AKSEL TETAP JALAN

Setelah sempat gonjang ganjing soal kelas akselerasi, kini mulai jelas bagaimana nasib layanan akselerasi itu. Mengacu pada Permendikbud no. 157 tahun 2014 tentang pendidikan khusus, akselerasi untuk tingkat SD/MI tetap berjalan seperti model yang selama ini sudah ada. Sedangkan untuk … Baca lebih lanjut

Penerapan Kur. 2013 di kelas Akselerasi

Pada tahun 2013, pemerintah mulai menerapkan kurikulum 2013 secara bertahap. Dimulai dengan adanya piloting di lebih dari 6000 sekolah mulai jenjang SD, SMP dan SMA/SMK. Sedangkan madrasah belum satupun melaksanakan kur 2013. Dari 6000 sekolah tersebut, diantaranya adalah sekolah-sekolah yang menyelenggarakan aksel. Namun pada tahun 2013 itu, khusus kelas aksel tidak menggunakan kurikulum 2013, karena Ujian nasional dengan Kur 2013 baru dilaksanakan pada tahun 2016, sedangkan siswa kelas aksel yang masuk pada tahun 2013 akan tamat pada tahun 2015. Mulai tahun 2014, sesuai dengan kebijakan pemerintah bahwa semua sekolah menerapkan kurikulum 2014 termasuk kelas akselerasi.

gambar Kur 2013

Di madrasah pada tahun 2014, baru akan mulai diterapkan kurikulum 2013. Berbeda dengan sekolah yang menggunakan model piloting, seluruh madrasah diwajibkan untuk melaksanakan kurikulum 2013. Hal ini diatur dalam surat edaran Dirjen Pendis Kemenag no. SE/DJ.I/HM/114. Oleh karena dimulai pada tahun 2014, maka ujian nasional di madrasah pada tahun 2016 masih menggunakan standar isi dan standar kompetensi lulusan dari permendikbud tahun 2006 atau dikenal dengan sebutan KTSP.

Point 2 dari surat edaran Dirjen Pendis menyatakan bahwa : “seluruh madrasah di lingkungan direktorat madrasah akan melaksanakan ujian nasional untuk tingkat madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah pada bulan mei-juni 2016 menggunakan tipe soal KTSP yang menjadi tanggung jawab Kemendikbud”.

Dengan mengacu pada point itu, berarti siswa baru kelas aksel di madrasah tahun 2014, akan mengikuti ujian nasional pada tahun 2016, soal ujian nasional model KTSP. Sayangnya surat edaran ini keliru dipahami oleh birokrat Pembina madrasah di daerah. Mereka hanya memahami point 1 dari edaran itu bahwa mulai tahun 2014, semua madrasah menerapkan kur 2013, tapi melihat point 2 dari surat edaran tersebut.

Jika kekeliruan pemahaman ini tidak segera dibetulkan, maka siswa kelas aksel angkatan tahun 2014 yang juga diharuskan mereka menggunakan kur 2013, pada tahun 2016 bisa jadi tidak kebagian soal UN, karena pada tahun 2016 tidak ada satupun madrasah yang menggunakan soal kur 2013 untuk ujian nasional. Asosiasi CI+BI Nasional sudah berusaha mengingatkan mereka akan kekeliruan ini, tapi sayangnya mereka tidak mau memahami. Kami hanya bisa berdoa, semoga birokrat-birokrat itu menyadari kekeliruannya dan segera mengubah pemahamannya, sehingga siswa kelas aksel di madrasah tidak dirugikan.

Wallahu ‘alam

Task Commitment

Dalam acara Sudut Pandang bersama Fifi Aleyda Yahya di Metro TV tanggal 19 juli 2014, ada seorang narasumber yang menyatakan bahwa para “pengantin bom” atau pelaku bom bunuh diri di Indonesia, adalah mereka yang memiliki task commitment yang tinggi dan dapat diklasifikasi sebagai anak CI+BI. Ungkapan ini jelas tidak pas, karena bukan itu makna dari task commitment.

