Beasiswa Pendidikan CI+BI

Asosiasi CI BI Nasional bekerja sama dengan Perguruan Islam Nuurusshiddiiq Cirebon pada tahun pelajaran 2016/2017 akan membuka kelas CI+BI untuk siswa SMP dengan sistem boarding school. Tersedia program BEASISWA FULL untuk 20 orang dengan syarat berikut : 1. Beragama Islam … Baca lebih lanjut

Proses Eksplorasi Anak

SEORANG ANAK… memiliki kebutuhan akan eksplorasi guna membantu proses belajar dan tumbuh kembangnya. Kemampuan eksplorasi tersebut akan lebih baik dimulai sejak anak berusia dua tahun dan terus meningkat pesat hingga berusia enam tahun. Lewat survei yang dilakukan oleh BebeClub, ditemukan … Baca lebih lanjut

PRINSIP UTAMA LAYANAN AKSELERASI

PRINSIP UTAMA LAYANAN AKSELERASI

Oleh. Amril Muhammad (Sekjend Asosiasi CI+BI Nasional)

 

Prinsip utama dalam penyelenggaraan layanan akselerasi untuk anak CI+BI adalah penerapan kurikulum diferensiasi. Kurifikulum diferensiasi kurikulum nasional dan lokal yang dimodifikasi dengan penekanan pada materi esensial dan dikembangkan melalui sistem eskalasi dam enrichment yang dapat memacu dan mewadahi secara integrasi pengembangan spiritual, logika, etika dan estetika, kreatif, sistematik, linier dan konvergen.

Pengembangan desain kurikulum bagi siswa akselerasi diperlukan karena kurikulum regular tidak mencukupi dan tidak cocok bagi siswa aksel. Hal ini disebabkan Siswa CI+BI memiliki beberapa karakter antara lain: mampu bertindak cepat (Saccuzzo, 1994), berkemampuan belajar mendalam (Davis & Rimm, 2003), berkemampuan memanipulasi konsep (Sternberg, 2003), berkebutuhan khusus dan memerlukan pembelajaran yang menantang (Baska, 2003).

Banyak dari guru menganggap sama perlakukan terhadap siswa akselerasi seperti halnya siswa regular.  Realitanya siswa akselerasi adalah berbeda baik dalam kecerdasan, kemampuan maupun minat sehingga tidak mungkin disamakan dengan siswa regular.  (Gross., 2000). Diperlukan antara lain kurikulum berdiferensiasi sebagai persyaratan pokok dalam penyelenggaraan layanan pembelajaran siswa akselerasi (Croft, 2003).

Dalam upaya menyusun kurikulum diferensiasi adalah penggunaan pendekatan peta konsep. Peta Konsep merupakan Merupakan salah satu intrumen yang digunakan untuk menata materi kurikulum agar diperoleh keterkaitan antar konsep dan keutuhan materi yang akan disajikan kepada siswa dalam satu kesatuan waktu (semester).  Dengan peta konsep siswa akan mengetahui cakupan, urutan dan seberapa banyak materi yang direncanakan akan dipelajari oleh siswa serta bagaimana hubungan antara materi satu dengan lainnya.

Peta konsep merupakan gambaran visual yang berisikan jumlah materi serta hubungan antar konsep. Peta konsep juga dinamakan dengan road map (McAleese, 1986) sebab peta konsep disamakan seperti peta jalan yang menunjukan letak tempat dan bagaimana urutan jalan yang harus diikuti bila seseorang menuju suatu tempat.

Dalam kenyataannya di lapangan, masih banyak pengelola aksel di sekolah/madrasah belum memahami bagaimana wujud kurikulum diferensiasi dan bagaimana menyusunnya. Penerapan kurikulum diferensiasi harus didukung dengan 3 dokumen perangkat pembelajaran lainnya, yaitu silabus siswa, rekam jejak siswa dan jadwal pelajaran berbasis topic atau pokok bahasan. Silabus siswa akan menggambarkan pokok-pokok bahasan yang akan dipelajari siswa yang dilengkapi dengan tugas yang harus dilakukan siswa untuk setiap pokok bahasan.

