JANGAN MASUKAN ANAK NON CI+BI KE KELAS AKSELERASI

Pengantar

Bulan ini, Juli 2012 bertepatan dengan ramadan 1433 H, sekolah/madrasah memasuki awal tahun ajaran. Artinya sekolah/madrasah juga mulai menerima siswa untuk kelas akselerasi. Namun sayangnya masih banyak kepala sekolah/madrasah yang tidak mau mengerti bahwa akselerasi itu adalah layanan untuk anak yang memiliki kualifikasi CI+BI, bukan asal memasukan anak demi gengsi sekolah/madrasah.

Di kabupaten malang, ada sebuah MTs yang kelas akselnya tetap dibuka, padahal tidak ada satupun anak yang memenuhi kualifiksi CI+BI. di Mojokerto ada madrasah yang yang semua siswanya dimasukkan ke dalam program aksel. Hal yang sama juga terjadi pada sebuah sekolah islam di cikarang. Ini baru sebagian kecil penyimpangan yang terjadi. Lebih parahnya lagi penyimpangan ini justru terjadi pada lembaga pendidikan yang menyebut dirinya berbasis agama.

Foto bareng anak CI+BI SMPN 1 Kota Sukabumi saat acara dialog dengan orang tua dan siswa kelas aksel SMPN 1 Kota Sukabumi

Asosiasi CI+BI Nasional juga berterima kasih pada sekolah/madrasah yang konsisten hanya menerima anak CI+BI di kelas aksel, meskipun jumlah terbatas, seperti di SMP Islamic Village Tangerang dan MTs As Salam di SUkoharjo Jawa Tengah.

Penampilan Anak CI+BI SMPN 1 Cisaat ketika Pembukaan Acara Workshop Kurikulum Diferensiasi untuk guru SMPN 1 Cisaat Sukabumi, Jawa Barat

Layanan Akselerasi untuk anak CI+BI

Adanya peserta didik yang tidak sesuai kriteria CI+BI, yang kemudian menjadikan layanan akselerasi tidak optimal. Dampaknya, di masyarakat muncul sorotan negatif tentang program akselerasi karena membuat peserta didik menjadi “teralienasi” dari lingkungannya.  Hal ini menjadi alasan sebagian kelompok masyarakat menyarankan program ini dibubarkan.

Keinginan untuk membubarkan program akselerasi ini tentu saja tidak tepat, karena penelitian yang dilakukan oleh Swiatek dan Benbow (1991) menyimpulkan bahwa penggunaan model akselerasi yang benar akan mampu mengembangkan secara positif kemampuan anak CI+BI dalam pengetahuan yang semakin baik dan berkurangnya efek negatif dari aspek sosial dan emosional. Penelitian yang yang dilakukan Robinson dan Janos (1989) menyimpulkan bahwa layanan akselerasi tidak akan merusak siswa CI+BI apabila dilakukan secara benar.

Pemaksaan agar siswa CI+BI dimasukkan dalam kelas bersama anak non CI+BI juga tidak terlalu tepat. Lena Hollingsworth (1995) bahkan menyatakan bahwa lingkungan sekolah reguler tidak sesuai dengan kebutuhan siswa CI+BI. Sehingga bila lingkungan itu dipaksakan pada siswa CI+BI, justru mereka akan mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan sebaya dan juga terbentuknya sikap apatis.

Layanan pembelajaran yang kurang sesuai akan menyebabkan siswa CI+BI berprestasi di bawah kinerjanya. siswa CI+BI membutuhkan kurikulum yang berbeda dengan anak reguler, karena layanan reguler dapat mengakibatkan mereka berprestasi rendah. Hal ini disebabkan siswa CI+BI mempunyai perbedaan secara intelektual, ketertarikan serta kebutuhan di atas rerata siswa seumurnya.

Di sisi lain, layanan pendidikan yang tidak memadai dapat memunculkan stres yang kemudian menjadikan munculnya penyimpangan. Penyimpangan yang terjadi antara lain: pelarian menjadi pecandu narkoba atau melakukan tindakan kontraprestatif seperti pembrontakan terhdap lingkungan atau prestasi yang jauh dari potensi yang dimiliki.

Kesimpulan

Anak CI+BI adalah anak yang dikaruniakan potensi luar biasa…tetapi potensi itu akan sulit teraktualisasi sebagai prestasi luar biasa jika tidak diberikan DUKUNGAN yang memadai…

Sebaliknya…anak2 yang tidak memiliki potensi bawaan yang biasa, meskipun dengan pendidikan yang luar biasa, akan SULIT mencapai prestasi luar biasa..

