Landasan Teoretis Penyelenggaraan Pendidikan CI/BI

Penggunaan istilah potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berkait erat dengan latar belakang teoritis yang digunakan. Potensi Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan intelektual, sedangkan bakat tidak hanya terbatas pada kemampuan intelektual. Pendapat ini mula-mula dikemukakan oleh United States Office of Education (Feldhusen, 1994) bahwa anak berbakat adalah anak yang diidentifikasi oleh orang dengan kualifikasi profesional. Anak-anak yang telah mampu menunjukkan prestasinya dan atau berupa potensi kemampuan pada beberapa bidang seperti: (1) kemampuan inteligensi umum; (2) kemampuan akademik khusus (specific academic aptitude); (3) berpikir produktif atau kreatif; (4) kemampuan kepemimpinan; (5) kemampuan di bidang seni; (6) kemampuan psikomotorik.

Dalam mengidentifikasi peserta didik cerdas istimewa  menggunakan pendekatan multidimensional. Artinya kriteria yang digunakan lebih dari satu (bukan sekedar intelligensi). Batasan yang digunakan adalah peserta didik yang memiliki dimensi kemampuan umum pada taraf cerdas ditetapkan skor IQ 130 ke atas dengan pengukuran menggunakan skala Wechsler (Pada alat tes yang lain = rerata skor IQ ditambah dua standar deviasi), dimensi kreativitas tinggi (ditetapkan skor CQ dalam nilai baku tinggi atau plus satu standar deviasi di atas rerata) dan pengikatan diri (task commitment) terhadap tugas baik (ditetapkan skor TC dalam kategori nilai baku  baik, atau plus satu standar deviasi  di atas rerata).

Konsepsi Tiga Cincin dari Renzulli (1978, 2005) banyak digunakan dalam menyusun pendidikan untuk anak cerdas istimewa, dan merupakan teori yang mendasari pengembangan pendidikan anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (Gifted and Talented children). Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli menentukan giftedness sebagai saling keterkaitan antara tiga komponen yang penting yaitu:

1.    Kemampuan umum (kapasitas intelektual) dan/atau kemampuan khusus di atas rata-rata

2.    Kreativitas yang tinggi

3.    Komitmen terhadap tugas yang tinggi

Penggunaan model Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan Renzulli, jika dalam identifikasinya lebih berorientasi pada psikotes dan prestasi, masih belum menyentuh seluruh populasi anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (gifted and talented). Ada beberapa kelompok anak berbakat yang kemungkinan besar terlewatkan dengan model identifikasi semacam itu, seperti: anak-anak yang cerdas istimewa namun memiliki kesenjangan tinggi antara kemampuan dan kinerja atau prestasinya (underachiever). Selain itu juga ada anak-anak cerdas istimewa yang memiliki kesenjangan tinggi diantara domain kemampuannya berdasarkan tes-tes kecerdasan yang baku, prestasi maupun bakat dengan ketimpangan kemampuan kognisi dan kemampuan adaptif serta prestasi di lapangan.  Kategori-kategori ini masih belum memiliki tempat dalam konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan Renzulli tersebut (Adinugroho-Horstman, 2007).

Dalam upaya mengatasi kondisi di atas, muncullah konsep The Triadich dari Renzulli-Mönks yang merupakan pengembangan dari Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Model Renzulli-Mönks ini disebut sebagai model multifaktor yang melengkapi Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Dalam model multifaktornya Mönks mengatakan bahwa potensi kecerdasan istimewa (giftedness) yang dikemukakan oleh Renzulli itu tidak akan terwujud jika tidak mendapatkan dukungan yang baik dari  sekolah, keluarga, dan lingkungan di mana si anak tinggal (Mönks dan Ypenburg, 1995). 

Dengan model multifaktor maka pendidikan anak cerdas istimewa tidak dapat dilepaskan dari peran orang tua dan lingkungan dalam menanggapi gejala-gejala kecerdasan istimewa (giftedness), toleran terhadap berbagai karakteristik yang ditampilkannya baik yang positif maupun berbagai gangguan tumbuh kembangnya yang menjadi penyulit baginya, serta dalam mengupayakan layanan pendidikannya. Lebih lanjut model pendekatan ini menuntut keterlibatan pihak orang tua dalam pengasuhan di rumah agar berpartisipasi secara penuh dan simultan dengan layanan pendidikan terhadap anak  di sekolah. 

