PRINSIP UTAMA LAYANAN AKSELERASI

PRINSIP UTAMA LAYANAN AKSELERASI

Oleh. Amril Muhammad (Sekjend Asosiasi CI+BI Nasional)

 

Prinsip utama dalam penyelenggaraan layanan akselerasi untuk anak CI+BI adalah penerapan kurikulum diferensiasi. Kurifikulum diferensiasi kurikulum nasional dan lokal yang dimodifikasi dengan penekanan pada materi esensial dan dikembangkan melalui sistem eskalasi dam enrichment yang dapat memacu dan mewadahi secara integrasi pengembangan spiritual, logika, etika dan estetika, kreatif, sistematik, linier dan konvergen.

Pengembangan desain kurikulum bagi siswa akselerasi diperlukan karena kurikulum regular tidak mencukupi dan tidak cocok bagi siswa aksel. Hal ini disebabkan Siswa CI+BI memiliki beberapa karakter antara lain: mampu bertindak cepat (Saccuzzo, 1994), berkemampuan belajar mendalam (Davis & Rimm, 2003), berkemampuan memanipulasi konsep (Sternberg, 2003), berkebutuhan khusus dan memerlukan pembelajaran yang menantang (Baska, 2003).

Banyak dari guru menganggap sama perlakukan terhadap siswa akselerasi seperti halnya siswa regular.  Realitanya siswa akselerasi adalah berbeda baik dalam kecerdasan, kemampuan maupun minat sehingga tidak mungkin disamakan dengan siswa regular.  (Gross., 2000). Diperlukan antara lain kurikulum berdiferensiasi sebagai persyaratan pokok dalam penyelenggaraan layanan pembelajaran siswa akselerasi (Croft, 2003).

Dalam upaya menyusun kurikulum diferensiasi adalah penggunaan pendekatan peta konsep. Peta Konsep merupakan Merupakan salah satu intrumen yang digunakan untuk menata materi kurikulum agar diperoleh keterkaitan antar konsep dan keutuhan materi yang akan disajikan kepada siswa dalam satu kesatuan waktu (semester).  Dengan peta konsep siswa akan mengetahui cakupan, urutan dan seberapa banyak materi yang direncanakan akan dipelajari oleh siswa serta bagaimana hubungan antara materi satu dengan lainnya.

Peta konsep merupakan gambaran visual yang berisikan jumlah materi serta hubungan antar konsep. Peta konsep juga dinamakan dengan road map (McAleese, 1986) sebab peta konsep disamakan seperti peta jalan yang menunjukan letak tempat dan bagaimana urutan jalan yang harus diikuti bila seseorang menuju suatu tempat.

Dalam kenyataannya di lapangan, masih banyak pengelola aksel di sekolah/madrasah belum memahami bagaimana wujud kurikulum diferensiasi dan bagaimana menyusunnya. Penerapan kurikulum diferensiasi harus didukung dengan 3 dokumen perangkat pembelajaran lainnya, yaitu silabus siswa, rekam jejak siswa dan jadwal pelajaran berbasis topic atau pokok bahasan. Silabus siswa akan menggambarkan pokok-pokok bahasan yang akan dipelajari siswa yang dilengkapi dengan tugas yang harus dilakukan siswa untuk setiap pokok bahasan.

Tugas merupakan suatu aktivitas yang dilakukan siswa di luar jam tatap muka. Tugas yang diberikan kepada siswa memiliki dua tujuan, yaiatu (1) memperkuat penguasaan materi dan kompetensi siswa terhadap materi yang disampaikan pada hari ini dan (2) mempersiapkan hal-hal yang harus dibawa atau disiapkan siswa untuk pembelajaran tatap muka pada pertemuan  berikutnyea. Silabus siswa juga dilengkapi dengan informasi mengenai sumber belajar, terutama yang berasal dari buku dan dunia maya. Untuk sumber belajar dari buku, harus dijelaskan buku yang dirujuk terkait dengan judul, penulis, penerbit, tahun terbit dan halaman yang memuat materi yang dimaksud. Sedangkan untuk informasi yang terdapat di dunia maya harus mencantumkan alamat situs yang dirujuk dan akan dikunjungi oleh siswa. Dengan adanya informasi ini, maka siswa menjadi efisien penggunaan waktu di depan internet dan menghindari mereka dari kemungkinan membuka situs-situs yang tidak perlu.