Tugas merupakan suatu aktivitas yang dilakukan siswa di luar jam tatap muka. Tugas yang diberikan kepada siswa memiliki dua tujuan, yaiatu (1) memperkuat penguasaan materi dan kompetensi siswa terhadap materi yang disampaikan pada hari ini dan (2) mempersiapkan hal-hal yang harus dibawa atau disiapkan siswa untuk pembelajaran tatap muka pada pertemuan  berikutnyea. Silabus siswa juga dilengkapi dengan informasi mengenai sumber belajar, terutama yang berasal dari buku dan dunia maya. Untuk sumber belajar dari buku, harus dijelaskan buku yang dirujuk terkait dengan judul, penulis, penerbit, tahun terbit dan halaman yang memuat materi yang dimaksud. Sedangkan untuk informasi yang terdapat di dunia maya harus mencantumkan alamat situs yang dirujuk dan akan dikunjungi oleh siswa. Dengan adanya informasi ini, maka siswa menjadi efisien penggunaan waktu di depan internet dan menghindari mereka dari kemungkinan membuka situs-situs yang tidak perlu.

Rekam jejak siswa memuat informasi tentang pokok bahasan, tanggal tuntas dari setiap siswa menyelesaikan pokok bahasan dan nilai yang diperoleh. Berdasarkan dokumen ini, siswa boleh memilih atau mengajukan diri unutk mendapatkan nilai lebih dahulu temannya sebelum materi pelajaran diberikan. Hal ini bisa terjadi karena sangat mungkin mereka sudah pernah mendapatkan materi yang sama pada jenjang pendidikan sebelumnya dan mereka sudah menguasai materi itu sebelum diajarkan oleh guru. Ketika materi pelajaran tersebut dibahas, maka siswa yang telah tuntas dapat menjadi asisten guru yang bisa membantu siswa lain untuk agar lebih mengerti materi pelajaran itu. Disinilah pendekatan tutor sebaya diterapkan. Di samping itu, dengan pendekatan semacam ini, siswa yang sudah menguasai materi lebih belajar untuk memahami konsep bahwa kehebatan seseorang baru akan bermanfaat jika bisa membantu orang lain yang belum  mampu.

Penggunaan jadwal pelajaran berbasis topic atau materi pelajaran akan mendorong siswa menjadi focus untuk mengikuti pelajaran dan mempelajari lebih dahulu materi yang akan dipelajari di kelas. Penggunaan jadwal semacam ini juga menjadi menarik, karena siswa tidak hanya mengenal nama mata pelajaran, tetapi juga mengenal pokok bahasan. Hal ini juga dapat menghindarkan siswa dari ketakutan atau kebosanan dalam melihat nama-nama mata pelajaran. Penggunaan jadwal ini juga menjadikan penerapan prinsip transparansi dalam pembelajaran bisa dilakukan. Kepala sekolah dan pengawas yang datang pada suatu ketika, akan tahu materi pelajaran yang dipelajari pada tanggal/hari atau jam terentu. Begitu pula orang tua, akan mengetahui materi pelajaran apa yang dipelajari anaknya di sekolah.

Materi pelajaran unutk kelas akselerasi Jangan terlalu menekankan pada aspek kognitif tetapi harus mendorongterjadinyaPenyeimbangan pembelajaran dilakukan dengan menyajikan aspek sintetik dan praktikal. Materi yang tercakup harus berisikan materi unggul dan problem solving. Implikasinya, guru harus mampu mengubah struktur materi pelajaran yang mengarah pada struktur materi kasus.

Coooperative learning siswa CI+BI MTsN Sumber Bungur Pamekasan

Coooperative learning siswa CI+BI MTsN Sumber Bungur Pamekasan

Selanjutnya dari segi materi, muatan dari materi pelajaran dipilah menjadi materi esensial dan non esensial. Materi esensial adalah yang harus disampaikan kepada siswa melalui bimbingan khusus atau personal kepada siswa karena dianggap penting bagi siswa.  Tingkat intensitas kepentingan materi esensi adalah wewenang guru dalam penetapannya dengan memperhatikan beberapa hal berikut : (a)  Merupakan konsep dasar yang harus dimengerti siswa untuk memahami materi selanjutnya. (b) Materi yang sering atau pasti keluar di ujian nasional dan (c) Materi yang sulit dan memerlukan bimbingan khusus oleh guru.

