Kiprah kami

9 TAHUN..
kami berkiprah untuk anak pendidikan CI+BI Indonesia.. memang tak banyak yang bisa kami lakukan.. tapi kami bersyukur bahwa peluang layanan pendidikan khusus untuk anak ci+bi masih ada sampai hari ini, lewat program sks..cibi baru

Iklan

Beasiswa Pendidikan CI+BI

Asosiasi CI BI Nasional bekerja sama dengan Perguruan Islam Nuurusshiddiiq Cirebon pada tahun pelajaran 2016/2017 akan membuka kelas CI+BI untuk siswa SMP dengan sistem boarding school. Tersedia program BEASISWA FULL untuk 20 orang dengan syarat berikut : 1. Beragama Islam … Baca lebih lanjut

AKSEL TETAP JALAN

Setelah sempat gonjang ganjing soal kelas akselerasi, kini mulai jelas bagaimana nasib layanan akselerasi itu. Mengacu pada Permendikbud no. 157 tahun 2014 tentang pendidikan khusus, akselerasi untuk tingkat SD/MI tetap berjalan seperti model yang selama ini sudah ada. Sedangkan untuk … Baca lebih lanjut

Kelas Anak CI+BI

ANAK CI+BI..
perlu dikelompokkan ke dalam kelas khusus bukan karena mereka tidak siap untuk hidup secara inklusif, tetapi mereka akan berprestasi dibawah normal (underachiever) ketika belajar dalam kelas bersama dengan siswa non CI+BI dalam kelas reguler.. Namun demikian.. sesekali mereka dapat bergabung bersama siswa non CI+BI dalam pelajaran atau program tertentu yang didasarkan atas kesamaan minat..

siswa asksel mts madiun 1

Nasib Layanan Pendidikan untuk Anak CI+BI Indonesia

DALAM 3 BULAN INI…

dialog dan diskusi tentang Gifted atau anak Cerdas+berbakat istimewa marak diinfokan di fb ini. Mulai dari tayangan di Metro TV dan Net TV, serangkaian diskusi di beberapa daerah, penerbitan buku tentang gifted, sampai dengan liputan di media cetak…Hal ini tentu sangat membahagiakan karena makin banyak orang peduli pada anak-anak CI+Bi Indonesia..

TAPI SAYANG…

sebagian kecil diantara mereka justru MENGOBRAK-ABRIK tatanan layanan pendidikan aksel yang kami gagas sejak tahun 2004… sebagian kecil orang-orang itu menyuarakan supaya akselerasi dibubarkan, menyatakan perilaku anak CI+BI membuat 3 orang guru mental dari sebuah sekolah. Di samping itu juga ada yang menginginkan kebijakan yang menyatakan IQ anak CI+BI min. 130 diturunkan menjadi 125 dengan alasan supaya sekolah dapat banyak siswa aksel. Masih ada sekolah/madrasah yang melakukan drill/latihan agar banyak anak yang dapet 130 supaya masuk kelas aksel, Ada juga sekolah yang memasukan siswa yang IQ di bawah 130 dengan alasan memenuhi kuota dan sebagainya.

Kondisi ini yang kemudian memunculkan ketidaksukaan sebagai masyarakat dan birokrat pendidikan yang menginginkan layanan aksel di Indonesia ditutup seperti keinginan seseorang yang bermukim di salah satu negara di eropa. Mereka dikenal masyarakat dan memperoleh ketenaran dan juga mungkin penghasilan karena diundang sebagai narasumber tentang Gifted, tapi pada saat yang sama mereka coba

KAMI..

memahami bahwa layanan aksel di Indonesia belum sempurna, tetapi itu bukan menjadi alasan untuk menutupnya, karena anak CI+BI berhak mendapatkan layanan pendidikan khusus sebagai hasil pertemuan UNESCO tahun 1994 di Salamanca dan UU 20/2003 tentang Sisdiknas dan peraturan lainnya.

KINI…

pekerjaan kami bertambah lagi dengan muncul pernyataan Mendikbud (yg segera lengser) yg menyatakan aksel diganti dengan pendalaman minat, yang itu sulit dilaksanakan. kami juga harus mengklarifikasi atau meluruskan pendapat-pendapat orang-orang itu kepada masyarakat, terutama guru dan siswa agar mereka tidak risau dengan segala macam wacana yang muncul soal penutupan aksel.

KAMI…

akan tetap berupaya memperjuangkan hak anak CI+BI indonesia di lingkungan sebagian masyarakat dan birokrat yang tidak paham dan tidak peduli pada anak CI+BI Indonesia. Sudah banyak prestasi yang dukir oleh anak CI+BI Indonesia di dalam maupun di luar negeri, tetapi orang2 itu seperti buta dan tuli sehingga mereka terus berupaya membubarkan layanan aksel.

MOHON Doa

semoga kami tetap memperjuangkan dan berharap kabinet baru memiliki mendikbud yang matanya tidak buta dan telinganya tidak tuli, untuk melihat fakta dan mendengar informasi tentang anak CI+BI Indonesia dan kemudian memiliki kepedulian untuk menjaga dan mengembangkannya.

Amiin..

100_6715OLYMPUS DIGITAL CAMERAsiswa sman 1 klaten

HATI-HATI MASUK KELAS AKSELERASI

Sejak RSBI/RMBI dinyatakan terlarang atau bubar oleh Mahkamah Konstitusi pada awal tahun 2013, banyak sekolah/madrasah pelaksana RSBI/RMBI kebingungan untuk mengembangkan layanan unggulan di sekolah. Pada tahun 2010, Direktorat PSMP pernah mengeluarkan surat larangan kepada SMP yang menjadi rintisan RSBI untuk menutup semua program-program unggulan yang ada termasuk AKSELERASI. Asosiasi CI+BI Nasional kemudian merespon surat larangan tersebut dengan menulis kepada Direktur PSMP Kemendiknas dan Dirjen Dikdasmen (waktu itu), yang mempertanyakan keluarnya larangan tersebut dan meminta berdialog.

