, orangtua dan guru harus peduli pada anak CI+BI. Sebab, potensi anak CI+BI perlu diterima dan didorong dengan penuh kasih.

Meski sempat dianggap aneh karena potensinya, Satrio tak patah semangat. Ia ingin terus berkarya sambil meneruskan studi secara home schooling. Sang Ibu, Yeni Sahnaz, mengatakan, “Menerima anak CI+BI apa adanya adalah yang utama. Orangtua juga harus mendukung potensi anak, bahkan dari hal-hal terkecil.”
Liputan/penulis: ITA

http://www.berani.co.id/Artikel_Detail.aspx?ID=4924

Guru MAN 1 Bojonegoro Dialog Tentang CIBI

GAYA mengajar guru yang masih menyamaratakan dalam menghadapi anak didiknya, dirasa dapat berakibat pada terhambatnya optimalisasi potensi siswa. Terutama pada potensi anak didik yang masuk dalam kategori Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa (CIBI). Hal itu diungkapkan oleh Oleh Amril Muhammad Sekretaris Jendral CIBI nasional dalam dialog dengan Guru MAN 1 Bojonegoro di Aula MAN 1 pada tanggal 28 Pebruari 2011.

“Diantaranya adalah masih ada guru yang melarang anak didiknya dalam menggunakan cara yang berbeda dengan ajaran guru,” terangnya. Selain hal tersebut, masih banyaknya guru yang kurang memahami sensitivitas sosial emosional anak didiknya, serta tidak memberi ruang yang cukup juga mempengaruhi perkembangan anak didik yang masuk dalam kategori CIBI tersebut.

Diikuti oleh sekitar 50 tenaga pengajar di sekolah tersebut, Amril beranggapan bahwa seorang guru diharapkan bisa menjadi pendamping anak anak dalam belajar. “Sehingga persepsi anak harus mendapatkan pelajaran dari guru mulai sekarang harus di ubah,” tambahnya.

Amril Muhammad Sekretaris Jendral CIBI nasional menambahkan sedikitnya ada 3 hal yang diperlukan dalam pengembangan anak CIBI. Yang pertama adalah pengembangan proses belajar mengajar yang disediakan oleh sekolah dan guru.

“Selain itu, pengembangan komunitas lingkungan sosial yang memahami perilaku anak CIBI dan dapat mengarahkan anak CIBI semakin matang di masa depan,” tambahnya. Faktor ketiga adalah penelitian mengenai proses belajar mengajar dan desain kurikulum yang dibutuhkan oleh anak CIBI.

Dikatakan pula oleh Amril, tenaga guru CIBI harus terbuka dalam perubahan, serta mampu bekerja sama dengan pihak terkait dan fleksibel dalam berfikir.  (Kominfo02/JK/rio)

http://www.bojonegorokab.go.id/index.php/component/content/article/1037-guru-man-1-dialog-tentang-cibi

Anak “Gifted” Tak Sekadar Cerdas

JAKARTA, KOMPAS.com – Seorang anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (CI+BI) atau gifted berbeda dengan anak cerdas. Slamet Rahardjo, budayawan sekaligus pemerhati anak gifted menyampaikan bahwa anak gifted memiliki kemampuan abstraksi, analisis, dan kreativitas yang jauh luar biasa dibanding anak cerdas.

Dalam dialog kebudayaannya di acara Malam Peduli Anak Duafa Berbakat, Senin (16/8/2010) malam, di Jakarta, Slamet mencontohkan perbedaan anak gifted dengan anak cerdas. “Secara karakteristik mereka (gifted) sangat waspada. Positifnya, cepat mengetahui ada masalah. Negatifnya, senang mengoreksi. Mereka juga memiliki selera humor yang tinggi. Positifnya, mampu menertawakan diri sendiri. Negatifnya, membuat lelucon dengan mengorbankan orang lain,” kata Slamet.

Selain itu, seorang anak cerdas, lanjut Slamet akan menjawab pertanyaan dengan benar. Sementara anak gifted akan mempersoalkan suatu pertanyaan. “Anak cerdas berminat dengan sesuatu, namun anak gifted penasaran akan sesuatu,” katanya.

Kemudian, anak cerdas memiliki gagasan yang bagus dan populer sementara anak gifted memiliki gagasan yang konyol, aneh, dan di luar keumuman. “Maka anak gifted seringkali menjadi inisiator,” ujar Amril Muhammad, pengajar Cugenang Gifted School, sekolah yang dirancang untuk mengkomodasi kebutuhan anak gifted.

Seorang anak gifted bukanlah anak yang rajin belajar, berbeda dengan anak cerdas. Namun hasil ujian mereka selalu bagus. “Ketika ujian, anak cerdas menjawab soal sesuai yang ditanyakan tapi gifted memperluas konteks jawaban,” kata Slamet.

Perbedaan lainnya, anak cerdas menyukai linearitas sementara anak gifted menyukai kompleksitas. Anak cerdas adalah pemerhati yang baik sedangkan anak gifted adalah pengamat yang kritis.