Materi non esensial adalah Dapat dipelajari siswa melalui penugasan dan pembahasan sepintas. Pada prinsipnya materi non esensial ini merupakan materi yang dapat dibaca dan dipahami siswa tanpa bimbingan khusus dari guru. Dalam pengelolaan materi non esensial ini siswa dioptimal dengan penggunaan IT. Oleh karena itu penyediaan sarana IT untuk kelas akselerasi bukanlah ditujukan untuk gagah-gagahan tetapi untuk mendukung efektivitas pembelajaran bagi siswa CI+BI.

Konsekuensi perapan diferensiasi dalam layanan akselerasi tidak hanya berhenti pada diferensiasi kurikulum tetapi juga domain lainnya yaitu pada pembelajaran, pada kebutuhan siswa sehingga sesungguhnya dalam melayani pembelajaran diperlukan tindakan diferensiasi pula. Tidak memberikan dampak positif kurikulum berdiferensiasi diberlakukan tetapi strategi pembelajarannya tidak menyesuaikan (Tomlinson, 2003).

Adalah kekeliruan mendasar dalam pengelolaan pembelajaran di kelas akselerasi ketika pembelajajaran yang dilakukan:

  • Tidak membedakan kecepatan belajar siswa
  • Tingkat membedakan minat dan tingkat keunggulan siswa
  • Mematikan kreativitas yang tampak siswa dilarang menggunakan cara berbeda dengan yang diajarkan
  • Guru Tidak memahami sensitivitas sosial emosional siswa
  • Tidak memberi ruang yang cukup bagi anak beraktivitas
  • Anak dipaksa belajar dengan modul yang hanya berfokus pada ringkasan materi dan latihan soal. Hal ini akan mereduksi penguasaan materi pelajaran oleh siswa. Belum lagi seringkali modul yang digunakan adalah hasil produksi guru yang bersifat plagiat dan tidak dilakukan penilaian oleh ahli bidang substansi materi dan metodologi.

Selanjutnya dalam penilaian, harus mengacu pada Mengacu pada indikator yg disusun dalam silabus, Lebih menekankan pada produk dan hasil karya. Selanjutnya penilaian juga Minimalisasi pada paper & pencil test, Minimalisasi soal pilihan ganda, jika dilakukan arahnya kemampuan analisis siswa seperti soal yang menggunakan model sebab akibat. Jika ada yang materi tidak dikuasai siswa kemudian berdampk mereka mendapat mungkin dapat nilai jelek, maka  remedial langsung dilakukan setelah hasil diketahui. Soal ujian berbeda juga dapat dibuat berbedasehingga dapat  menghindari dari perilaku mencontek. Selanjutnya Penilaian sikap/budi pekerti dilakukan pada saat proses belajar dan kerja siswa berlangsung.

Apabila prinsip-prinsip di atas diterapkan oleh sekolah/madrasah penyelenggara layanan akselerasi, maka layanan itu akan menjadi efektif. Tetapi bila tidak dipahami dan tidak dilakukan, maka layanan akselerasi yang dilakukan menjadi keliru, dan menjadikan layanan akselerasi dengan menu regular. Hal ini lah yang kemudian memunculkan salah paham terhadap layanan akselerasi yang dianggap hanya mempercepat penyelesaian studi, tanpa memahami substansi.

Dalam konteksi inilah, maka Asosiasi CI+BI nasional memberikan pelatihan ke sekolah/madrasah dalam bentuk Inhouse training, agar semua warga sekolah/madrasah memahaminya.  Sasaran pelatihan, bukan saja guru, tetapi juga orang tua dan siswa. Berikut ini adalah daftar sekolah/madrasah yang telah mengikuti pelatihan penyusunan kurikulum diferensiasi, yaitu:

  1. SDN 07 Kota Ciamis
  2. SD Al Azhar BSD
  3. SMPN 3 Cilacap
  4. SMPN 2 Dumai
  5. SMPN 1 Cisaat Sukabumi
  6. SMPN 1 Pangandaran
  7. SMPN  1 Tasikmalaya
  8. SMP Al Azhar BSD
  9. SMAN 1 Purwokerto
  10. SMAN 2 Dumai
  11. SMA Dharma Loka Pekanbaru
  12. SMA Don Bosco Padang
  13. SMAN 81 Jakarta
  14. SMAN 3 Salatiga
  15. SMAN 7 Kediri
  16. MTs PPMI Assalam Sukoharjo
  17. MTsN Sumber Bungur  Pamekasan Madura
  18. MTsN Pajarakan Probolinggo
  19. MTsN Denanyar Jombang
  20. MTsN Pare Kediri
  21. MTsN Kunir Blitar
  22. MTsN Temboro, Magetan
  23. MTsN Kota Madiun
  24. MTsN Lumajang
  25. MTsN Paron 2 Ngawi
  26. MTsN Tanjung tani Nganjuk
  27. MTsN Bangkalan Madura