Seorang anak dapat diklasifikan sebagai CI+BI adalah mereka yang memiliki IQ very superior, kreativias baik dan juga task commitment yang baik

Task commitment mencakup: kemampuan mengubah motivasi menjadi tindakan (seperti ketekunan, daya tahan, dan kerja keras, rasa percaya diri, dan daya tarik khusus dengan topik tertentu). Tanpa komitmen pada tugas, prestasi tinggi sama sekali tidak mungkin. Komitmen pada tugas adalah rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang dihadapi, mendorong seseorang untuk tekun dan ulet, meskipun mengalami macam-macam rintangan dan hambatan, melakukan dan menyelesaikan tugas atas kehendak sendiri karena rasa tanggung jawab terhadap tugas tersebut.

Karakteristik atau ciri-ciri anak yang mempunyai task commitment tinggi, menurut Renzulli antara lain:

  1. Kapasitas untuk mendalami bidang tertentu yang ditekuni, antusias, keterlibatan tinggi, rasa ingin tahu tinggi pada bidang yang ditekuni;
  2. Ketekunan;
  3. Daya tahan kerja;
  4. Keyakinan diri mampu menyelesaikan tugas;
  5. Dorongan untuk berprestasi;
  6. Kemampuan mengenali masalah pada bidang yang ditekuni;
  7. Kemampuan menanggapi topik yang mutakhir terkait dengan bidang yang ia tekuni;
  8. Menetapkan standar kerja yang tinggi;
  9. Selalu bersedia melakukan introspeksi diri dan menerima kritik orang lain;
  10. Mampu mengembangkan rasa keindahan, kualitas, dan kesempurnaan pekerjaannya, maupun pekerjaan orang lain.

Tulisan ini merupakan klarifikasi sambil berharap semoga  di waktu yang akan datang jangan sampai ada lagi ada narasumber yang diundang untuk menyampaikan sesuatu gifted, tetapi tidak memiliki informasi dan kapasitas yang memadai.

Kurikulum 2013 untuk kelas Akselerasi

UNTUK SEKOLAH…
yang menjadi piloting penerapan K-13 pada mulai tahun 2013, maka pada tahun pelajaran 2014/2015 kelas sudah menerapkan K-13. siswa aksel ini akan mengikuti UN dengan K-13 pada tahun 2016.

Sedangkan sekolah yang baru tahun 2014 ini menerapkan K-13, maka kelas aksel baru menggunakan K-13 pada tahun 2015. siswa ini akan mengikuti UN K-13 pada tahun 2016.

Untuk madrasah, kelas aksel baru akan menggunakan K-13 pada tahun 2015, karena ujian nasional dengan K-13 di madrasah baru dilakukan pada tahun 2017.

 

Syarat UN untuk Siswa kelas Akselerasi..

ALHAMDULILLAH…
di hari ulang tahun Asosiasi CI+BI Nasional yang keenam dan diangka bagus.. 11-12-13…. kami sudah mendapatkan pemberitahuan dari BSNP bahwa siswa kelas akselerasi yang bisa ikut ujian nasional untuk tahun pelajaran 2013-2014 adalah mereka yang memiliki hasil tes IQ min. 130…

Dengan demikian segelintir pihak (al: pakde supri, mas bro, bang toha) yang mengatakan di beberapa forum, bahwa sekolah/madrasah yang tidak cukup memiliki siswa kelas aksel, boleh menerima mereka yang IQ min. 125 ke kelas aksel dan menjanjikan bisa mengurus ke BSNP supaya bisa ikut UN, adalah penipuan dan pembohongan..

Semoga para kepala sekolah/madrasah itu menjadi sadar bahwa mereka telah dibohongi/ditipu oknum-oknum tersebut.
Layanan aksel bukanlah barang dagangan, yang jika kurang siswa, maka diturunkan harganya dengan mengurangi angka skor IQ min. dari 130 ke min. 125, agar bisa memperoleh siswa yang banyak.