Model Triadich Renzulli-Mönks menuntut sistem pendidikan, keluarga, dan lingkungan untuk dapat memberikan dukungan yang baik dan mengupayakan agar anak didik dapat mencapai prestasi istimewanya, sehingga diharapkan tidak akan terjadi adanya kondisi berprestasi rendah (underachiever) pada seorang anak cerdas istimewa. Dengan model pendekatan teori ini juga, maka anak-anak yang mempunyai ciri-ciri berkecerdasan istimewa (dengan ciri-ciri tumbuh kembang, ciri-ciri personalitas, dan ciri-ciri intelektual) sekalipun underachiever masih dapat terdeteksi sebagai anak berkecerdasan istimewa yang memerlukan dukungan dari sekolah, keluarga dan lingkungan agar ia dapat mencapai prestasi yang istimewa sesuai potensinya.

Model pendekatan multifaktor lebih fleksibel dalam melakukan deteksi dan diagnosis anak cerdas istimewa, terutama dalam menghadapi anak-anak dengan kondisi tumbuh kembang yang mengalami disinkronitas yang besar dan penting, berkesulitan dan bergangguan belajar (learning difficulties dan learning disabilities), serta yang mengalami komorbiditas dengan gangguan lainnya (gangguan emosi dan perilaku yang patologis). Fleksibilitas dalam melakukan deteksi yang dimaksud adalah dimungkinkannya penggunaan daftar dan alat-alat ukur asesmen yang lebih beragam (Mönks dan Pflüger, 2005).

Heller (2004) mengembangkan model multifaktor yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari Triadic Interdependence model  Mönks serta  Multiple Intelligences dari Howard Gardner.  Menurut Heller konsep keberbakatan dapat ditinjau berdasarkan empat dimensi multifaktor yang saling terkait satu sama lain:  (1) faktor talenta (talent) yang relatif mandiri (relatif mandiri); (2) faktor kinerja (performance); (3) faktor kepribadian; dan (4) faktor lingkungan; Dua faktor terakhir menjadi perantara untuk terjadinya transisi dari talenta menjadi kinerja.

Faktor bakat (talent) sebagai potensi yang ada dalam individu dapat meramalkan aktualisasi kinerja (performance) dalam area yang spesifik. Bakat ini mencakup tujuh area yang masing-masing berdiri sendiri, yaitu: kemampuan intelektual, kemampuan kreatif, kompetensi sosial, kecerdasan praktis, kemampuan artistik, musikalitas, dan keterampilan psikomotor. Sementara itu Faktor kinerja (performance) meliputi delapan area kinerja, yaitu: matematika, ilmu pengetahuan alam, teknologi, komputer, seni (musik, lukis), bahasa, olah raga, serta relasi sosial. 

Bakat (talent) dapat berkembang menjadi kinerja dengan dipengaruhi   oleh  dua faktor yaitu: (1) karakteristik kepribadian yang mencakup: cara mengatasi stres, motivasi berprestasi, strategi belajar dan strategi kerja, harapan-harapan akan pengendalian, harapan akan keberhasilan atau kegagalan, dan kehausan akan pengetahuan; serta (2) kondisi-kondisi lingkungan yang mencakup: iklim keluarga, jumlah saudara dan kedudukan dalam keluarga, tingkat pendidikan orang tua, stimulasi lingkungan rumah, tuntutan dan kinerja yang ada di rumah, lingkungan belajar, kualitas pembelajaran,  iklim kelas, dan peristiwa-peristiwa kritis.

Di dalam proses terwujudnya bakat menjadi kinerja, bakat juga dapat mempengaruhi faktor kepribadian dan  kondisi lingkungan. Misalnya bakat yang ada pada anak dapat mempengaruhi bagaimana orangtua atau guru memperlakukannya. Di dalam proses terwujudnya kinerja, bakat juga dapat mempengaruhi faktor kepribadian dan kondisi lingkungan. Misalnya bakat yang ada pada anak dapat mempengaruhi bagaimana anak tersebut menjadi semakin ulet dan tekun atau bakat yang dimiliki juga akan berpengaruh terhadap sikap orangtua atau guru terhadap anak sehingga berpengaruh terhadap cara memperlakukan si anak.

Pada dasarnya, ciri-ciri yang dimiliki peserta didik cerdas dan/atau berbakat istimewa serupa dengan peserta pada umumnya, yaitu ada sisi positif dan sisi negatif. Sebagaimana anak pada umumnya, anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa mempunyai kebutuhan pokok akan pengertian, penghargaan, dan perwujudan diri. Apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, mereka akan menderita kecemasan dan keragu-raguan. Jika minat, tujuan, dan cara laku mereka yang berbeda dengan peserta didik pada umumnya, tidak memperoleh pengakuan, maka mereka walaupun memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa akan mengalami kesulitan. Hal ini nyata dari daftar yang disusun oleh Seogoe (dikutip oleh Martinson, 1974) yang menunjukkan bahwa ciri-ciri tertentu dari peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa dapat atau mungkin mengakibatkan timbulnya masalah-masalah tertentu, misalnya :

1.    Kemampuan berpikir kritis dapat mengarah ke arah sikap meragukan (skeptis), baik terhadap diri sendiri maupun terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain ;

