UI Akan Cek Soal Siswa Peraih Medali yang Tidak Diterima

Minggu, 28 Juni 2009 | 18:12 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Deputi Direktur untuk Komunikasi Korporat Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, mengaku akan mengecek apakah lulusan SMA Negeri 1 Rembang Eka Prasetya Budi Mulya tidak diterima di Universitas Indonesia melalui jalur Program Pemerataan Kesempatan Belajar.

“Nanti kita cek dulu ke bagian penerimaan mahasiswa,” ujar Devie ketika dihubungi, Minggu (28/6).

Eka Prasetya Budi Mulya merupakan lulusan jurusan IPA Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Rembang yang pernah meraih berbagai medali dalam lomba ilmiah. Beberapa prestasi Eka di antaranya juara I lomba mata pelajaran Biologi tingkat kabupaten Rembang, juara 1 Olimpiade Biologi tingkat Kabupaten Rembang, juara I Olimpiade Biologi tingkat Jawa tengah dan tingkat nasional.

Namun, hingga kini ia belum memperoleh perguruan tinggi yang sesuai diharapkannya. Ia sendiri mengaku sempat mendaftar di Universitas Indonesia melalui jalur Program Pemerataan Kesempatan Belajar.

Menurut Devie, proses jalur masuk melalui Program Pemerataan Kesempatan Belajar di Universitas Indonesia biasanya universitas yang mengundang sekolah-sekolah untuk mengajukan calon siswanya.

“Ini adalah upaya kami untuk membantu siswa-siswa di daerah,” lanjut Devie. “Karena siswa di daerah tidak mendapat kesempatan belajar yang sama dengan di kota-kota besar.”

KODRAT SETIAWAN

Iklan

Siswa Peraih Medali Olimpide Belum Tentu Lulus SNMPTN

Minggu, 28 Juni 2009 | 19:47 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta – Rektor Universitas Negeri Yogyakarta yang juga bendahara panitia Wilayah II Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Rohmat Wahab, menilai siswa yang mendapat medali emas atau berprestasi di dalam maupun luar negeri belum tentu lulus SNMPTN.

Pasalnya, meski berprestasi di satu bidang mata pelajaran, belum tentu nilai di mata pelajaran lain bagus. “Mereka yang dapat medali emas mengambil 1 bidang studi, ada menang Olimpiade Matematika, sementara SNMPTN banyak pelajaran yang diujikan, bisa saja mereka tidak lulus,” kata Rohmat, Minggu (28/6).

Formulir pendaftaran yang diterima oleh panitia lokal Wilayah II SNMPTN 2009 sebanyak 15 381 buah. Formulir tersebut untuk tiga universitas yaitu, Universitas Gadjah Mada sebanyak 6.036, Universitas Negeri Yogyakarta 8745, dan Universitas Islam Negeri 600 formulir.

“Kalau tahun kemarin (2008) sekitar 14 ribu. Jadi ada kenaikan seribuan pada SNMPTN kali ini,” kata Rohmat.

Menurut dia, Universitas Gadjah Mada hanya menerima mahasiswa baru dari jalur SNMPTN sebanyak 10 persen dari total mahasiswa yang akan diterima.

Lokasi ujian SMNPTN yang akan diselenggarakan secara serentak digelar pada 1-2 Juli 2009 mendatang yaitu di Universitas Gadjah Mada 14 lokasi yang berpusat di kampus, Universitas Islam Negeri 4 Lokasi dan sebagian di Universitas Negeri Yogyakarta.

MUH SYAIFULLAH

Pemenang Olimpiade Internasional Bebas Kuliah Hingga Doktor

TEMPO Interaktif, Magelang: Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menyatakan, pemerintah tengah menyiapkan peraturan presiden tentang bea siswa penuh untuk pemenang olimpiade tingkat internasional.

Para peraih emas itu akan diberikan kesempatan untuk kuliah hingga jenjang doktoral di universitas manapun. Untuk peraih perak mendapatkan bea siswa hingga program master dimana saja. “Sedangkan perunggu hanya sampai program sarjana saja,” kata Mendiknas Bambang saat berkunjung ke SMU Taruna Nusantara Magelang, Jawa Tengah, Kamis (16/10).

Pembuatan Peraturan Presiden itu, kata dia, atas arahan Presiden Yudhoyono. “Saat ini sudah lebih dari 60 orang putra Indonesia yang meraih medali olimpiade internasional,” ujar Bambang. Pemberian penghargaan berupa bea siswa ini dilakukan agar siswa lainnya tergerak mengikuti prestasi kawan-kawannya. “Singapura dan Malaysia saja tidak pernah medali,” ucapnya.

