Anak Berbakat Istimewa Perlu Diperhatikan

Di Indonesia, terdapat 1,3 juta anak usia sekolah kategori cerdas istimewa dan berbakat istimewa (CI+BI). Dari jumlah itu, baru 9.500 di antaranya yang mendapat layanan sesuai kebutuhannya. Demikian ujar Sekjen Asosiasi CI+BI Nasional, Amril Muhammad, Kamis (24/2). Ia hadir sebagai pembicara seminar “Pengenalan dan Pelayanan Terhadap Anak Berbakat Istimewa”.

Bertempat di Balai Islamic Village, Tangerang, Banten, acara dihadiri puluhan guru dan orangtua. Pada kesempatan itu, Pak Amril menyayangkan minimnya layanan pendidikan khusus anak CI+BI. Menurutnya, anak CI+BI butuh percepatan (akselerasi) proses belajar-mengajar. Sebab, mereka memiliki kemampuan 3—4 kali lebih cepat dibanding anak seusianya. Sayang, kini baru 311 sekolah dari total 260.471 sekolah yang punya layanan untuk anak CI+BI.

“Akselerasi tidak dimaksudkan untuk menimbulkan perbedaan. Tapi, untuk memberi layanan pendidikan sesuai kebutuhan anak CI+BI,” jelas Pak Amril. Ia khawatir, jika tidak difasilitasi dengan baik, potensi anak CI+BI justru dinikmati oleh bangsa lain. Kini, 300 anak CI+BI memilih berkarya di luar negeri setiap tahunnya setelah lulus sekolah di Indonesia.

Penerimaan yang Utama 

Hadir dalam seminar, salah satu anak CI+BI, Satrio Wibowo. Ia telah aktif melukis saat usia 2 tahun dan berbicara dalam bahasa Inggris saat 4 tahun. Saat usia 12 tahun, ia berhasil menulis novel fantasi berbahasa Inggris. Kini, ia pun tengah mengasah bakat main piano. Semua itu dilakukan secara autodidak. Ia berpendapat, orangtua dan guru harus peduli pada anak CI+BI. Sebab, potensi anak CI+BI perlu diterima dan didorong dengan penuh kasih.

Meski sempat dianggap aneh karena potensinya, Satrio tak patah semangat. Ia ingin terus berkarya sambil meneruskan studi secara home schooling. Sang Ibu, Yeni Sahnaz, mengatakan, “Menerima anak CI+BI apa adanya adalah yang utama. Orangtua juga harus mendukung potensi anak, bahkan dari hal-hal terkecil.”
Liputan/penulis: ITA

http://www.berani.co.id/Artikel_Detail.aspx?ID=4924

Iklan

Peresmian Asosiasi CI+BI Madrasah Jawa Timur

Sambutan Sekjen Asosiasi CI+BI Nasional

 

Bertempat di Pesantren Amanatul Ummat, Pacet Mojokerto, Pengurus Asosiasi CI+BI Madrasah Jawa Timur telah mendapatkan surat keputusan pendiriannya. SK dari Presidium Asosiasi CI+BI disampaikan oleh Sekjen Asosiasi CI+BI Nasional, Amril Muhammad

Acara tersebut dilaksanakan pada tanggal 5-6 Januari 2011. Bersamaan dengan kegiatan finalisasi penyusunan modul untuk program akselerasi yang diselenggarakan oleh Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah se Jawa Timur

Audiensi Pengurus Asosiasi CI+BI Sulsel dengan Komisi IV DPRD Sulsel

Komisi IV Terima Audience Asosiasi Penyelenggara Siswa Cerdas (CI+BI)
Posted : [16/05/2008,07:33:38]

Audience dari Asosiasi Penyelenggara Pengembangan dan Pendukung Pendidikan khusus untuk Siswa Cerdas atau Berbakat Istimewa (CI/BI) Prov. Sulsel, Jum’at (16/05) di terima oleh Komisi IV di Ruang Rapat Komisi IV yang dipimpin oleh Ketua Komisi IV, Drs. H. Dachlan Maulana, MS. Audience ini dihadiri oleh Kema Asosiasi Penyelenggara Pengembangan dan Pendukung Pendidikan khusus untuk Siswa Cerdas atau Berbakat Istimewa (CI/BI) Prov. Sulsel, Imran Rasjadi, S.Pd dari SMPN 6 Makassar, Sekretaris Asosiasi CI/BI, Abd. Asis, S.Pd, M.Pd dari SMAN 17 Makassar, dan Anggota Asosiasi CI/BI lainnya, Drs. Hubertus Loun Almon dari SMA Katolik Cenderawasih, Drs. Yusafar dari F.MIPA Unhas, A. Donny Rustan, SS dari SMA Katolik Cenderawasih, Ir.Theresia Tulung, JMJ, M.Pd dari SMP Rajawali, Andi Anshar, S.Pd dan Jabaruddin, S.Pd, M.Pd dari SMPN 2 Maros serta Abd. Muthalib Ali, S.Pd dari SMPN 6 Makassar.

