Anak Berbakat Perlu Penanganan yang Sesuai

(02/02/2009 – 07:27 WIB)

Jurnalnet.com (Jakarta): Perbedaan kualitas penyelenggara layanan pembelajaran cerdas istimewa dan perbedaan penafsiran terhadap pedoman ditambah lagi munculnya tujuan-tujuan lain dari penyelenggaraan sekolah cerdas istimewa menyebabkan pelaksanaan di sekolah mengalami distorsi.

Hal itu dikemukakan Eko Suprianto dalam Seminar Nasional Pendidikan Cerdas Istimewa di Gedung A Depdiknas, Sabtu 31 Januari 2009.

Eko mengatakan akibat adanya distorsi tersebut di tanah air terdapat berbagai macam layanan pembelajaran cerdas istimewa dengan bobot kualitas berbeda. “Dikuatirkan keragaman layanan pembelajaran cerdas istimewa menyimpang dari pedoman bahkan bertolak belakang dengan maksud penyelenggaraan layanan pembelajaran tersebut,” kata Eko.

Eko mencontohkan kehadiran kelas akselerasi di sekolah banyak dipersepsikan sebagai kelas khusus atau kelas unggulan sehingga sekolah difungsikan sebagai bagian dari nilai jual sekolah bersangkutan. Demikian halnya mengenai tenaga pengajar, Eko melanjutkan banyak guru kelas akselerasi beranggapan kelas akselerasi adalah kelompok homogin atau sama dengan kelas lainnya.

“Anggapan seperti itu tentu menghasilkan salah identifikasi/rekruitmen. Padahal siswa cerdas istimewa harus ditanggapi dengan penyediaan layanan pendidikan yang berbeda sesuai dengan tingkat kecerdasannnya, minat dan kebutuhannya,” ujar Eko.

Untuk siswa dengan kecerdasan sedang diperlukan sebatas kurikulum yang berbeda, sedangkan bagi siswa dengan kecerdasan tinggi disamping diberlakukan kurikulum diferensiasi juga dilakukan pembelajaran individual. Sehingga pemberlakukan kelas normal untuk kelas akselerasi tidaklah tepat sebab bobot materinya tidak sesuai atau belum memenuhi kebutuhan materi level tinggi.

Di Indonesia kurikulum cerdasi istimewa dilakukan dengan membentuk kurikulum yang dipadatkan agar tuntutan waktu dapat diakselerasikan menjadi satu tahun lebih awal sehingga terjadi akselerasi masa belajar. “Cara modifikasi kurikulum yang demikian ternyata telah menempatkan kurikulum program cerdas istimewa menjadi kurikulum yang ringkas tetapi tetap dalam bobot regular yang tidak akselerasi. Akibatnya siswa cerdas istimewa hanya akan menerima kurikulum berbobot regular yang telah dipadatkan,” jelas Eko.

Sementara pendapat Dosen Jurusan Manajemen Pendidikan FIP Universitas Negeri Jakarta, Amril Muhammad menyebutkan layanan pembelajaran pada kelas akselerasi diarahkan pada aktualisasi potensi kecerdasaran atau bakat istimewa. Menurut Amril, dengan pola seperti itu percepatan dimungkinkan tetapi substansi keilmuan yang harus dikuasi tidak boleh terabaikan.

Psikolog Rah Madya Handaya mempertayakan apakah akselerasi sama artinya dengan lebih baik, apa tujuan akselerasi? Dia juga mempertanyakan bagaimana dengan aspek psikologis bagi siswa?

Menurut Rah, siswa cerdas istimewa atau bakat istimewa sebagai anak juga memiliki sumber stres yakni akademis seperti padatnya jadwa, tuntutan dan tekanan pertahankan prestasi, kurang matang secara sosial, fisik dan emosional untuk melakukan belajar mandiri.

“Anak berbakat juga punya stres di kehidupan sosial dan emosional. Dampak stres itu bisa hingga bunuh diri,” ungkap Rah.

Rah menuturkan penanganan anak-anak seperti itu dengan mengembangkan kecerdasan emosi, pendekatan individual, memberi kesempatan untuk melakukan proyek-proyek nyata yang berguna bagi lingkungan sekitar.

“Memberi kesempatan untuk mengembangkan minat dan potensi pribadi, juga menciptakan keseimbangan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak misalnya kegiatan berpikir dan berolahraga,” katanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s