Pemenang olimpiade internasional yang akan mendapatkan penghargaan itu berasal dari bidang sains, seni, dan olah raga. “Bidangnya nanti akan ditentukan pemerintah,” katanya. Ia berharap program bea siswa ini akan menjadi program yang populer karena bila populer presiden berikutnya akan turut menyukseskan program itu.

Sementara itu di tempat yang sama Mendiknas juga mengatakan pemerintah tengah mengkaji tanggal pelaksanaan Ujian Nasional terkait Pemilu 2009. “Pemerintah tidak akan merugikan siswa dengan memajukan atau memundurkan tanggal pelaksanaan,” tutur dia. Namun begitu hingga saat ini pemerintah belum memutuskan jadwal ujian yang sesuai

Sumber: Tempo Interaktif, 16 Oktober 2008

Hutang Pemerintah pada Pendidikan

JAKARTA – Pendidikan di Indonesia memang sudah mengalami kemajuan. Namun, kemajuan ini tidak secepat yang diharapkan, utamanya menyangkut perbaikan fasilitas perbaikan pendidikan itu sendiri. Bahkan, mengenai mutu pendidikan, dewasa ini, ternyata dinilai masih jauh dari harapan.

Anggota Fraksi Partai Golkar Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Anwar Arifin berpandangan bahwa hal itu membuktikan amanat UU Pendidikan Nasional mengenai sistem pendidikan nomor 20 tahun 2003 belum terlaksana sebagaimana mestinya.

Misalnya, kata Anggota Komisi X DPR (bidang pendidikan, kebudayaan dan pariwisata, pemuda dan olahraga, perpustakaan nasional) ini, pemerintah bertugas membuat kebijakan nasional pendidikan.

“Sebab itu, sampai hari ini, pemerintah belum punya yang dikatakan dalam PP. Jadi, perintah UU itu harus ada kebijaksanaan nasional pendidikan. Yang ada baru standar nasional pendidikan,” katanya kepada okezone, Senin (28/4/2008).

Adanya persoalan yang demikian mengakibatkan pendidikan yang berada di luar Departemen Pendidikan Nasional berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing melakukan pengembangan pendidikan sesuai selera.

Bukan hanya itu saja, ada lagi yang namanya pendidikan layanan khusus. Pendidikan model itu dinilai Anwar tidak dapat berjalan dengan baik. Maksudnya, karakter daerah yang berbeda, misalnya, di pulau-pulau, daerah perbatasan, daerah kumuh, itu tidak terlaksana sebagaimana perintah UU.

“Itu namanya layanan khusus. Seperti di Bantargebang, Kota Bekasi. Itu, kan, mestinya pendidikan layanan khusus berjalan di situ,” kata dia.

Kemudian, pendidikan untuk anak-anak yang memiliki bakat istimewa juga dinilai tidak berjalan. Misalnya, siswa yang memiliki kelebihan bakat pada bidang tertentu, ini tidak tergali dengan baik.

“Masa, dari 200 juta penduduk, mencari pemain bola 11 orang saja tidak bisa. Berarti kita tidak pantau bakat pemain bola. Jadi, hampir seluruh pengembangan bakat, tidak berkembang dengan baik,” ungkap Anwar.

“Jadi, kadang-kadang orang memilih sekolah itu tidak sesuai dengan bakatnya,” tambah dia.

Selanjutnya, pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Pendidikan ini mempertemukan potensi SDA dengan SDM. Indonesia merupakan wilayah yang paling panjang pantainya di dunia. Tetapi, realitanya sampai sekarang masih melakukan impor garam dari Negara lain.

“Karena tidak ada sekolah tentang garam. Kita tidak pernah diajari soal itu. Kekayaan alam kita tidak ketemu dengan kekayaan SDM. Misalnya, kita harus punya ahli garam, kelapa, coklat, kakau, lombok, ikan tuna. Kita tidak punya ahli-ahli semacam itu,” tandas Anwar.

Sebaliknya, yang paling banyak di Indonesia adalah sarjana Sosial Politik dan Manajemen.

Padahal, di dalam UU Pendidikan Nasional mengamanatkan untuk mengembangkan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. UU itu juga memerintahkan agar pemerintah pusat dan pemerintah daerah bekerjasama untuk pengembangan itu.

“Itu kesalahan terbesar dari bangsa kita. Jadi banyak SDM menganggur sarjana nganggur, ada banyak SDA yang mubazir. Jadi itu tidak bertemu itu,” katanya.(sis)

Sumber: Okezone.com 28 April 2008