Penetapan angka IQ min. 130 bukan asal-asalan, tetapi berdasarkan hasil kajian literatur yang kami lakukan. Beberapa ahli al:
1. Weschler (2003, 2008, 2012)
2. Stanford-binnet (2003)
3. Woodcock-Johnson R (2007)
4. Kaufman (1993)
5. Das-Naglieri (1997)
6.Colin D. Elliott (2007)
7. Cecil Reynolds and Randy Kamphaus (2003)

Betapapun kebohongan/penipuan itu mereka kemas dengan diam-diam dan terencana, kami bersyukur bisa melawannya. Kebenaran tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh kebusukan dan kebohongan

syarat peserta UN tahun pelajaran 2013/2014 dapat dilihat pada link berikut

http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/sites/default/files/POS%20UN%20Tahun%20Pelajaran%202013-2014_0.pdf

 

EVALUASI LAYANAN AKSELERASI

Berdasarkan berita yang dimunculkan dalam Koran Sindo beberapa hari lalu, Kemendikbud akan melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan layanan akselerasi di sekolah. Hal ini tentu perlu disambut dengan baik, karena sebuah program atau layanan yang diberikan kepada masyarakat perlu dievaluasi apakah sudah memenuhi harapan yang ada atau belum.

Disadari betul memang masih banyak penyimpangan yang terjadi dalam layanan aksel, terutama kriteria siswa yang bisa masuk kelas aksel. Pedoman yang dikeluarkan oleh Kemendikbud sudah jelas-jelas menyatakan bahwa siswa yang berhak masuk kelas aksel adalah mereka yang memiliki IQ min. 130. Dalam prakteknya banyak sekolah dan madrasah yang tidak memenuhi ketentuan itu. Belum lagi ternyata juga ditemukan sekolah/madrasah membuka layanan aksel untuk meningkatkan gengsi dan bisa mengakses dana untuk. Penyimpangan lain yang dilakukan sekolah/madrasah untuk memenuhi siswa yang memiliki IQ 130 adalah dengan cara memberikan pelatihan terlebih dahulu kepda calon siswa mengerjakan soal-soal psikotes. Yang terjadi mereka dapat angka tersebut, tetapi kemampuan sebenarnya bukanlah seperti. akhirnya ketika proses pembelajaran dilakukan, tampaklah bahwa mereka bukan anak kategori very superior, tetapi anak dengan IQ normal yang lebih tepat ditempatkan di kelas reguler.

yang lebih memprihatinkan lagi adalah munculnya sekolah madrasah yang melakukan akselerasi kepada semua siswanya, meskipun mereka tidak memenuhi kriteria itu. hal ini ditemukan pada 1 sekolah di kawasan cikarang, 1 sekolah di kawasan bandung dan 2 madrasah di kawasan mojokerto. meskipun berkali-kali diingatkan, pimpinan sekolah/madrasah itu tetap meneruskan cara bekerja mereka yang menyimpang itu.

penyimpangan lain yang dilakukan, adalah menyiasati kebijakan untuk mengikuti Ujian nasional untuk siswa kelas aksel pada tahun 2013. POS UN tahun 2013 yang diterbitkan BSNP telah menetapkan bahwa peserta ujian nasional untuk kelas aksel harus memenuhi syarat angka IQ minimal 130. ketentuan ,ini mengakibatkan sekolah/madrasah yang siswa tidak memenuhi syarat semacam itu menjadi kelimpungan. Lagi-lagi cara tidak etis dilakukan seperti beberapa madrasah  yang melakukan uji ulang siswa di salah satu kabupaten di jawa timur bekerja sama dengan sebuah perguruan tinggi setempat. mereka melakukan ujian ulang untuk mendapatkan angka minimal 130. yang menyedihkannya perguruan tinggi tersebut bersedia memenuhi permintaan para pengelola madrasah tersebut. akhirnya keluarkan laporan hasil psikotes memberikan skor IQ siswa itu semuanya min. 130.