Dalam dialog tersebut diperoleh temuan bahwa Direktur PSMP tidak memahami dengan benar apa yang dimaksud dengan AKSELERASI dan beliau menerima informasi yang salah dari seorang oknum konsultan yang bernama KH. KH ini juga merupakan adik dari ESY konsultan pada direktorat yang lain, yang juga menginginkan supaya AKSELERASI dibubarkan dengan mengganti menjadi istilah kelas CI atau kelas CI Inklusi. Alhamdulillah sebagian sekolah masih menyadari surat yang keliru itu, dan tetap membuka layanan akselerasi.

Dalam perjalanannya kemudian, ternyata justru RSBI/RMBI yang dibubarkan dan dinyatakan terlarang berdasarkan keputusan Mahkamah KOnstitusi. Munculnya larangan ini membuat sekolah yang punya RSBI melirik AKSELERASI sebagai produk unggulan mereka. Sehingga berlomba-lombalah mereka membuka kelas AKSELERASI, meskipun mereka tidak paham konsep dan bagaimana layanan AKSELERASI dilakukan. Di sebuah kota di Pulau Jawa, sempat walikotanya mengeluarkan larangan membuka kelas aksel di sekolah-sekolah. Tapi kemudian pada awal bulan Juni 2013, justru di kota tersebut didorong untuk membuka kelas AKSELERASI.

Maraknya keinginan sekolah/madrasah untuk membuka layanan AKSELERASI di satu sisi perlu disambut dengan baik, karena memang jumlah sekolah/madrasah yang memberikan layanan ini masih sangat mini, baru mampu menampung sekitar 1% (sekitar 10.00an) anak usia sekolah yang berpotensi CI+BI. TETAPI jika pemberian layanan dilakukan oleh orang-orang yang tidak paham tentang konsep, kurikulum, pembelajaran, penilaian dan cara pengelolaan program, maka program ini akan sekedar mempercepat penyelesaian studi, tanpa masuk pada hal yang substantive.

Pada sekolah/madrasah yang sekarang ini berjalan saja, masih sedikit yang guru pernah diberikan pelatihan dan bekerja untuk menyusun kurikulum diferensiasi dan pengelolaan AKSELERASI. Di Sumatera Barat, yang pernah berworkshop layanan AKSELERASI adalah SMA Don Bosco Padang, di Jakarta adalah SMAN 81,di Jawa Barat, antara lain: SMPN 1 Tasikmalaya, SMPN 1 Pangandaran dan SDN 07 Ciamis. Di Jawa Tengah antara lain: SMA YSKI Semarang, MTs Assalam Solo, SMAN 1 Purwokerto, SMPN 3 Cilacap. di Jawa Timur : MTs Sumber Bungur di Pamekasan Madura, MTs Denanyar di Jombang, dan MTs Pajarakan di Probolinggo. Di banten: SDI Al Azhar Serpong dan SMP al Azhar Serpong.

Guru yang tidak pernah mendapatkan pelatihan dalam memberikan layanan akselerasi akan berimplikasi mereka memberikan layanan yang keliru dan justru menjadikan anak memiliki beban belajar yang sangat berat.

Oleh karena itu, masyarakat yang ingin memasukan anaknya ke layanan AKSELERASI harus mengecek betul kesiapan sekolah/madrasah tersebut. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian orang tua yang akan memasukan anaknya ke kelas aksel adalah:

1. Apakah sekolah/madrasah yg bersangkutan telah memiliki ijin membuka kelas aksel. Jika sekolah tidak memiliki ijin, maka keberadaan layanan akselerasi tidak akan diakui dan berakibat siswa tidak bisa ikut ujian nasional maupun ujian masuk perguruan tinggi.

2. Apakah sekolah/madrasah sudah menyusun kurikulum diferensiasi dan melatih guru untuk melakukan pembelajaran dan penilaian yang sesuai karakteristik layanan akselerasi

3. Apakah putra bapak/ibu memiliki IQ min. 130 dengan skala weschler, yang diuji oleh psikolog dari perguruan tinggi dan biro psikologi yang terakreditasi oleh BNSP?…jika ternyata putra bapak/ibu memiliki IQ di bawah 130, jangan menerima tawaran itu, karena berisiko putra bapak/ibu tidak bisa mengikuti ujian nasional.

4. Para orang tua jangan mau anaknya dilatih terlebih dahulu sebelum mengikuti psikotes. Karena psikotes bukan seperti ujian yang mencari nilai setinggi-tingginya, tetapi psikotes merupakan cara untuk mengetahui seorang anak, apakah mereka tepat untuk mengikuti program AKSELERASI, atau lebih tepat di program regular.

5. Jangan ragu bertanya kepada Asosiasi CI+BI Nasional terkait dengan layanan akselerasi.

Apabila orang tua/masyarakat bersikap kritis dan mau melakukan pengecekan dengan benar, Insya Allah mereka akan terhindar dari layanan AKSELERASI yang tidak sesuai. Dengan ini pula, eksistensi layanan AKSELERASI akan dapat dijaga dari gangguan dan rongrongan segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan materi dari layanan AKSELERASI, tetapi melanggar hal-hal yang mendasar. Sehingga dapat berimplikasi menguatnya sebagian kecil orang yang menghendaki layanan AKSELERASI dibubarkan.

Salam.

Amril Muhammad