Kita berharap sekolah/madrasah yang lain akan segera melakukan pelatihan ini, agar para guru memahami dan terampil dalam mengelola kurikulum, pembelajaran dan penilaian terkait dengan layanan akselerasi di sekolah/madrasah.

bareng pengurus aksel tanjung tani

IHT Aksel di MTsN Sumpa

REKAYASA SESAT UNTUK KELAS AKSELERASI

KITA….
tidak perlu merekayasa setiap anak menjadi anak CI+BI, tapi kita pasti bisa mengembangkan setiap anak sehingga mereka mencapai potensi maksimal.  Setiap anak memiliki potensi terbaik yang mereka bawa (nature) sejak lahir untuk dikembangkan dan diwujudkan dalam prestasi…..Oleh karena itu JANGAN rekayasa hasil psikotes demi untuk memasukkan anak ke dalam kelas akselerasi..

Dalam temuan di lapangan banyak penyelenggara layanan aksel melakukan rekayasa agar memperoleh siswa lebih banyak untuk kelas aksel. Ada dua cara yang biasa mereka lakukan, yaitu:

1. Melakukan drill/latihan mengerjakan soal-soal psikotes, beberapa hari/minggu sebelum psikotes yang sebenarnya dilakukan.

2. Bekerjasama dengan oknum psikolog/lembaga psikologi/PT yang memiliki fak/jurusan psikologi agar diperoleh siswa dengan skor min. 130 dalam jumlah yang memadai

JANGAN juga rekayasa menurunkan ketentuan/aturan skor IQ agar lebih banyak siswa yang masuk ke dalam kelas akselerasi. Saat ini ada upaya sebagian pihak untuk menurunkan aturan minimal IQ untuk anak bisa masuk kelas akselerasi, dengan cara mengubah Pedoman layanan akselerasi. Hal ini dilakukan agar mereka bisa mendapatkan jumlah siswa lebih banyak. Perilaku semacam adalah perilaku buruk. Ibaratnya kita menjual barang, tapi pembeli sedikit, lalu kita menurunkan harga sehingga barang tersebut menjadi lebih laku. Mereka lupa bahwa pendidikan khusus untuk anak CI+BI diberikan kepada mereka yang memiliki potensi sebagai anak CI+BI, bukan direkayasa menjadi anak CI+BI.

Kelas AKSELERASI bukan kelas yang lebih “tinggi” dari kelas reguler…masing-masing anak punya tempat terbaik untuk mengembangkan potensi mereka, tidak perlu dipaksakan masuk kelas akselerasi..Kelas reguler cocok untuk anak yang normal secara intelektual, sebagaimana SLB C/tuna grahita cocok untuk siswa yang memiliki kategori intelektual tuna grahita ringan, sedang ataupun berat, karena mereka akan mendapatkan layanan pembelajaran sesuai kemampuan mereka..

LAPORAN KEUANGAN KONASPI CI+BI 2012

Total Penerimaan: Rp. 54.900.000
Diperoleh dari iuran peserta (tidak termasuk iuran anggota Asosiasi CI+BI dan iuran untuk memperoleh prosiding konaspi)

Total Pengeluaran : Rp. 55.468.000
Digunakan untuk:
1. Biaya Akomodasi, konsumsi, ruang sidang
2. Biaya kirim surat ke calon sekolah/madrasah, PT, pejabat, undangan
3. Biaya fotocopi surat, proposal, materi konaspi
4. ATK peserta, tas
5. Atk panitia
6. Transport panitia
7. Publikasi, dokumentasi, media
8. Tambahan snack
9. Biaya perangko pengiriman surat untuk sekolah/madrasah/PT, undangan
10. Pembuatan plakat penghargaan
11. Pengembalian biaya yg sudah dibayar, tetapi peserta tidak datang (1 dari madiun dan 1 dari Jakarta)
12. Pengembalian uang kepada peserta yang dibatalkan statusnya sebagai peserta, karena tidak ikut 1 sesi pun dalam konaspi (15 orang peserta dari jogjakarta)