Rekam jejak siswa memuat informasi tentang pokok bahasan, tanggal tuntas dari setiap siswa menyelesaikan pokok bahasan dan nilai yang diperoleh. Berdasarkan dokumen ini, siswa boleh memilih atau mengajukan diri unutk mendapatkan nilai lebih dahulu temannya sebelum materi pelajaran diberikan. Hal ini bisa terjadi karena sangat mungkin mereka sudah pernah mendapatkan materi yang sama pada jenjang pendidikan sebelumnya dan mereka sudah menguasai materi itu sebelum diajarkan oleh guru. Ketika materi pelajaran tersebut dibahas, maka siswa yang telah tuntas dapat menjadi asisten guru yang bisa membantu siswa lain untuk agar lebih mengerti materi pelajaran itu. Disinilah pendekatan tutor sebaya diterapkan. Di samping itu, dengan pendekatan semacam ini, siswa yang sudah menguasai materi lebih belajar untuk memahami konsep bahwa kehebatan seseorang baru akan bermanfaat jika bisa membantu orang lain yang belum  mampu.

Penggunaan jadwal pelajaran berbasis topic atau materi pelajaran akan mendorong siswa menjadi focus untuk mengikuti pelajaran dan mempelajari lebih dahulu materi yang akan dipelajari di kelas. Penggunaan jadwal semacam ini juga menjadi menarik, karena siswa tidak hanya mengenal nama mata pelajaran, tetapi juga mengenal pokok bahasan. Hal ini juga dapat menghindarkan siswa dari ketakutan atau kebosanan dalam melihat nama-nama mata pelajaran. Penggunaan jadwal ini juga menjadikan penerapan prinsip transparansi dalam pembelajaran bisa dilakukan. Kepala sekolah dan pengawas yang datang pada suatu ketika, akan tahu materi pelajaran yang dipelajari pada tanggal/hari atau jam terentu. Begitu pula orang tua, akan mengetahui materi pelajaran apa yang dipelajari anaknya di sekolah.

Materi pelajaran unutk kelas akselerasi Jangan terlalu menekankan pada aspek kognitif tetapi harus mendorongterjadinyaPenyeimbangan pembelajaran dilakukan dengan menyajikan aspek sintetik dan praktikal. Materi yang tercakup harus berisikan materi unggul dan problem solving. Implikasinya, guru harus mampu mengubah struktur materi pelajaran yang mengarah pada struktur materi kasus.

Coooperative learning siswa CI+BI MTsN Sumber Bungur Pamekasan

Coooperative learning siswa CI+BI MTsN Sumber Bungur Pamekasan

Selanjutnya dari segi materi, muatan dari materi pelajaran dipilah menjadi materi esensial dan non esensial. Materi esensial adalah yang harus disampaikan kepada siswa melalui bimbingan khusus atau personal kepada siswa karena dianggap penting bagi siswa.  Tingkat intensitas kepentingan materi esensi adalah wewenang guru dalam penetapannya dengan memperhatikan beberapa hal berikut : (a)  Merupakan konsep dasar yang harus dimengerti siswa untuk memahami materi selanjutnya. (b) Materi yang sering atau pasti keluar di ujian nasional dan (c) Materi yang sulit dan memerlukan bimbingan khusus oleh guru.

Materi non esensial adalah Dapat dipelajari siswa melalui penugasan dan pembahasan sepintas. Pada prinsipnya materi non esensial ini merupakan materi yang dapat dibaca dan dipahami siswa tanpa bimbingan khusus dari guru. Dalam pengelolaan materi non esensial ini siswa dioptimal dengan penggunaan IT. Oleh karena itu penyediaan sarana IT untuk kelas akselerasi bukanlah ditujukan untuk gagah-gagahan tetapi untuk mendukung efektivitas pembelajaran bagi siswa CI+BI.

Konsekuensi perapan diferensiasi dalam layanan akselerasi tidak hanya berhenti pada diferensiasi kurikulum tetapi juga domain lainnya yaitu pada pembelajaran, pada kebutuhan siswa sehingga sesungguhnya dalam melayani pembelajaran diperlukan tindakan diferensiasi pula. Tidak memberikan dampak positif kurikulum berdiferensiasi diberlakukan tetapi strategi pembelajarannya tidak menyesuaikan (Tomlinson, 2003).

