Sambutan Sekjend Asosiasi CI/BI Nasional dalam Deklarasi Asosiasi CI/BI Malang Raya

100_2125

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua
Yth. Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang
Yth. Dekan FMIPA Unbra, Dekan F.Psi UMM, Dekan FPSi Unmer
Yth. Para Kepala Sekolah Penyelenggara Program CI/BI
Yth. Para Pengurus dan Anggota Asosiasi CI/BI Malang Raya
Undangan sekalian yang berbahagia

Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita bisa hadir bersama-sama di tempat yang sangat istimewa ini, dalam acara deklarasi Asosiasi Penyelenggara, Pengembang, dan Pendukung Pendidikan khusus untuk Siswa Cerdas/berbakat Istimewa atau Asosiasi CI/BI cabang Malang Raya.

Bapak/ibu hadirin sekalian yang berbahagia

UU no. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 5 ayat 4 menyebutkan bahwa warga negara yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.
Perlunya perhatian khusus kepada siswa yang memiliki kecerdasan istimewa melalui sekolah-sekolah yang didirikan untuk itu dapat dianggap selaras dengan fungsi utama pendidikan, yaitu mengembangkan potensi siswa secara utuh dan optimal.
Strategi pendidikan yang ditempuh selama ini bersifat masal memberikan perlakuan standar/rata-rata kepada semua siswa sehingga kurang memperhatikan perbedaan antar mereka dalam kecakapan, minat, dan bakatnya. Dengan strategi semacam ini, keunggulan akan muncul secara acak dan sangat tergantung kepada motivasi belajar siswa serta lingkungan belajar mengajarnya. Oleh karena itu perlu dikembangkan keunggulan yang dimiliki oleh siswa agar potensi yang ada menjadi prestasi yang unggul.

Pengembangan potensi tersebut memerlukan strategi yang sistematis dan terarah. Tanpa layanan pembinaan yang sistematis terhadap siswa CI/BI, bangsa Indonesia akan kehilangan kekayaan SDM yang tidak terukur nilainya. Perhatian khusus tersebut tidak dimaksudkan untuk melakukan diskriminasi, tetapi memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa.

Melalui penyelenggaraan pendidikan khusus bagi siswa CI/BI, diharapkan potensi-potensi yang selama ini belum dikembangkan secara optimal, akan tumbuh dan menunjukkan kinerja yang terbaik. Kondisi ini pada gilirannya akan dapat memberi kontribusi terhadap peningkatan kehormatan dan nama baik bangsa Indonesia di antara bangsa-bangsa lain di dunia.

Hadirin yang terhormat…………………
Kebijakan pemerintah dibidang pendidikan untuk anak CI/BI telah dilaksanakan sejak tahun 1974. Bentuknya antara: PPSP/sekolah lab, sekolah unggul, sekolah plus, sekolah percontohan, dan yang terakhir adalah program akselerasi. Namun kebijakan itu dari waktu ke waktu terus berganti tanpa ada kesinambungan. UU no. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara gamblang telah menyebutkan bahwa siswa CI/BI berhak mendapat pendidikan khusus. Meskipun UU tersebut sudah berlaku sejak 5 tahun yang lalu, namun sampai saat ini layanan pendidikan semacam itu masih belum optimal.

Diperkirakan terdapat sekitar 2,2% anak usia sekolah memiliki kualifikasi cerdas istimewa. Menurut data BPS tahun 2006 terdapat 52.989.800 anak usia sekolah. Artinya terdapat sekitar 1.059.796 anak CI/BI di Indonesia. Jumlah siswa CI/BI yang sudah terlayani di sekolah akselerasi masih sangat kecil, yaitu 4510 orang (data Dit. PSLB tahun 2006/7) yang berarti baru 0,43% siswa CI/BI yang terlayani. Jika ditelaah lebih dalam, ternyata jumlah siswa CI dalam program akselerasi di bawah 50%. Lebih banyak yang non CI/BI. Artinya masih banyak sekali siswa CI/BI yang belum teridentifikasi dan belum terlayani

Saat ini sudah ada lembaga/sekolah, standar isi bagi pendidikan khusus bagi anak berkelainan/cacat (sejak tahun 2006) yang kemudian dilengkapi dengan Permendiknas tentang Prosedur operasional standar UN, standar proses, standar sarana, dan standar penilaian.
Hal demikian tidak terjadi pada pendidikan khusus untuk siswa CI. Siswa CI memperoleh muatan kurikulum yang sama dengan siswa reguler, dan hanya memperoleh peluang untuk mempercepat penyelesaian studi (program akselerasi). Hal ini mengakibatkan potensi kecerdasan yang dimiliki tidak dapat berkembang secara optimal. Di sisi lain, tidak ada deskripsi yang spesifik tentang kompetensi dari siswa CI