2.    Kemampuan kreatif dan minat untuk melakukan hal-hal yang baru, bisa menyebabkan mereka tidak menyukai atau lekas bosan terhadap tugas-tugas rutin ;

3.    Perilaku yang ulet dan terarah pada tujuan, dapat menjurus ke keinginan untuk memaksakan atau mempertahankan pendapatnya ;

4.    Kepekaan yang tinggi, dapat membuat mereka menjadi mudah tersinggung atau peka terhadap kritik ;

5.    Semangat, kesiagaan mental, dan inisiatifnya yang tinggi, dapat membuat kurang sabar dan kurang tenggang rasa jika tidak ada kegiatan atau jika kurang tampak kemajuan dalam kegiatan yang sedang berlangsung ;

6.    Dengan kemampuan dan minatnya yang beraneka ragam, mereka membutuhkan keluwesan serta dukungan untuk dapat menjajaki dan mengembangkan minatnya ;

7.    Keinginan mereka untuk mandiri dalam untuk mandiri dalam belajar dan bekerja, serta kebutuhannya akan kebebasan, dapat menimbulkan konflik karena tidak mudah menyesuaikan diri atau tunduk terhadap tekanan dari orang tua, sekolah, atau teman-temannya. Ia juga bisa merasa ditolak atau kurang dimengerti oleh lingkungannya ;

8.    Sikap acuh tak  acuh dan malas, dapat timbul karena pengajaran yang diberikan di sekolah kurang mengundang tantangan baginya.

Selain itu, berdasarkan penelitian Herry (1993), mereka juga suka mengganggu teman-teman sekitarnya. Hal ini disebabkan karena mereka lebih cepat memahami materi pelajaran yang diterangkan guru di depan kelas dibandingkan teman-temannya. Dengan diterangkan sekali saja, mereka telah dapat menangkap maksudnya, sedangkan peserta didik yang lain masih perlu dijelaskan lagi; mereka banyak waktu terluang, yang kemudian apabila kurang diantisipasi oleh gurunya, akan digunakan untuk mengadakan aktivitas sekehendaknya (usil), misalnya mencubit atau melemparkan benda-benda kecil/kapur keteman-teman sekitarnya.

Akibat lebih lanjut, mereka dapat menjadi anak yang berprestasi di bawah potensinya (underachiever) atau bahkan malah mungkin menjadi anak yang bermasalah (mengalami kesulitan belajar). Hal ini tampak dari hasil penelitian Herry dkk.(1996) terhadap peserta didik SD di provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Kalimantan Barat, yang menunjukkan bahwa 22% dari peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa beresiko tinggal kelas (nilai rata-rata rapornya kurang dari 6,00). Demikian pula hasil penelitian Herry, dkk., (1997) terhadap peserta didik SLTP di empat provinsi yang sama menunjukkan bahwa 20% dari peserta didik SLTP yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa juga beresiko tinggal kelas. Sementara itu, hasil penelitian Yaumil Achir (1990) di Jakarta terhadap peserta didik SMA yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa menunjukkan bahwa sekitar 38,7% dari sampel tergolong underachiever..

Keadaan di atas tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di negara lain. Beberapa penelitian di negara maju, seperti Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 15-50% dari peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa tergolong underachiever (Marland, dikutip Utami Munandar, 1999). Di Inggris sekitar 25% (Pringle, dikutip Utami Munandar, 1999) Sementara itu hasil penelitian Balitbang Diknas (1998) menyimpulkan ada dua faktor yang menyebabkan peserta didik cerdas istimewa mengalami gejala prestasi kurang (underachiever), yaiatu: (1) lingkungan belajar yang kurang menantang mereka untuk mewujudkan potensinya secara optimal dan (2) model pembelajaran yang kurang kondusif.

Sumber: Pedoman Akselerasi, Dit PLB 2007.

59 thoughts on “Landasan Teoretis Penyelenggaraan Pendidikan CI/BI

  1. Apapun jenis bakat atau kepandaian anak, mereka harus terus didukung agar bakat-bakat mereka dapat tersalurkan. Dan mereka dapat menghasilkan prestasi-prestasi yang lebih baik untuk diri sendiri, lingkungan bahkan negaranya.

  2. Kemampuan yang dimiliki oleh anak – anak yang berbakat harus mendapat perhatian khusus dari orang tua dan lingkungan sekitar.
    Dan harus didukung oleh fasilitas yang memadai agar bagi anak – anak yang berbakat dapat lebih mengekspresikan dirinya.