Adalah kekeliruan mendasar dalam pengelolaan pembelajaran di kelas akselerasi ketika pembelajajaran yang dilakukan:

  • Tidak membedakan kecepatan belajar siswa
  • Tingkat membedakan minat dan tingkat keunggulan siswa
  • Mematikan kreativitas yang tampak siswa dilarang menggunakan cara berbeda dengan yang diajarkan
  • Guru Tidak memahami sensitivitas sosial emosional siswa
  • Tidak memberi ruang yang cukup bagi anak beraktivitas
  • Anak dipaksa belajar dengan modul yang hanya berfokus pada ringkasan materi dan latihan soal. Hal ini akan mereduksi penguasaan materi pelajaran oleh siswa. Belum lagi seringkali modul yang digunakan adalah hasil produksi guru yang bersifat plagiat dan tidak dilakukan penilaian oleh ahli bidang substansi materi dan metodologi.

Selanjutnya dalam penilaian, harus mengacu pada Mengacu pada indikator yg disusun dalam silabus, Lebih menekankan pada produk dan hasil karya. Selanjutnya penilaian juga Minimalisasi pada paper & pencil test, Minimalisasi soal pilihan ganda, jika dilakukan arahnya kemampuan analisis siswa seperti soal yang menggunakan model sebab akibat. Jika ada yang materi tidak dikuasai siswa kemudian berdampk mereka mendapat mungkin dapat nilai jelek, maka  remedial langsung dilakukan setelah hasil diketahui. Soal ujian berbeda juga dapat dibuat berbedasehingga dapat  menghindari dari perilaku mencontek. Selanjutnya Penilaian sikap/budi pekerti dilakukan pada saat proses belajar dan kerja siswa berlangsung.

Apabila prinsip-prinsip di atas diterapkan oleh sekolah/madrasah penyelenggara layanan akselerasi, maka layanan itu akan menjadi efektif. Tetapi bila tidak dipahami dan tidak dilakukan, maka layanan akselerasi yang dilakukan menjadi keliru, dan menjadikan layanan akselerasi dengan menu regular. Hal ini lah yang kemudian memunculkan salah paham terhadap layanan akselerasi yang dianggap hanya mempercepat penyelesaian studi, tanpa memahami substansi.

Dalam konteksi inilah, maka Asosiasi CI+BI nasional memberikan pelatihan ke sekolah/madrasah dalam bentuk Inhouse training, agar semua warga sekolah/madrasah memahaminya.  Sasaran pelatihan, bukan saja guru, tetapi juga orang tua dan siswa. Berikut ini adalah daftar sekolah/madrasah yang telah mengikuti pelatihan penyusunan kurikulum diferensiasi, yaitu:

  1. SDN 07 Kota Ciamis
  2. SD Al Azhar BSD
  3. SMPN 3 Cilacap
  4. SMPN 2 Dumai
  5. SMPN 1 Cisaat Sukabumi
  6. SMPN 1 Pangandaran
  7. SMPN  1 Tasikmalaya
  8. SMP Al Azhar BSD
  9. SMAN 1 Purwokerto
  10. SMAN 2 Dumai
  11. SMA Dharma Loka Pekanbaru
  12. SMA Don Bosco Padang
  13. SMAN 81 Jakarta
  14. SMAN 3 Salatiga
  15. SMAN 7 Kediri
  16. MTs PPMI Assalam Sukoharjo
  17. MTsN Sumber Bungur  Pamekasan Madura
  18. MTsN Pajarakan Probolinggo
  19. MTsN Denanyar Jombang
  20. MTsN Pare Kediri
  21. MTsN Kunir Blitar
  22. MTsN Temboro, Magetan
  23. MTsN Kota Madiun
  24. MTsN Lumajang
  25. MTsN Paron 2 Ngawi
  26. MTsN Tanjung tani Nganjuk
  27. MTsN Bangkalan Madura

Kita berharap sekolah/madrasah yang lain akan segera melakukan pelatihan ini, agar para guru memahami dan terampil dalam mengelola kurikulum, pembelajaran dan penilaian terkait dengan layanan akselerasi di sekolah/madrasah.