mengacu kepada kondisi tersebut, maka evaluasi memang harus dilakukan dalam upaya untuk perbaikan layanan, bukan bermuara pada penutupan atau pembubaran layanan aksel, sebagaimana disuarakan oleh beberapa orang, salahsatunya adalah seseorang yang tinggal di negara belanda.

hak untuk mendapatkan layanan bagi siswa yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa sesuai kebutuhannya, adalah amanat undang-undang sebagaimana diberikan kepada anak-anak normal atau anak-anak berkebutuhan khusus lainnya. pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi anak, bukan untuk menyamaratakan. keberadaan anak-anak dengan kualifikasi CI+BI akan terus ada sampai kehidupan dunia ini berakhir. Artinya mereka berhak mendapatkan apa yang sehrusnya mereka dapatkan.

Evaluasi layanan akselerasi harus didukung untuk meminimalisasi penyimpangan-pernyimpangan yang dilakukan oleh sekolah dan madrasah. evaluasi harus mengarah pada adanya upaya perbaikan dalam upaya optimalisasi layanan akselerasi yang sesuai dengan kaidah-kaidah akademis maupun yuridis. Dalam konteks ini, Asosiasi CI+BI Nasional siap berkolaborasi dengan Kemendikbud untuk melakukan evaluasi layanan aksel dan melakukan pembinaan yang memadai untuk layanan akselerasi di sekolah dan madrasah.

Penulis  : Amril Muhammad

Ujian Nasional 2013 untuk anak kelas akselerasi

Pada bulan Januari 2013, BSNP telah mengeluarkan prosedur operasional standar (POS) tentang ujian nasional bagi siswa di SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. POS ini setiap tahun dikeluarkan oleh BSNP sebagai panduan penyelenggaraan ujian nasional di sekolah dan madrasah di seluruh Indonesia. Tapi ada yang berbeda pada tahun ini, terkait dengan  peserta UN untuk siswa dari kelas Aksel. Pada hal 17  dijelaskan tentang persyaratan untuk mengikuti UN. dalam point e disebutkan bahwa “Peserta didik yang dapat menyelesaikan studinya selama 2 (dua) tahun dalam program akselerasi atau SKS harus menunjukkan bukti-bukti yang menunjukkan kemampuan istimewa yang dibuktikan dengan kemampuan akademik dari pendidik dan Intelligence Quotient (IQ) ≥ 130 (seratus tiga puluh) yang dinyatakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi psikologi terakreditasi atau lembaga psikologi lain yang direkomendasi BSNP; Aturan ini berartinya siswa aksel yang tidak memiliki IQ dibawah 130 tidak diperkenankan untuk ikut UN….

Asosiasi CI+BI Nasional telah lama mensinyalir beberapa sekolah/madrasah memasukan anak yang tidak memenuhi kualifikasi ke dalam kelas Aksel. hal itu bukan saja melanggar aturan tetapi merusak masa depan anak-anak itu. setiap anak punya tempat yang sesuai dengan kemampuannya, dan bukan dipaksakan sekedar memenuhi keinginan guru dan orang tua. Oleh karena itu kami sngat mendukung ketentuan UN yang diterbitkan oleh BSNP. Dengan demikian layanan aksel yang ditujukan untuk anak CI+BI akan makin terjaga dari upaya-upaya merusaknya. Namun demikian, kami juga masih ada kekhawatiran jika sekolah/madrasah tertentu melakukan rekayasa dengan cara mengubah skor IQ siswa atau mencari oknum PT tertentu mengadakan psikotes yang hasilnya bisa dirrekayasa. semoga kekhawatiran ini tidak terwujud, karena sayang sekali jika ada perguruan tinggi yang melakukan tidak semacam itu, yg tidak menjaga integritas dan profesionalisme akademisnya.

semoga aturan ini menyadarkan para pengelola aksel di sekolah/maddrasah untuk meluruskan niatnya dalam memberikan layanan akselerasi dan memasukkan anak yag memang sesuai kualifikasi. Salam. Amril Muhammad