    Tri Novianti
    Pend.Tata Niaga Reg 2007
    8135072766
    unj

  3. umi karolina
    pend.tn reg 07
    8135072773

    anak-anak yang berbakat dan memiliki keserdasan istimewa terkait pada bakatnya yang kemudian bakat tersebut dapat berkembang menjadi kinerja dengan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: (1) karakteristik kepribadian yang mencakup: cara mengatasi stres, motivasi berprestasi, strategi belajar dan strategi kerja, harapan-harapan akan pengendalian, harapan akan keberhasilan atau kegagalan, dan kehausan akan pengetahuan; serta (2) kondisi-kondisi lingkungan yang mencakup: iklim keluarga, jumlah saudara dan kedudukan dalam keluarga, tingkat pendidikan orang tua, stimulasi lingkungan rumah, tuntutan dan kinerja yang ada di rumah, lingkungan belajar, kualitas pembelajaran, iklim kelas, dan peristiwa-peristiwa kritis.dalam hal ini perlu sangat diperhatikan orang tua agar mengetahui bakat dan minat anaknya

  4. menurut saya sangat efektif jika kita harus melihat kondisi dari anak cerdas berbakat tersebut. seperti keluarganya, lingkungannya dan sekolahnya. jika kita sudah memahami kondisi tersebut baru kita menentukan pendekatan seperti yang di jelaskan di artikel di atas.
    karena kepribadian dari anak tersebut juga sangat berpengaruh, ada baiknya guru juga dapat membimbing dan mengajarkan si anak apa yang baik dan tidak baik, agar nantinya kecerdasan tersebut tidak semakin menyimpang.

  5. Ichwan Iskandar 8135072792 Pend.Tata Niaga Untuk perkembangan anak-anak cerdas berbakat memang dibutuhkan banyak peran serta dari berbagai pihak.Salah satunya adalah guru,seorang guru masa depan adalah guru yang bukan saja mempunyai kemampuan mengajar bidang studinya, tetapi juga guru yang memahami tumbuh kembang anak-anak. Terutama bagi guru taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Tak kurang pula pendidikan dokter dan psikologi diperlukan untuk para anak-anak cerdas dan berbakat,gunanya agar perubahan akan memahami kebutuhan anak dan mendukung kesiapan anak menerima pembelajaran dapat terlaksana.

  6. Kemampuan umum (kapasitas intelektual) dan kemampuan khusus di atas rata-rata, Kreativitas yang tinggi, Komitmen terhadap tugas yang tinggi merupakan komponen yang saling berkaitan dalam proses pembentukan dasar pendidikan. dengan adanya ukuran kemmpuan kecerdasan diyakini anak didik dapat mengetahui minat dan bakat yang ada dalam dirinya masing-masing.

  7. banyak sekali kemampuan dan bakat yang dimiliki anak-anak.kita seharusnya mendukung serta lingkungan sekitar agar bakat yang ada bisa tersalurkan dengan terkendali dan positif.

  8. menurut saya, anak-anak yang memiliki kecerdasan di atas standar harus dimasukkan ke sekolah khusus, supaya mereka tetap dapat bersaing dengan anak2 yg setingkat dgn mereka.
    juga untuk mencegah Sikap acuh tak acuh dan malas, yang dapat timbul karena pengajaran yang diberikan di sekolah kurang mengundang tantangan baginya.

  9. menurut saya landasan teoritis penyelenggaraan pendidikan CI/BI adala pilihan saya cenderung kepada tiga faktor di bawah ini :

    1. Kemampuan umum (kapasitas intelektual) dan/atau kemampuan khusus di atas rata-rata.
    kemampuan umum saya artikan adalah bahwa sang anak didik tidak hanya pintar dalam ruang pelajaran di sekolahnya saja, tetapi juga peka terhadap berita yang mengandung pendidikan di luar lingkungan sekolah.

    2. Kreativitas yang tinggi.
    anak didik tidak hanya sekedar menyerap ilmu saja, namun juga harus mengerti kegunaan ilmu tersebut atau bahkan dikembangkan lagi dengan cara eksperimen.

    3. Komitmen terhadap tugas yang tinggi.
    dengan komitmen yang tinggi itu mencerminkan anak didik sudah bisa bertanggung jawab dengan apa ynag dia kerjakan dan mampu menerima konsekuensi suatu saat nanti.

    saya berkonsentrasi kepada tiga faktor ini karena faktor ini tidak hanya bisa digunakan dalam berpendidikan namun juga dalam hal anak yang berbakat dalam kesenian.

  10. kreatifitas dan pendidikan harus didukung untuk menunjang,,,, pendididkan yang baik dan merata di segala bidang….

    febriany;TN’NR 07
    8135077977

  11. Dwi Yunita
    8135077965
    Pend.Tata Niaga’07

    Kemampuan dan bakat setiap anak itu berbeda-beda,,dibutuhkan perhatian dan peran serta khusus dari lingkungan dan orang tua untuk mengembangan potensi yang dimiliki oleh seorang anak.