bareng pengurus aksel tanjung tani

IHT Aksel di MTsN Sumpa

Iklan

HATI-HATI MASUK KELAS AKSELERASI

Sejak RSBI/RMBI dinyatakan terlarang atau bubar oleh Mahkamah Konstitusi pada awal tahun 2013, banyak sekolah/madrasah pelaksana RSBI/RMBI kebingungan untuk mengembangkan layanan unggulan di sekolah. Pada tahun 2010, Direktorat PSMP pernah mengeluarkan surat larangan kepada SMP yang menjadi rintisan RSBI untuk menutup semua program-program unggulan yang ada termasuk AKSELERASI. Asosiasi CI+BI Nasional kemudian merespon surat larangan tersebut dengan menulis kepada Direktur PSMP Kemendiknas dan Dirjen Dikdasmen (waktu itu), yang mempertanyakan keluarnya larangan tersebut dan meminta berdialog.

Dalam dialog tersebut diperoleh temuan bahwa Direktur PSMP tidak memahami dengan benar apa yang dimaksud dengan AKSELERASI dan beliau menerima informasi yang salah dari seorang oknum konsultan yang bernama KH. KH ini juga merupakan adik dari ESY konsultan pada direktorat yang lain, yang juga menginginkan supaya AKSELERASI dibubarkan dengan mengganti menjadi istilah kelas CI atau kelas CI Inklusi. Alhamdulillah sebagian sekolah masih menyadari surat yang keliru itu, dan tetap membuka layanan akselerasi.

Dalam perjalanannya kemudian, ternyata justru RSBI/RMBI yang dibubarkan dan dinyatakan terlarang berdasarkan keputusan Mahkamah KOnstitusi. Munculnya larangan ini membuat sekolah yang punya RSBI melirik AKSELERASI sebagai produk unggulan mereka. Sehingga berlomba-lombalah mereka membuka kelas AKSELERASI, meskipun mereka tidak paham konsep dan bagaimana layanan AKSELERASI dilakukan. Di sebuah kota di Pulau Jawa, sempat walikotanya mengeluarkan larangan membuka kelas aksel di sekolah-sekolah. Tapi kemudian pada awal bulan Juni 2013, justru di kota tersebut didorong untuk membuka kelas AKSELERASI.

Maraknya keinginan sekolah/madrasah untuk membuka layanan AKSELERASI di satu sisi perlu disambut dengan baik, karena memang jumlah sekolah/madrasah yang memberikan layanan ini masih sangat mini, baru mampu menampung sekitar 1% (sekitar 10.00an) anak usia sekolah yang berpotensi CI+BI. TETAPI jika pemberian layanan dilakukan oleh orang-orang yang tidak paham tentang konsep, kurikulum, pembelajaran, penilaian dan cara pengelolaan program, maka program ini akan sekedar mempercepat penyelesaian studi, tanpa masuk pada hal yang substantive.

Pada sekolah/madrasah yang sekarang ini berjalan saja, masih sedikit yang guru pernah diberikan pelatihan dan bekerja untuk menyusun kurikulum diferensiasi dan pengelolaan AKSELERASI. Di Sumatera Barat, yang pernah berworkshop layanan AKSELERASI adalah SMA Don Bosco Padang, di Jakarta adalah SMAN 81,di Jawa Barat, antara lain: SMPN 1 Tasikmalaya, SMPN 1 Pangandaran dan SDN 07 Ciamis. Di Jawa Tengah antara lain: SMA YSKI Semarang, MTs Assalam Solo, SMAN 1 Purwokerto, SMPN 3 Cilacap. di Jawa Timur : MTs Sumber Bungur di Pamekasan Madura, MTs Denanyar di Jombang, dan MTs Pajarakan di Probolinggo. Di banten: SDI Al Azhar Serpong dan SMP al Azhar Serpong.

Guru yang tidak pernah mendapatkan pelatihan dalam memberikan layanan akselerasi akan berimplikasi mereka memberikan layanan yang keliru dan justru menjadikan anak memiliki beban belajar yang sangat berat.