Secara kelembagaan, belum ada sekolah khusus untuk siswa CI/BI. meskipun peraturan pemerintah memberikan peluang untuk pendirian sekolah semacam itu, dengan tetap mengedepankan semangat inklusif.
Keberadaan program akselerasi saat ini sebagai sarana pengembangan potensi siswa CI/BI belum dapat dikatakan bersemangat inklusif, meskipun ada siswa non CI/BI di dalamnya. Yang terjadi justru sorotan negatif tentang program akselerasi karena membuat siswa menjadi “teralienasi” dari lingkungannya. Hal ini menjadi alasan sebagian kelompok masyarakat menyarankan program ini dibubarkan

Di beberapa sekolah, ditemukan bahwa program akselerasi merupakan “produk” yang menjadi daya jual sekolah yang bersangkutan. Bahkan ada ditemukan, seluruh siswanya adalah peserta program akselerasi, meskipun tidak memenuhi kriteria untuk itu. Alasan menerima siswa non CI/BI dalam program akselerasi lebih didasarkan untuk menekan unit cost.

Di sisi lain, maraknya pemberian label “sekolah bertaraf internasional”, menjadikan progam akselerasi mulai ditinggalkan. Kebijakan penerapan sistem SKS juga dikemukakan sebagai alasan menjadikan akselerasi dapat digantikan. Hal ini disebabkan siswa boleh mengambil kredit lebih banyak jika memiliki kemampuan untuk itu.

Dari aspek ketenagaan, Guru yang mengajar di program akselerasi belum disiapkan secara khusus. Lebih jauh bahkan tidak ada kriteria tertulis, prasyarat guru yang dapat mengajar di sana. Di beberapa tempat ditemukan, guru yang mengajar menggunakan sistem arisan. Artinya mereka berganti-ganti sebagai pengajar di program akselerasi. Di tempat lain, ditemukan menurunnya semangat/etos kerja pengajar program akselerasi yang menuntut tambahan insentif, karena harus mengajar di program akselerasi. Akibatnya, sekolah yang tidak dapat mengakses dana dari masyarakat atau subsidi, mulai kewalahan untuk melanjutkan program

Dari aspek pembelajaran, proses yang terjadi di dalam dan di luar kelas, masih menekankan pada pencapaian daya serap materi. Hal ini mengakibatkan siswa akselerasi menerima beban lebih berat karena penyelesaian studi yang lebih cepat. Akibatnya model pembelajaran yang digunakan juga tidak berbeda dengan siswa reguler. Sementara itu pemanfaatan ICT dalam proses pembelajaran juga relatif terbatas, karena kemampuan guru dalam bidang itu juga terbatas dan peluang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas dan energi belum optimal.

Dari aspek penilaian, Hasil akhir kelulusan siswa program akselerasi juga tetap mengacu pada UN siswa reguler. Keadaan ini “memaksa” sekolah untuk memfokuskan kembali siswa akselerasi pada semester akhir untuk menghadapi UN. Hal ini juga mendorong orang tua siswa dan pihak sekolah menggunakan jasa bimbel agar anaknya agar lulus. Di sisi lain, ditemukan adanya program remedial bagi siswa CI/BI yang “seolah” menjadi paradoks bagi program ini sendiri

Dari aspek kesiswaan, belum semua siswa dengan kualifikasi very superior yang memperoleh layanan atau mengakses program akselerasi. Akibatnya siswa-siswa tersebut jadi “siswa biasa”. Hal ini dapat mengakibatkan potensi siswa CI/BI menjadi mubazir. Sedangkan potensi lain siswa kelas akselerasi tidak dapat berkembang secara optimal karena beban belajar akibat percepatan

Dari aspek kelanjutan studi, relatif terbatas perguruan tinggi yang memberi kemudahan akses bagi siswa CI/BI untuk masuk. Akibatnya banyak siswa CI/BI, terutama yang menang olimpiade, ditawari untuk melanjutkan studi oleh perguruan tinggi luar negeri dengan beasiswa dan bahkan mendapat perlakuan setara dengan warga negara yang bersangkutan. Di sisi lain, siswa CI/BI yang memiliki keterbasan ekonomi juga tidak dapat melanjutkan studi, karena makin mahalnya biaya pendidikan di perguruan tinggi.