  12. menurut saya bakat anak-anak tersebut harus dikembangkan,supaya dia bisa menyalurkan hobi dan minatnya yang sesuai dengan bakat yang dimilikinya.

  13. Muhammad Rizki Hakiki
    8135072794
    Pend. Tata Niaga Reguler 2007

    Menurut saya, Potensi kecerdasan istimewa dan bakat istimewa berkaitan erat dengan latar belakang teoritis yang digunakan. Potensi Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan intelektual, sedangkan bakat tidak hanya terbatas pada kemampuan intelektual. Di dalam proses terwujudnya bakat menjadi kinerja, bakat juga dapat mempengaruhi faktor kepribadian dan kondisi lingkungan. Jadi, kecerdasan dan bakat anak harus selalu di dukung agar dapat menghasilkan prestasi yang lebih baik lagi dari sebelumnya baik untuk diri sendiri maupun untuk negara Indonesia.

  14. kemampuan anak yang berbakat harus didukung oleh orang tua… selain itu, fasilitas yang mendukung harus tersedia agar potensi si anak menjadi optimal…

    aditya septiadi a
    8135072783
    tN reg 07

  15. bakat dan kemampuan anak harus tersalurkan dan mendapat dorongan dari orangtua dan semua pihak agar anak tersebut bisa menjadi apa yang ia inginkan.

  16. Amalina Imadarty
    8135077986
    TN NR 07

    Anak-anak yang memiliki kecerdasan istimewa harus mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak. Misalnya saja peran orang tua dan lingkungan dalam menanggapi gejala-gejala kecerdasan istimewa mereka dan juga pemerintah yang dapat memberikan fasilitas yang memadai seperti mendirikan sekolah khusus untuk anak CI/BI..

  17. Nama : Adinda Chaniago
    NIM : 8135077981
    Konsentrasi : Pend. Tata Niaga Non Reg’07

    Ada banyak factor yang dapat mendukung sehingga seorang anak mempunyai kecerdasan dan bakat yang lebih di bandingkan anak – anak yang lain, factor utama yang sangat dibutuhkan adalah factor keluarga, apakah keluarga dari anak tersebut memberi dukungan untuk pendidikan anak tersebut, baik dukungan moral maupun materi. Barulah factor dari luar seperti yang di jelaskan di artikel di atas.

  18. bakat itu harus dikembangkan dan tersalurkan secara benar.Kemampuan yang dimiliki oleh anak – anak yang berbakat harus mendapat perhatian khusus dari orang tua dan lingkungan sekitar.
    Dan harus didukung oleh fasilitas yang memadai agar bagi anak – anak yang berbakat dapat lebih mengekspresikan dirinya.

  19. Kemampuan dan bakat yang dimiliki setiap anak memang berbeda-beda, disinilah peran orang tua menjadi faktor terpenting dalam menyalurkan bakat dan kreativitas anak. Dengan menyalurkan bakat yang dimiliki anak kepada hal-hal yang positif, dirasakan cukup membantu proses perkembangan kreativitas anak.

    Dwi Restuwanty
    8135077989
    Pend. Tata Niaga (Non Reg)

  20. kecerdasan atau bakat yang dimiliki oleh anak berbeda-beda…
    jadi di harapkan orang tua untuk bisa lebih mengarahkan dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak agar bakat dan kecerdasan yang dimilikinya dapat tersalurkan dan terarah ke yang lebih baik…

  21. bakat dan kemampuan anak yang berbakat haruslah dikembangkan dan orang tua harus mendukung agar bakat dan motivasi anak tersebut dapat tersalurkan dengan baik..

  22. kecerdasan dan bakat setiap anak berbeda-beda..
    untuk itu peran serta orang tua sangat di butuhkan untuk bisa membimbing dan mengarahkan ke arah yang lebih baik…
    dan kemampuan anak tersebut dapat tersalurkan tepat pada tempatnya….

  23. inne zulfanisa
    tata niaga reg 07
    8135072806
    Kemampuan yang dimiliki oleh anak – anak yang berbakat harus mendapat perhatian khusus dari orang tua dan lingkungan sekitar.peran serta orang tua sangat di butuhkan untuk bisa membimbing dan mengarahkan ke arah yang lebih baik.dukungan positif dari keluarga,sekolah,dan lingkungan dimana anak tinggal sangatlah membantu dalam perkembangan bakat anak

  24. kecerdasan dan bakat anak memang berbeda sehingga peranan orang-orang terdekat untuk mengarahkan dan memotivasi adalah cara agar kecerdasan itu dapat digunakan dengan baik…

  25. AsSalam wr.wb . . . . .
    well, sebenarnya semua yang dituturkan di atas sudah tampak jelas bagaimana kita dapat mengetahui atau mengelompokkan anak yang berbakat dan anak istimewa.
    Tapi menurut saya SEMUA anak itu berbakat dan istimewa entah dari tingkah lakunya maupun dari IQ nya. tergantung bagaimana kita dapat menanggapi anak tersebut, . .
    semua bakat dan keistimewaan itu tidak cukup tanpa adanya perang serta keluarga(orang tua), lingkungan, dan sarana yang memadai.
    karena tanpa itu seorang anak akan tersesat sehingga tidak dapat mengeluarkan bakatnya, karena tak ada seorang pun yang dapat menyalurkan bakatnya seperti yang di inginkan.
    seperti anak-anak jalanan, dll.
    sekian,
    WasSalam wr. wb . .