Oleh karena itu, masyarakat yang ingin memasukan anaknya ke layanan AKSELERASI harus mengecek betul kesiapan sekolah/madrasah tersebut. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian orang tua yang akan memasukan anaknya ke kelas aksel adalah:

1. Apakah sekolah/madrasah yg bersangkutan telah memiliki ijin membuka kelas aksel. Jika sekolah tidak memiliki ijin, maka keberadaan layanan akselerasi tidak akan diakui dan berakibat siswa tidak bisa ikut ujian nasional maupun ujian masuk perguruan tinggi.

2. Apakah sekolah/madrasah sudah menyusun kurikulum diferensiasi dan melatih guru untuk melakukan pembelajaran dan penilaian yang sesuai karakteristik layanan akselerasi

3. Apakah putra bapak/ibu memiliki IQ min. 130 dengan skala weschler, yang diuji oleh psikolog dari perguruan tinggi dan biro psikologi yang terakreditasi oleh BNSP?…jika ternyata putra bapak/ibu memiliki IQ di bawah 130, jangan menerima tawaran itu, karena berisiko putra bapak/ibu tidak bisa mengikuti ujian nasional.

4. Para orang tua jangan mau anaknya dilatih terlebih dahulu sebelum mengikuti psikotes. Karena psikotes bukan seperti ujian yang mencari nilai setinggi-tingginya, tetapi psikotes merupakan cara untuk mengetahui seorang anak, apakah mereka tepat untuk mengikuti program AKSELERASI, atau lebih tepat di program regular.

5. Jangan ragu bertanya kepada Asosiasi CI+BI Nasional terkait dengan layanan akselerasi.

Apabila orang tua/masyarakat bersikap kritis dan mau melakukan pengecekan dengan benar, Insya Allah mereka akan terhindar dari layanan AKSELERASI yang tidak sesuai. Dengan ini pula, eksistensi layanan AKSELERASI akan dapat dijaga dari gangguan dan rongrongan segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan materi dari layanan AKSELERASI, tetapi melanggar hal-hal yang mendasar. Sehingga dapat berimplikasi menguatnya sebagian kecil orang yang menghendaki layanan AKSELERASI dibubarkan.

Salam.

Amril Muhammad

Sekolah/Madrasah yang telah Menyusun kurikulum Diferensiasi

SETIAP PENYELENGGARA LAYANAN AKSELERASI….
wajib memiliki kurikulum diferensiasi..kurikulum berdiferensiasi merupakan persyaratan pokok dalam penyelenggaraan layanan pembelajaran siswa akselerasi (Croft, 2003).

Kurikulum diferensiasi merupakan kurikulum nasional dan lokal yang dimodifikasi dengan penekanan pada materi esensial dan dikembangkan melalui sistem eskalasi dam enrichment yang dapat memacu dan mewadahi secara integrasi pengembangan spiritual, logika, etika dan estetika, kreatif, sistematik, linier dan konvergen. Dengan demikian kurikulum diferensiasi bukanlah kurikulum di suatu semester lalu dipampatkan begitu saja, karena alasan waktu yang berkurang.

Proses penyusunan kurikulum diferensiasi harus melibatkan analisis kurikulum yang ada, lalu dilihat subtansi materi pelajaran yang bisa dipilah menjadi materi esensial dan non esensia. Proses ini tidak bisa dilakukans sendiri oleh sekolah/madrasah, tetapi dilakukan melalui workshop dengan pendampingan.

Daftar sekolah/madrasah yang telah bergerak menuju kurikulum diferensiasi yang benar adalah:

1. SMP Negeri 3 Cilacap Jawa Tengah
2. SMP Negeri 1 Cisaat, Sukabumi Jawa Barat
3. SMP Negeri 1 Tasikmalaya Jawa Barat
4. SMP Negeri 2 Dumai, Riau
5. SMP Al Azhar Bumi Serpong Damai, Banten
6. MTs Negeri Sumber Bungur, Pamekasan Madura Jawa Timur
7. MTs Negeri Pajarakan, Probolinggo Jawa Timur
8. MTs PPMI As Salam, Sukoharjo Jawa Tengah
9. SD Negeri 07 Ciamis, Jawa barat
10. SD Al Azhar Bumi Serpong Damai, Banten
11. SMA Negeri 2 Dumai, Riau
12. SMA Negeri 81 Jakarta
13. SMA Dharma Loka Pekanbaru, Riau.