Untuk menguasai materi, anak cerdas membutuhkan 6-8 kali pengulangan sementara gifted hanya butuh 1-2 kali pengulangan. Anak cerdas dapat memahami gagasan orang lain dengan baik sementara gifted membentuk gagasannya sendiri.

Siswa Aksel SMPN 3 Cilacap

Saat anak cerdas menyelesaikan tugas yang diberikan, gifted lebih senang memulai proyeknya sendiri. “Mereka bagus menciptakan sesuatu yang baru,” kata Amril.

Kemudian seorang anak gifted, kata Amril, lebih senang bergaul dengan orang dewasa dibanding anak sebaya. Adapun kemampuan anak gifted menurut Amril mencapai 4 kali anak biasa.Mereka memiliki kecerdasan intelektual very superior atau skor IQ di atas 130.

Tingkat kreativitas dan komitmen kerja anak gifted pun luar biasa. Dengan perkembangan motorik yang melebihi anak biasa, gifted memiliki daya serap yang tinggi juga daya lontar yang tinggi.

“Maka mereka cenderung terlihat nakal dan penasaran tinggi, tidak bisa diam,” imbuh Amril.

Oleh karena itulah, metode pendidikan bagi anak gifted tidak dapat disamakan dengan anak biasa atau anak cerdas. “Kita memberikan informasi-informasi saja yang dapat mereka akses sendiri,” tutur Amril.

http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/17/17564653/Anak.Gifted.Tak.Sekadar.Cerdas

Kenali Anak Cerdas dan Berbakat Istimewa

KOMPAS.com – Jika anak Anda kelewat nakal dan tidak bisa diam, jangan berpikiran buruk dulu tentangnya. Bisa jadi anak Anda adalah satu dari sekitar 1,3 juta anak berbakat istimewa dan cerdas istimewa (gifted talented) atau juga disebut anak-anak CI+BI di Indonesia.

Dialog Sekjen Asosiasi CI+BI Nasional dengan Siswa Aksel SMAN 2 Sengkang Sulawesi Selatan

Menurut Amril Muhammad, seorang pengajar di Cugenang Gifted School, salah satu sekolah yang khusus dirancang untuk anak-anak berbakat tersebut, seorang anak gifted memiliki kecenderungan lebih nakal dari anak sebayanya. Mereka memiliki rasa penasaran yang lebih dan cenderung senang bergaul dengan orang dewasa.

“Itu salah satu ciri-ciri luar yang dapat diperhatikan,” kata Amril usai menghadiri Malam Peduli Anak Duafa Berbakat, di Jakarta, Senin (16/8/2010) malam.

Selain ciri-ciri luar tersebut, kata Amril, seorang anakgifted dapat dikenali dari kecerdasan intelektualnya yang very superior dengan skor IQ di atas 130. “Pada lembar identifikasi dini, mereka memiliki kecepatan menyerap lebih dari teman sebayanya, seperti lebih cepat membaca,” katanya.

Skor yang tinggi juga terlihat pada tes kreativitas dan komitmen kerja. Seorang anak gifted, kata Amril, memiliki ketertarikan kerja atau komitmen kerja yang luar biasa terhadap pekerjaan yang dia senangi.

“Misalnya saja dia senang main play station. Maka dia akan main terus, tidak berhenti,” katanya. Dan jika kesenangannya tersebut diusik, maka anak gifted akan mengerahkan kreatifitasnya yang luar biasa. “Kalau dihalangi orangtua misalnya, kabel play station-nya dicabut, maka dia akan penasaran, dia utak-utik, sampai akhirnya bisa disambung lagi kabel itu,” ujar Amril.

Sedangkan secara fisik, seorang anak gifted, menurut Amril, dapat dikenali dari tinggi badannya saat lahir. Tinggi badan anak gifted sejak lahir berkisar 53-54 sentimeter. “Space otak anak gifted lebih besar dari anak lain,” tambahnya.

Meskipun memiliki perkembangan motorik kasar yang melebihi batas normal, anak gifted tertinggal dalam perkembangan motorik halus. Mereka, kata Amril, umumnya kesulitan menulis saat masuk sekolah dasar.

“Anak gifted sangat perfeksionis sehingga perkembangan kognitif yang luar biasa sulit disalurkan dalam tulisan,” ucap Amril.

Kecenderungkan teguh pendirian, tidak takut mengerjakan apa yang dia yakini menjadi potensi sukses seorang anak gifted. Mereka memiliki kelebihan empat kali dari anak lainnya.

Namun, jika tidak dikenali, dibimbing, dan difasilitasi dengan pendidikan yang tepat, maka kelebihan anak gifted tersebut dapat menjadi negatif. “Salah satunya ya itu teroris Imam Samudra, saya pernah bicara dengan dia, dan memang dia termasuk gifted. Dan yang positif, Ibu Sri Mulyani,” imbuh Amril.

http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/17/15125953/Kenali.Anak.Cerdas.dan.Berbakat.Istimewa