MODUL untuk AKSEL

SULIT DITERIMA AKAL SEHAT….

ketika seorang guru program aksel harus menyusun puluhan atau bahkan ratusan modul untuk satu mata pelajaran yang menjdi tanggung jawabnya…
Dapat dipastikan kalo modul itu cuma modul-modulan..guru mendapat beban tambahan karena menulis modul..begitu juga siswa yang dipaksa membaca modul yang begitu banyak..yang sulit dipahami juga adalah ketika modul yang dibatkan berdasarkan kompetensi dasar. Padahal tidak semua kompetensi dasar yang harus dikuasa siswa dapat dibuatkan modulnya.

Universitas Terbuka yang begitu besar saja, hanya membuat paling banyak 2 modul untuk setiap mata kuliah. Kalau pun dipisah menjadi dua lebih disebabkan jumlah halaman yang terlalu tebal, sehingga tidak efektif kalo dijadikan satu.

Sayang..mereka tak mau memahami bahwa anak aksel itu bukanlah pembaca tekun kecuali pada hal-hal yang menarik perhatian mereka. Disamping itu, hal-hal yang bisa termuat di dalam modul hanya materi yang bersifat faktual dan konseptual. sedangkn materi pelajaran yang bersifat prosedural dan meta kognitif harus dilakukan secara tatap muka lewat problem-base learning atau work-based learning…

Sekali lagi…kalopun modul akan dibuat, mulailah dengan melakukan analisis kurikulum terlebih dahulu untuk bisa memetakan pengelompokkan SK-KD serta materi esensial dan non esensial…lakukan kerjakan modul itu dengan cara berkolaborsi dengan siswa melalui pemanfaatan.. dengan cara seperti terjadi proses akselersi pemahaman materi dan sekaligus siswa dan guru memiliki produk bersama.

Kalo ini bisa dilakukan, guru dan siswa akan sama2 senang, beban tidak banyak, tetapi proses berlangsung efektif dan ada produk kerja yang dihasilkan bersama..
inilah salah model pembelajaran dalam kelas aksel yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran secara mental maupun fisik.

One thought on “MODUL untuk AKSEL

  1. BAGI MEREKA….yang NGOTOT untuk menggunakan modul untuk siswa di kelas akselerasi, mohon pertimbangkan betul kelemahan modul menurut Morrison, Ross, dan Kemp (2001), yaitu :

    1. Interaksi antara pembelajar dan pebelajar berkurang , padahal anak CI+BI membutuhkan bimbingan dari guru.
    2. Pendekatan tunggal menyebabkan monoton dan membosankan, padahal materi pembelajaran dan prosesnya membutuhkan kondisi yang menantang, terbuka dan bervariasi;
    3. kemandirian yang bebas, menyebabkan pebelajar tidak disiplin dan menunda mengerjakan tugas, padahalan anak CI+BI membutuhkan bimbingan untuk membangun kultur belajar dan batasan waktu;
    4. Perencanaan harus matang, memerlukan kerja sama tim, memerlukan dukungan fasilitas, media, sumber dan lainnya.
    5. Persiapan materi memerlukan biaya yang lebih mahal

    Masalah lain dalam penggunaan sistem modul untuk siswa Ci+BI adalah:

    1. Anak CI+BI bukan pembaca yang tekun, kecuali pada hal-hal yang menjadi minat mereka.
    2. Penyusunan modul yang asal-asalan, tidak melakukan analisis kurikulum yang sesuai dengan anak CI+BI dan materi copi paste dari buku orang lain, jelas hal yang melanggar etika akademis.
    3. Penyusunan modul oleh guru yang tidak melibatkan tenaga ahli dalam bidang materi, metodologi dan orang yang memahami anak CI+BI, akan menjadikan validitas materi dan keterbacaan dipertanyakan, begitu juga kelayakannya sebagai salah satu sumber belajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s