MEMBANGUN BUDAYA MENELITI PADA ANAK CI+BI

penilaian hasil penelitianBerita yang disajikan oleh media cetak pada beberapa hari yang lalu mengutip pernyataan Dirjen Dikti, Prof. Dr. Fasli Jalal dan Wakil Rektor ITB bidang Riset dan Inovasi, Prof. Dr. Indratmo Soekarno. Inti dari pernyataan dua tokoh itu adalah kerisauan terhadap minimnya jumlah artikel ilmiah yang dihasilkan oleh para peneliti Indonesia dari lingkungan kampus atau non kampus. Rendahnya jumlah artikel itu menggambarkan rendahnya jumlah penelitian bermutu yang dihasilkan oleh para peneliti.

Sejauh ini, budaya meneliti di kalangan ilmuwan Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini disebabkan pembelajaran tentang penelitian baru diberikan pada jenjang perguruan tinggi. Jika diperhatikan lebih lanjut, fokus penelitian yang lebih serius baru terjadi di tingkat pascasarjana. Sementara di tingkat S-1, seringkali baru sampai pada “latihan meneliti” dalam rangka penulisan tugas akhir/skripsi.

Asosiasi CI+BI Nasional menyadari, bahwa penelitian penting sebagai upaya mengembangkan kompetensi keilmuan pada anak-anak cerdas dan berbakat istimewa (CI+BI). Anak-anak CI+BI tidak cukup menerima pembelajaran bidang sains seperti yang selama ini terjadi di sekolah-sekolah, yaitu menyelesaikan standar kompetensi yang telah ditetapkan BSNP, sehingga fokusnya pada daya serap materi. Model pembelajaran semacam itu sangat sedikit sekali mengekplorasi kemampuan atau potensi anak CI+BI, yang tidak saja memiliki IQ kategori very superior, tetapi juga memiliki komitmen pada tugas serta kreativitas yang baik.

Sepertinya yang dinyatakan oleh Sekjend Asosiasi CI+BI Nasional Amril Muhammad, salah satu upaya yang dilakukan untuk mengembangkan potensi anak CI+BI adalah membangun budaya meneliti pada mereka. Budaya itu dibangun melalui kegiatan “National Science Camp for Gifted in Junior High School” yang dilaksanakan pada tanggal 13-17 Agustus 2009. Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama Asosiasi CI+BI Nasional dengan PP Iptek, bertempat di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.

Kegiatan Science camp diikuti oleh 10 orang siswa SMP yang termasuk kelompok gifted dari 4 propinsi, yaitu: DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Jumlah peserta memang sangat terbatas karena terbatasnya anggaran. Namun disisi lain, peserta mendapat bimbingan lebih intensif dari para narasumber dan mentor. Peserta science camp terpilih melalui penilaian daftar riwayat hidup yang mereka miliki dan wawancara terkait dengan wawasan mereka tentang sains, komputer, dan bahasa inggris. Ketiga wawasan itu diperlukan karena fokus dari penelitian ke bidang sains, selanjutnya peserta harus mencari informasi/literatur pendukung yang relatif lebih banyak berbahasa inggris, baik dalam bentuk buku maupun browsing informasi dari internet.

Dalam kegiatan Science camp tersebut, peserta diberikan materi tentang keterampilan proses di bidang sains, metode penelitian. Dari dua materi utama, peserta diminta untuk menyusun rancangan penelitian sains yang bersifat eksperimen. Cakupannya mulai dari perumusan masalah, penentuan variabel, penetapan hipotesis, prosedur kerja, pengujian, sampai dengan penulisan laporan. Di samping itu, peserta juga memperoleh materi workshop dan percobaan water rocket (roket air) dan peneropongan benda-benda ruang angkasa.

Aktivitas membuat disain penelitian, percobaan, serta penulisan laporan dilakukan secara mandiri oleh setiap peserta. Selanjutnya pada hari terakhir, 17 Agustus 2009, para peserta diminta mempresentasikan hasil penelitian mereka di depan tim penilai yang terdiri dari Sekjend Asosiasi CI+BI Nasional, Amril Muhammad, tenaga ahli PP Iptek, JRE Kaligis, M.Sc dan Hendra Suryanto.

Dalam paparan yang dilakukan oleh peserta, banyak hal-hal menarik yang disajikan. Yolanda dari SMP 252 Jakarta, meneliti kandungan elektrolit pada kentang dan jeruk nipis sebagai alternatif energi untuk penerangan. Dari hasil penelitiannya disimpulkan bahwa dalam jumlah tertentu, kentang dapat menjadi sumber energi, yang tidak saja ramah lingkungan, tetapi juga bisa dimanfaatkan petani kentang atau jenis umbi lainnya yang seringkali hasil pertaniannya dibiarkan membusuk atau tidak terjual karena harganya jatuh saat panen.

Contoh lain disajikan oleh M. Aji Muharrom dari MTsN 1 Malang. Aji meneliti kandungan cairan tertentu jika dilekatkan bahan tertentu seperti baju atau topi, yang kemudian dapat menyimpan atau mengurangi rasa panas yang dialami oleh pemakainya. Tujuan penelitian yang dikemukakan oleh Aji adalah untuk membantu orang-orang yang bekerja di bawah terik sinar matahari tidak mengalami dehidrasi atau rasa panas yang berlebihan sehingga dapat menganggu aktivitas kerja. Menurut salah seorang penilai, ibu JRE Kaligis M.Sc, penelitian yang dilakukan oleh Aji harus dilanjutkan terus agar pada suatu saat dapat membantu para pekerja lapangan, dalam kondisi panas yang makin terik akibat pemanasan global.

JRE Kaligis juga mengungkapkan, bahwa model program semacam science camp ini, pernah beliau sampaikan kepada guru-guru di beberapa propinsi. Namun kemampuan para guru tersebut ternyata masih kalah dibanding anak-anak CI+BI. Seringkali para guru tersebut masih mengalami kesulitan untuk menentukan masalah penelitiannya.  Hal yang sama juga dilakukan terhadap kelompok siswa non CI+BI. Meskipun anak-anak non CI+BI bekerja secara berkelompok, ternyata hasilnya masih lebih baik anak-anak CI+BI. Padahal mereka diberikan materi dalam waktu relatif singkat, tetapi menunjukkan hasil yang sangat memuaskan.

Dalam acara penutupan Science Camp, Sekjend Asosiasi CI+BI Nasional yang juga dosen Universitas Negeri Jakarta, Amril Muhammad, mengungkapkan bahwa selama ini upaya-upaya pengembangan potensi anak CI+BI masih sangat minim sekali. Melalui kegiatan science camp, tampak bahwa ketika peluang diberikan, mereka mampu menunjukkan kemampuan yang melebihi kemampuan teman-teman sebaya yang bekerja secara berkelompok bahkan para guru. Selanjutnya, Amril Muhammad juga mengharapkan ada pihak-pihak yang bisa bekerjasama dengan Asosiasi CI+BI untuk menyelenggarakan program-program semacam ini di berbagai tempat, agar budaya meneliti pada anak-anak gifted dapat terbangun dan terus mereka lakukan sampai di perguruan tinggi dan bahkan setelah itu. Diharapkan melalui program semacam ini, kerisauan yang diungkapkan dua pejabat tadi, dapat diatasi di waktu-waktu mendatang. (rl)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s