Defisit : Rp. 568.000

Alhamdulillah, pada awalnya diperkirakan defisit mencapai 10 juta rupiah…
Terima kasih untuk para peserta dan panitia yang telah berkontribusi dalam Konaspi CI+BI dan Munas Asosiasi CI+BI ke 2 tgl. 11-13 desember 2012

Jakarta, 22 Desember 2012

Amril Muhammad (Sekjend Asosiasi CI+BI Nasional)

Susunan Acara Konaspi CI+BI 2012

RANCANGAN SUSUNAN ACARA KONASPI CI+BI ke-2

Kampus A UNJ Rawamangun Jakarta, 11-13 Desember 2012

 Selasa, 11 Desember 2012

WAKTU MATERI KETERANGAN
08.00 – 09.00 Registrasi peserta
09.00 – 09.05 Pengantar dari MC
09.05-09.15 Sambutan ketua Presidium Asosiasi CI+BI Nasional Ketua Presidium Asosiasi CI+BI Nasional
09.15 – 09.30 Penyerahan sertifikat keanggotaan Asosiasi CI+BI nasional Ketua Presidium Asosiasi CI+BI Nasional
09.30 – 10.30 Orasi Ilmiah oleh Prof. Dr. Conny Semiawan
10.30 – 11.30
  • Penyerahan penghargaan khusus Asosiasi CI+BI
  • Penyerahan CI+BI Award kepada Tokoh pengembang pendidikan CI+BI
  • Sambutan Penerima CI+BI Award
  • Sambutan dan Peresmian Konaspi CI+BI ke-2 oleh Wamendikbud, Prof. Dr. Musliar Kasim
Semua penghargaan akan diserahkan oleh Wamendikbud RI, Prof. Dr. Prof. Dr. Musliar Kasim didampingi oleh Ketua Presidium dan Sekjend Asosiasi CI+BI Nasional
11.30 – 13.00 I S O M A
13.00 – 14.30 Pengembangan kreativitas pada anak CI+BI Nur Aeni, S.Psi, M.Psi.
14.30 – 16.30 Milestone layanan pendidikan dan pengembangan potensi anak CI+BI di Indonesia Asosiasi CI+BI Nasional

Rabu, 12 Desember 2012

WAKTU MATERI PEMATERI
07.30 – 08.00 Registrasi peserta Panitia
08.00 – 09.45 Pengembangan Layanan pendidikan untuk anak CI+BI Dr. Ir.  Adam Wiryawan
09.45 – 10.15 Istirahat snack
10.15 – 12.00 Muatan Pengayaan Sains untuk anak CI+BI : Fisika Kebumian Prof. Suharno, M.Sc. Ph.D
12.00 – 13.30 I S O M A Panitia
13.30 – 16.00 Pengembangan Kurikulum Akselerasi Berbasis Karakteristik anak CI+BI dan Pendekatan Student Centered Learning Asosiasi CI+BI Nasional

Kamis, 14 Desember 2012

WAKTU MATERI KETERANGAN
07.30 – 08.00 Registrasi peserta Panitia
08.00 – 09.30 Pengembangan Layanan Keberbakatan bidang Seni dan Olahraga Asosiasi CI+BI Nasional
09.30 – 09.45 Istirahat snack
09.45 – 11.00 Dialog Penanganan masalah-masalah dalam layanan pendidikan untuk anak CI+BI Asosiasi CI+BI Nasional
11.00 – 11.30 Penutupan Panitia

SEpuluh Karakteristik Guru yg disukai Anak CI+BI

Berdasarkan hasil penelitian…
SEPULUH KARAKTERISTIK GURU..yang disukai anak CI+BI….

1. kompeten dan punya minat untuk belajar
2. mahir dalam mengajar
3. adil dan tidak memihak
4. bersikap demokratis dan kooperatif
5. memiliki fleksibilitas yang tinggi
6. memiliki rasa humor
7. mau memberikan penghargaan dan pujian pada siswa
8. memiliki minat yang luas terhdap berbagai bidang
9. memberi perhatian pada masalah yg dialami anak CI+BI
10. berpenampilan dan bersikap yang menarik..

sumber: Utami Munandar, 1999..