    TRI RIZKY AMBARWATI
    8135077972
    Pend TN NR’07
    unj

  26. kemampuan, skill atau bakat perlu dan wajib dikembangkan dan disalurkan. faktor kelurga, lingkungan, dan sekolah sangatlah penting untuk menunjang bakat dan kemampuan si anak.

  27. Potensi,,kecerdasan atau bakat seorang anak sudah sepatutnya didukung oleh orangtua…
    agar bakat-bakat dan potensi mereka dapat tersalurkan dengan baik maka orangtua perlu memberikan wadah untuk anak agar dapat berkretifitas,,mengembangkan serta menggali potensi dan bakat yang mereka punya tersebut..
    karena tidak semua anak dilahirkan dengan memiliki bakat tertentu…
    dan yang diharapkan anak-anak akan mampu menunjukkan prestasinya dan potensi kemampuan pada di beberapa bidang…

  28. Potensi Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan intelektual, sedangkan bakat tidak hanya terbatas pada kemampuan intelektual.pendidikan dokter dan psikologi diperlukan untuk para anak-anak cerdas dan berbakat,gunanya agar perubahan akan memahami kebutuhan anak dan mendukung kesiapan anak menerima pembelajaran dapat terlaksana.

  29. diaz priasmoro
    pend.Tata Niaga Non reg 07
    8135077958

    peran orangtua sangat diperlukan untuk mengarahkan kemampuan anak nya.
    orangtua pun bs lebih menggali lg kemampuan anaknya.
    anak yang memiliki kemampuan dan bakat tersendiri, akan sangat mempengaruhi nya dalam proses perkembangan kreativitas nya.

  30. Menurut saya, kecerdasan istimewa dan bakat istimewa harus lebih diperhatikan. Potensi Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan intelektual, sedangkan bakat tidak hanya terbatas pada kemampuan intelektual.Selain itu, ini dapat dipengaruhi oleh faktor kepribadiaan seseorang dan lingkungan sekitar. Jadi, kecerdasan dan bakat anak harus selalu di dukung agar dapat menghasilkan prestasi yang lebih baik lagi dari sebelumnya untuk masa depan pendidikan di negara Indonesia.

  31. kecerdasan seorang anak berbeda dengan yang lain..
    orang tua dan linkungan menjadi faktor utama dalam proses terbentuknya perkembangan otak si anak.
    dengan penyaluran bakat yang baik, si anak akan memperoleh informasi yang berguna untuk dirinya.

  32. pada dasarnya perkembangan kemampuan kecerdasan dan bakat seorang anak sangat berbeda.
    pada dasarnya anak lebih tau bakatnya berada di mana, sehingga orang tua dan lingkungan arus membantu pada perkembangan anak. dan anak arus seris pada yang dia tuju

  33. Setiap anak memiliki bakat dan kecerdasan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan yang dimiliki…..
    Oleh karena itu peran orang tua sangat dibutuhkan untuk bisa membimbing dan mengarah anak tersebut kearah yang lebih baik…
    Sehinnga minat anak dapat tersalurkan sesuai dengan bakat dan kecerdasan yang dimiliki oleh anak tersebut…

  34. sutriyani
    8135077961
    pend.tn nonreg’07

    setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing..
    tetapi kecerdasan anak perlu ditingkatkan untuk menggali potensi didalam diri si anak.
    dan agar potensi tersebut dapat tersalurkan dengan baik.

  35. segala faktor dukungan positif dari lingkungan, keluarga serta teman – teman. akan memaksimalkan kemampuan anak dan bakatnya dalam bidang tertentu akan muncul dan tersalurkan. oleh karena itu setiap anak haruslah mendapatkan perhatian yang cukup dan layak agar terus berkembang

  36. irma manalu
    pend.tata niaga 07
    8135072764

    saya sangat setuju dengan Konsepsi Tiga Cincin dikemukakan oleh Renzullipotensi bahwa kecerdasan istimewa (giftedness) tidak akan terwujud jika tidak mendapatkan dukungan yang baik dari sekolah, keluarga, dan lingkungan di mana si anak tinggal