semoga sekolah/madrasah mau menyusul untuk melakukan penysunan kurikulum diferensiasi dengan benar…

Jawaban Panitia SNMPTN 2012

BOLEH JADI…
jawaban dari panitia pelaksana SNMPTN 2012 yang diketuai oleh Rektor ITB tidak cukup memuaskan kita semua. Tapi paling tidak, siswa-siswa kelas akselerasi di SMA/MA tetap bisa 100% ikut seleksi PTN lewat jalur undangan, jika masuk dalam kelompok 50% terbaik di suatu SMA/MA..
Hal ini harus menjadi perhatian bagi para pengelola program akselerasi agar benar-benar memasukkan anak ke program, karena mereka memenuhi kriteria. Karena seharusnya potensi yang tinggi dimiliki oleh siswa akselerasi tercermin pada prestasinya. Siswa aksel akan menjadi underachiever karena layanan dalam pembelajaran tidak tepat, meski mereka sudah dimasukan ke dalam kelas khusus. Kondisi inilah yang kemudian masih banyak orang yang meragukan kelas aksel.
Hal ini harus diperbaiki dengan memasukan anak ke kelas aksel jika memang memenuhi kriteria dan lalukan pelayanan dengan benar melalui penyusunan kurikulum diferensiasi yang benar yang diikuti oleh strategi pembelajaran dan penilaian yang sesuai.

Surat tanggapan dari Panitia SNMPTN 2012

Benahi Aksel

KEKELIRUAN MENDASAR….
dalam pengelolaan program aksel adalah meminimalkan kesempatan anak CI+BI untuk mengembangkan diri melalui aktivitas di sekolah maupun lomba2. Hal ini menyebabkan kompetensi mereka selain akademik tidak berkembang secara optimal. Anak CI+BI dalam kelas akselerasi seringkali habis waktu terbenam mengerjakan berbagai tugas..dipaksa belajar..belajar dan belajar..

Hal ini terjadi karena sekolah/madrasah belum mampu menyusun kurikulum diferensiasi yang benar dan mengelola pembelajaran yang berbasis karakteristik anak CI+BI. Kurikulum yang digunakan seringkali hanya bersifat pemanpatan atau dikurangi..dan melimpahkan banyak tugas kepada siswa untuk belajar sendiri..

Pembelajaran yang digunakan seringkali tidak jauh beda dengan anak di kelas reguler, sehingga pengembangan kemampuan sintesis, analisis dan praktikal anak CI+BI tidak berjalan baik. Mereka masih diposisikan penerima materi atau diminta melakukan eksplorasi tanpa dukungan yang memadai…hal inilah yang antara lain menyebabkan problem-problem psikologis mereka cenderung tak pernah tertangani dengan baik atau justru meningkat.

Menurut Van Tassel-Baska…masalah psikologis pada anak CI+BI lebih bersifat mitos. artinya jika anak CI+BI mendptkan muatan kurikulum yang memadai dan metode pembelajaran yang melibatkan fisik dan mental mereka..maka masalah psikologis itu lambat laun akan berkurang dan bahkan hilang.

penelitian yang dilakukan Swiatek dan Benbow (1991) menyimpulkan bahwa penggunaan model akselerasi yang benar akan mampu mengembangkan secara positif kompetensi dan kemampuan siswa dan sekaligus dapat mengurangi efek negatif dari aspek sosial dan emosional mereka.

langkah awal untuk membenahi keadaan ini adalah sekolah harus menyusun kurikulum diferensiasi yang benar sesuai dengan karakteristik siswa dan sumber daya di setiap sekolah/madrasah. tindakan mencopi atau menyalin kurikulum diferensiasi dari sekolah/madrasah lain, bukan hal yang positif.

Penyusunan kurikulum diferensiasi secara benar, tampaknya memang memberatkan. tapi jika kurikulum itu sudah dibuat, guru akan menemukan esensi dari program akselerasi dan dapat menyimpulkan bahwa mengelola program akselerasi terutama pembeljaran adalah hal mudah. Penyusunan kurikulum diferensiasi cukup dilakukan sekali. pada tahun-tahun berikutnya tinggal dilakukan penyempurnaan seperlunya..