JADI….layani anak CI+BI dalam program akselerasi dengan benar…DAN….jangan paksakan anak yang tidak berkualifikasi Ci+BI untuk masuk dalam program akselerasi..
Penulis: Amril Muhammad

16 thoughts on “JANGAN MASUKAN ANAK NON CI+BI KE KELAS AKSELERASI

  1. Jadi, misalnya sekolah sudah mendapat ijin untuk membuka kelas aksel tetapi ternyata tidak ada anak yang memenuhi kriteria CI+BI, ijin itu tetap boleh dipakai untuk tahun-tahun selanjutnya ya Pak? Kalau untuk wilayah kab. Blora, Jateng, menghubungi asosiasi CI+BI wilayahnya mana/siapa ya Pak? makasih

  2. betul sekali…kalo tetap membuka aksel padahal siswanya tidak ada yg memenuhi syarat, justru ijinnya bisa dicabut..
    untuk informasi tentang layanan anak CI+BI…silahkan langsung saja berhubungan dengan kami di hp. 0812 8262 594 dengan Amril Muhammad…Insya Allah kami bisa membantu untuk hal-hal yang terkait dengan layanan pendidikan bagi anak CI+BI…
    tks

  3. makasih ya pak Amril atas penjelasannya…kebetulan saya memang diminta oleh KS saya untuk menyusun proposal dan memang sampai sekarang belum saya buat…setelah membaca semuanya yang bapak tulis, mestinya saya perlu tahu dulu apakah workshop penyusunan kurikulum diferensiasi disusun sebelum proposal dibuat atau sesudahnya…lain waktu saya akan menghubungi bapak melalui hp. Lalu, ada persyaratan minimal jumlah siswa di satu kelas aksel berapa orang pak?

  4. untuk pengajuan izin, sekolah harus melakukan sosialisasi dan pelatihan dulu yang narasumbernya berasal dari Asosiasi CI+BI Nasional. pelatihan terkait dengan penyusunan kurikulum diferensiasi.
    setelah menyelenggarakan pelatihan, sekolah akan kami berikan rekomendasi untuk mengajukan perijinan. biasanya ijin akan keluar setelah 1 tahun penyelenggaraan aksel dilaksanakan.
    untuk jumlah siswa tidak ada jumlah minimal, yang penting jangan terlalu sedikit sehingga menyulitkan. yang ada adalah pembatasan jumlah maksimal 1 klas 20 dengan syarat memenuhi kriteria.
    tk

  5. Jumlahnya anak CI+BI yang ada kecil, berapa persen ya ? Apakah perizinan akselerasi dibentuk dari beberapa sekolahan terdekat dan dipusatkan menjadi satu pada satu sekolahan yang strategis dan bisa di jangkau oleh semua murid CI+BI ?
    Untuk anak sekolah kejuruan kok tidak pernah dibahas mengenai anak CI+BI ? Terimakasih kepada ASOSIASI CI+BI NASIONAL, kami mohon penjelasan.

  6. jumlah anak ci+bi hanya 2% dari populasi anak..jadi kalo anak Indonesia usia sekolah ada 65 juta (data BPS), maka ada 1,3 juta anak CI+BI…tapi belum semua terakses dalam layanan akselerasi karena jumlah sekolah/madrasah yang terbatas, anak CI+BI belum terindentifiasi atau memiliki keterbatasan pembiayaan untuk mengikuti pendidikan.
    sekolah/madrasah bisa menyelenggarakan aksel jika akreditas A, dan memang ditemukan ada ank itu di sekolah, jadi bukan sekolah yang disentralkan. rata2 kelas ci+bi di sekolah cuma 2 saja, kalo disentralkan, kasihan gurunya tidak memenuhi syarat 24 jam mengajar per minggu, bisa bermasalah ke sertfikasi guru.
    anak CI+Bi membutuhkan percepatan, sedangkan kejuruan itu membutuhkan waktu berlatih yang lebih banyak untuk menjadi mahir…maka kurang tepat di kejuruan dilakukan akselerasi..
    tks

  7. Permasalahannya begitu,..dari keterangan Anda saya lebih mengerti, memang tidak mudah untuk mengelolah Anak CI+BI faktor kesulitan di lapangan lebih besar
    dari teori. Saya bisa tahu lebih jelas dari Anda termasuk perbandingan dengan sekolah kejuruan. Terimakasih siapapun Anda memberikan jawaban yang akurat.

  8. yth. vivin
    kurikulum diferensiasi itu dibuat oleh masing-masing sekolah mengacu pada kurikulum nasional dan lokal yang dimodifikasi.
    tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s