Hadirin yang berbahagia…………
Dengan memahami berbagai masalah di atas, maka penyelenggaraan pendidikan khusus untuk siswa CI/BI yang selama ini dilayani dalam bentuk program akselerasi perlu dilakukan pembenahan. Pembenahan yang dilakukan mencakup seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan itu. Pada saat yang sama disadari bahwa upaya pembenahan tersebut tidak bisa dilakukan secara parsial dan semata-mata berbasis proyek, tetapi harus dilakukan secara sistemik dan sistematik.

Upaya pembenahan juga tidak dapat dilakukan sendiri oleh sekolah/madrasah penyelenggara program CI/BI karena berbagai kesibukan dan keterbatasan yang ada. Juga tidak cukup dilakukan sendiri oleh pemerintah karena kebijakan yang disusun, seringkali diterjemahkan secara berbeda pada tataran operasional.
Beranjak dari beberapa pemikiran di atas, melalui fasilitasi Direktorat PSLB dan Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah, pada tanggal 9-11 Desember 2007 di kota Semarang, terselenggara pertemuan untuk mendiskusikan upaya-upaya pembenahan dan merancang tentang perlunya dibentuk suatu forum yang melibatkan semua pihak yang terkait dengan pendidikan khusus untuk anak CI/BI.

Forum ini menempatkan semua pihak duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Artinya semangat yang dibangun adalah kemitraan dan kontribusi yang dilakukan sesuai dengan kapasitas masing-masing serta tidak menganggap salah satu pihak berada dalam posisi yang lebih tinggi.
Pembentukan dilakukan oleh perwakilan dari unsur sekolah penyelenggara program akselerasi, perguruan tinggi yang memberikan pendampingan program di sekolah penyelenggara akselerasi, dan unsur pendukung yang antara lain mencakup Direktorat PSLB, Dinas Pendidikan, PP Iptek TMII Jakarta, Pusat Pembibitan Saintis Muda dan sebagainya.

Setelah melalui diskusi dan perdebatan yang sangat serius dan kritis, akhirnya peserta menyepakati untuk membentuk sebuah perhimpunan yang diberi nama Asosiasi Penyelenggara, Pengembang, dan Pendukung Pendidikan Khusus Untuk Siswa Cerdas/Berbakat Istimewa, yang selanjutnya disebut Asosiasi CI/BI.

Bapak/Ibu yang berbahagia…
Asosiasi CI/BI bersifat independen yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka peningkatan mutu secara berkelanjutan dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan khusus bagi siswa CI/BI

Beberapa Tujuan yang ingin dicapai Asosiasi CI/BI:
1. Meningkatkan kapasitas kelembagaan penyelenggara pendidikan khusus bagi siswa CI/BI
2. Meningkatkan peluang bagi siswa CI/BI untuk memperoleh akses terhadap layanan pendidikan yang bermutu dan berkelanjutan.
3. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pendidikan khusus bagi siswa CI/BI
4. Mengembangkan jaringan informasi dan kerjasama.

Peran Asosiasi CI/BI
Sebagai fasilitator, koordinator dan kolaborator pelaksanaan program yang dilaksanakan oleh pemerintah, masyarakat maupun anggota sesuai dengan kesepakatan bersama dengan mempertimbangkan potensi dan kemampuan masing-masing pihak terkait

Fungsi Asosiasi CI/BI :
1. Penggerak, mendorong lembaga pendidikan penyelenggara pendidikan khusus bagi siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk melakukan layanan pendidikan yang bermutu, efektif, dan berkelanjutan
2. Pemberdaya, melakukan pembinaan dan pengembangan manajemen dan mutu layanan pendidikan khusus bagi siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa
3. Pengkoordinasi, membangun kerjasama dengan pemerintah dan instansi terkait dalam pemberdayaan lembaga penyelenggara pendidikan khusus bagi siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa

Anggota Asosiasi CI/BI
1. Jenis keanggotaan Asosiasi CI/BI terdiri dari anggota biasa, anggota luar biasa, dan anggota kehormatan.
2. Anggota biasa adalah perorangan yang menjadi praktisi pada lembaga penyelenggara pendidikan dan akademisi dari lembaga pendidikan tinggi yang menjadi mitra pengembangan pendidikan khusus bagi siswa CI/BI
3. Anggota luar biasa adalah perorangan yang peduli terhadap penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan khusus bagi siswa CI/BI.
4. Anggota kehormatan adalah perorangan yang telah memberikan kontribusi bermakna untuk peningkatan mutu dan keberlanjutan penyelenggaraan pendidikan khusus bagi siswa CI/BI