Kema Asosiasi Penyelenggara Pengembangan dan Pendukung Pendidikan khusus untuk Siswa Cerdas atau Berbakat Istimewa (CI/BI) Prov. Sulsel, Imran Rasjadi, S.Pd mengemukakan bahwa asosiasi yang terbentuk sejak tahun 2002 ini terdiri dari unsure sekolah menengah pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Kab/Kota Prov. Sulsel dan unsure Perguruan Tinggi yaitu Fak. MIPA Unhas.

Dikemukakan pula oleh Imran Rasjadi bahwa tujuan dari asosiasi ini adalah untuk mewadahi atau mencari putra putri terbaik di Sulsel yang memiliki kecerdasan istimewa atau diatas rata-rata agar bisa direkrut dalam program penyelenggaraan pengembangan dan pendukung pendidikan khusus untuk Siswa Cerdas atau Berbakat Istimewa (CI/BI). Asosiasi yang bersifat independent ini berperan sebagai fasilitator bagi sekolah yang menyelenggarakan program ini dimana saat ini sudah ada 4 Kab/Kota di Sulsel yang menyelenggarakannya, yaitu Makassar, Gowa, Maros dan Wajo. Sekolah-sekolah tersebut diantaranya, SMAN 17 Makassar, SMA Katolik Cenderawasih, SMPN 1 Sungguminasa Gowa, SMPN 2 Maros, dan SMPN 6 Wajo.

Pelayanan untuk siswa cerdas tersebut pada tahun 2002 sampai sekarang, diberikan dalam kelas khusus (kelas Akselerasi). Akan tetapi, apabila sekolah tidak mampu memfasilitasinya maka siswa tersebut digabung dalam kelas regular dengan kurikulum yang berbeda dimana kelas regular 1 semester adalah 6 bulan dan untuk kelas akselerasi 4 bulan dalam 1 semester. Nilai rapor siswa untuk kelas akselerasi tidak boleh dibawah nilai 7 dan pada tahun ini minimal nilai 8. Proses rekruitmennya juga sangat ketat. Selain proses administrasinya (nilai rapor) juga harus mengikuti tes akademik mata pelajaran MIPA yang nilainya harus 8 kemudian tes psikotes dan tes kesehatan. Sumber dana dari program ini yaitu dari iuran anggota, bantuan pemerintah, hibah dan sumber-sumber yang sah.

Imran Rasjadi berharap kedepannya agar diberi mandat untuk sampai di daerah-daerah kab/kota untuk merekrut putra-putri terbaik sehinngga nantinya akan ada lagi Habibie-habibie muda di Sulsel. Asosiasi ini juga berharap agar Dewan dapat memfasilitasi dan mendukung program ini dan kalau bisa seluruh kab/kota di Sulsel memiliki sekolah yang menerapkan program penyelenggaraan pendidikan CI/BI ini. Direncanakan pula agar kedepannya, program penyelenggaraan pendidikan CI/BI tersebut, bukan hanya di SMP dan SMA tapi juga di Sekolah Dasar (SD) karena sampai saat ini belum ada di Tingkat SD.
Asosiasi Penyelenggaraan Pengembangan dan Pendukung Pendidikan khusus untuk Siswa Cerdas atau Berbakat Istimewa (CI/BI) Prov. Sulsel menjelaskan bahwa salah satu kendala yang dihadapi dalam melaksanakan program ini adalah tenaga pengajar yang jumlahnya masih terbatas.

Komisi IV melalui Ketua Komisi IV, Drs. H. Dachlan Maulana, MS mengatakan bahwa Dewan sangat mendukung program penyelenggaraan pendidikan CI/BI ini namun perlu pematangan konsep karena jangan sampai program ini belum selesai muncul lagi program yang lain.

Komisi IV juga mengatakan bahwa Dewan akan memprioritaskan pendidikan tetapi tetap diperlukan kajian yang lebih baik lagi seperti model pelaksanaannya. Istilah-istilah yang ada yaitu sekolah unggulan, andalan dan akselerasi kedepannya juga harus satu bahasa agar tidak menimbulkan kerancuan.

Komisi IV meminta Asosiasi Penyelenggara Pengembangan dan Pendukung Pendidikan khusus untuk Siswa Cerdas atau Berbakat Istimewa (CI/BI) untuk melakukan pertemuan atau koordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk membahas program ini agar ada kesepahaman sebelum mengikuti rapat kerja Komisi IV. Selain itu, Asosiasi ini juga diminta untuk memberikan laporan atau bahan yang lebih rinci mengenai kegiatan program penyelenggaraan pendidikan CI/BI kepada Komisi IV.

Sumber : Humas DPRD Prov. Sulsel