    Model Triadich Renzulli-Mönks menuntut sistem pendidikan, keluarga, dan lingkungan untuk dapat memberikan dukungan yang baik dan mengupayakan agar anak didik dapat mencapai prestasi istimewanya, sehingga diharapkan tidak akan terjadi adanya kondisi berprestasi rendah (underachiever) pada seorang anak cerdas istimewa. Dengan model pendekatan teori ini juga, maka anak-anak yang mempunyai ciri-ciri berkecerdasan istimewa (dengan ciri-ciri tumbuh kembang, ciri-ciri personalitas, dan ciri-ciri intelektual) sekalipun underachiever masih dapat terdeteksi sebagai anak berkecerdasan istimewa yang memerlukan dukungan dari sekolah, keluarga dan lingkungan agar ia dapat mencapai prestasi yang istimewa sesuai potensinya.

  37. Dari teori tersebut adanya Asosiasi CI/BI jelas untuk mengembangkan potensi kecerdasan dan bakat istimewa yang dimiliki anak, agar
    kemampuan inteligensi umum, kemampuan akademik khusus, berpikir produktif atau kreatif, kemampuan kepemimpinan, kemampuan di bidang seni dan kemampuan psikomotorik dapat berkembang secara optimal.

  38. Bermacam macamnya jenis dan bakat istimemawa anak membuat program asosiasicibi ikut berkecimpung dalam dunia pendidikan, tetapi sayang peran pemerintah dan masyarakat yg masih minim menjadikan program ini agak tersendat.

  39. Bermacam macamnya jenis dan bakat istimemawa anak membuat program asosiasicibi ikut berkecimpung dalam dunia pendidikan, tetapi sayang peran pemerintah dan masyarakat yg masih minim menjadikan program ini agak tersendat dalam mencapai tujuannya.

  40. Bermacam macamnya jenis dan bakat istimemawa anak membuat program asosiasicibi ikut berkecimpung dalam dunia pendidikan, tetapi sayang peran pemerintah dan masyarakat yg masih minim menjadikan program ini agak tersendat dalam mencapai tujuannya .

  41. Kristiana Ermawati
    8135072771
    Pend.TN reg07

    siswa yang memiliki kemampuan khusus layak mendapatkan pendidikan khusus yang dapat menunjang bakat mereka. semua itu akan lebih baik apabila adanya dukungan dari orang tua dam masyarakat setempat.

  42. jenny christine (8135077998)
    Pend. TN NR 07

    potensi kecerdasan dan bakat istimewa berkait erat dengan latar belakang teoritis yang digunakan yang harus dikembangkan dan tersalurkan secara benar walaupun berbeda-beda jenisnya.

    sehingga anak-anak mampu menunjukkan prestasinya yang berupa potensi kemampuan pada beberapa bidangnya.

  43. perkembangan intelektual memang penting, tetapi perkembangan mental dan kemampua sosialisasi dengan lingkungan itu sebenarnya hal yang lebih penting, jadi dalam hal ini siswa perlu di tambahkan lagi dalam peningkatan kemampuan sosialisasi dalam lingkungan.

  44. Bakat atau talent setiap anak-anak itu pasti sangat berbeda-beda,apapun bakat yang mereka miliki harus didukung agar mereka mampu untuk mengembangkan nya dan menghasilkan prestasi-prestasi yang luar biasa bagi diri mereka sendiri,keluarga,lingkungan maupun negaranya.

  45. 1. Kemampuan umum (kapasitas intelektual) dan/atau kemampuan khusus di atas rata-rata

    2. Kreativitas yang tinggi

    3. Komitmen terhadap tugas yang tinggi
    Ketiga komponen itu sangat diperlukan untuk tumbuh kembangnya anak didik yang sempurna, berbagai tes2 untuk mengukur kemampuan dibuat dandirealisasikan. Tapi pada realitanya belum dilakukan pada siswa disekolah2 dan tidak serempak pelaksanaannya. Kebanyakan disekolah hanya melakukan tes intelegensi saja tetapi tes2 yag lain seperti EQ, SQ, DAN TES PSIKOLOGI masih banyak yang belum dipraktekan. Padahal pihak sekolah seharusnya mengukur siswa, melihat sejauh mana potensi yang dimiliki siswanya.

  46. Nancy Wijaya S
    8135072769
    Pend. Tata Niaga 07 (Reguler)

    Menurut saya, inti dari penyelenggaraan pendidikan CI/BI ini berpusat pada pengembangan bakat yang anak-anak tersebut miliki. melalui perpaduan antara kinerja pribadi individu mereka dengan lingkungan yang ada di sekitar. khususnya perkembangan pada potensi positif yang anak-anak istimewa tersebut miliki.