Kepengurusan Asosiasi CI/BI
1. Keanggotaan pengurus bidang-bidang: MIPA, Psikologi, Manajemen dan Evaluasi Pendidikan, Pendidikan Seni, dan Pendidikan Olahraga harus mewakili keragaman wilayah dan bidang ilmu.
2. Bidang ilmu yang terwakili dalam bidang MIPA adalah: Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi
3. Bidang ilmu yang terwakili dalam bidang Pendidikan adalah: Pendidikan Luar Biasa, Manajemen Pendidikan, Kurikukulum, dan Evaluasi
4. Bidang ilmu yang terwakili dalam bidang Pendidikan Seni adalah: Seni tari, Seni musik, dan Seni Rupa
5. Bidang ilmu yang terwakili dalam bidang olahraga adalah: pendidikan olahraga dan olahraga prestasi
6. Keanggotaan pengurus bidang-bidang lembaga pendidikan CI/BI mewakili keragaman wilayah dan jenjang pendidikan.

Pengurus Wilayah dan Cabang CI/BI
Sejak diselenggarakan Musyarawah Nasional yang pertama di Jakarta pada bulan Maret 2008, saat ini sudah terbentuk kepengurusan Asosiasi  CI/BI wilayah pada tingkat propinsi dan Cabang untuk tingkat kabupaten/kota. Dalam struktur kepengurusannya, Asosiasi CI/BI wilayah/cabang mencakup pengurus harian, dewan pakar, dan dewan pembina/penasehat. Pengurus harian terdiri dari para manajer program akselerasi dari sekolah-sekolah yang ada di wilayah tersebut. Dewan pakar melibatkan para ahli dari perguruan tinggi terbaik. Sedangkan dewan pembina/penasehat terdiri dari unsur Dinas Pendidikan, kepala sekolah penyelenggara program akselerasi, dan tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi kepada pendidikan khusus untuk anak CI/BI.

Pada akhir januari 2009, kami akan menyelenggarakan rapat kerja nasional dan seminar nasional pendidikan CI/BI dengan tema membenahi sistem penyelenggaraan pendidikan khusus untuk siswa CI/BI. Rakernas dan seminar nasional ini akan dihadiri oleh pengurus pusat, pengurus wilayah dan pengurus cabang asosiasi CI/BI serta para stakeholder pendidikan CI/BI. Acara ini insya allah akan diberi pembekalan oleh Dirjen Mandikdasmen, Dirjen PMPTK dan Kepala BSNP.
Hal-hal yang kami paparkan di atas menunjukkan bahwa kemitraan antara Depdiknas/Dinas Pendidikan, perguruan tinggi, sekolah dan kelompok masyarakat lainnya amat penting dalam upaya perluasan dan peningkatan mutu pendidikan CI/BI.

Kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Para dekan dari perguruan tinggi terbaik yang berlokasi di kota malang, pimpinan sekolah dan para guru penyelenggara program CI/BI serta hadirin sekalian, saya menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas keterlibatan bapak/ibu dalam pertemuan ini serta dukungan untuk pengembangan program ke depan.

Khusus kepala dinas pendidikan kota malang, kami sampaikan bahwa ini adalah kelompok yang bisa dijadikan mitra strategis dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengembangan program untuk anak CI/BI di kota malang.

Kepada pimpinan perguruan tinggi, kami sampaikan terima kasih atas kesediaannya memberikan pendampingan ke sekolah-sekolah CI/BI, meskipun subsidi yang diberikan Direktorat PSLB sangat kecil sekali dibandingkan dengan subsidi yang diberikan oleh Ditjen Dikti.

Kepada pimpinan sekolah dan para guru sekolah CI/BI, terima kasih atas dedikasi dan kinerja yang telah ditunjukkan dalam membelajarkan anak-anak CI/BI. Meskipun cukup banyak masalah yang dihadapi dalam mendidik anak-anak, tetapi tetap memiliki komitmen tinggi untuk tetap mengajar.

Kepada kelompok masyarakat lain, kami haturkan terima kasih atas kepedulian dan kontribusi kepada pendidikan untuk anak CI/BI dan keberadaan asosiasi CI/BI

Semoga semua amal dan kebaikan yang telah bapak/ibu berikan mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT dan diberi usia panjang dan kesehatan agar tetap bisa terus berkiprah dan berkontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan.

Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan dalam forum ini. Sekali lagi terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada saya untuk bisa hadir dan berbicara di forum ini. Mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan.

Wassalamu’alaikum.

Amril Muhammad
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Asosiasi CI/BI

Iklan