  47. Kemampuan umum dan kemampuan khusus di atas rata-rata, Kreativitas yang tinggi, Komitmen terhadap tugas yang tinggi merupakan komponen yang saling berkaitan dalam proses pembentukan dasar pendidikan. dengan adanya ukuran kemmpuan kecerdasan diyakini anak didik dapat mengetahui minat dan bakat yang ada dalam dirinya masing-masing.

  48. Imam Punarko
    Pend Tata Niaga
    8135072812
    Peserta didik cerdas istimewa bukan hanya mendatangkan potensi besar tetapi jika dalam pengelolaannya tidak sesuai dengan kaidah menyebabkan seorang anak akan kehilangan jati dirinya akibat, pengertian, penghargaan, dan perwujudan diri. Hal ini ternyata perlu mendapat perhatian lebih serius oleh berbagai elemen masyarakat terutama lingkup terkecil keluarga.
    Dari hasil penelitian kita dapat menilai bahwa peserta didik bisa menjadi bermasalah atau sebaliknya,hal ini tampak dari hasil penelitian Herry dkk.(1996) terhadap peserta didik SD di provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Kalimantan Barat, yang menunjukkan bahwa 22% dari peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa beresiko tinggal kelas (nilai rata-rata rapornya kurang dari 6,00). Bahkan Keadaan di atas tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di negara lain. Beberapa penelitian di negara maju, seperti Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 15-50% dari peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa tergolong underachiever (Marland, dikutip Utami Munandar, 1999). Oleh sebab itu, penanganan dini perlu sebab jika salah maka seorang yang memiliki kecerdasan istimewa bukan tidak mungkin akan di cap bandel atau kurang sopan.

  49. saya sangat setuju sekali, dengan adanya beasiswa bagi siswa-siswi yang berprestasi. hal ini membuat perserta didik semakin terpacu dan terus belajar dan berprestasi untuk mendapatkan beasiswa tersebut. sebagi salah satu penghargaan dan mereka pasti saling berkompetensi untuk mendapatkan beasiswa tsb

  50. Gelda Meris Nike Sfitra
    8135072807
    Pend.Tata Niaga Reg07

    Menurut saya…
    kecerdasan dan bakat setiap anak berbeda-beda..
    untuk itu peran serta orang tua sangat di butuhkan untuk bisa membimbing dan mengarahkan ke arah yang lebih baik…
    Dengan menyalurkan bakat yang dimiliki anak kepada hal-hal yang positif, dirasakan cukup membantu proses perkembangan kreativitas anak.

  51. Nur Husnul Chotimah
    8135072786
    TN reg 07

    dari artikel ini, saya dapat menarik kesimpulan bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini.
    seperti yang terlihat diatas, walaupun anak-anak tersebut mempunyai Kemampuan Cerdas Istimewa bahkan IQ mereka diatas 125, tetapi mereka masih mempunyai kekurangan, bahkan melebihi yang kita kira sebelumnya.
    banyak saya temui anak-anak yang seperti itu, mereka mempunyai perilaku yang buruk (malas, suka mengusili orang lain, cepat tersinggung, dan sikap acuh tak acuh) tetapi disisi lain mereka mempunyai tingkat Intelegensi yang tinggi yang bahkan tidak disangka-sangka. karena biasanya Anak yang malas (berprilaku buruk) pasti bodoh. tetapi dalam kasus ini tidak.

    menurut saya, sebagai salah satu solusinya adalah perlunya keseimbangan antar intelegensi dan attitute..

  52. Setiap orang terlahir dengan banyak hal yang berbeda dalam kemampuannya.
    Namun saat dalam masa tumbuh kembang itulah akan banyak hal yang dipelajari, dari ketidakmampuan dan ketidaktahuan menjadi mampu dan tahu.
    Lingkungan dan pembinaan sangat diperlukan terutama peran serta dari keluarga.

  53. RENDI MAISYAH LINO
    8135077994
    PEND.TATA NIAGA NON REG 2007

    Menurut saya semua bakat dan keistimewaan itu tidak cukup tanpa adanya perang serta keluarga(orang tua), lingkungan, dan sarana yang memadai.
    karena tanpa itu seorang anak akan tersesat sehingga tidak dapat mengeluarkan bakatnya, karena tak ada seorang pun yang dapat menyalurkan bakatnya seperti yang di inginkan.

  54. Assalamu’alaikum…

    Ya….memang benar bahwa bakat dapat berkembang menjadi kineja itu dipengaruhi oleh faktor tertentu diantaranya yaitu kondisi sebuah lngkungan baik itu keluarga ataupun lingkungan luar,mungkin tempat dimana mereka bersekolah atau bergal dengan temannya.

    Selain faktor lingkungan, faktor karakteristik kepribadian juga sangat berpengaruh terhadap bakat yang dimiliki seseorang. Bagaimana cara dia melakukan strategi belajar/kerja, bagaman cara dia mencapai keberhasilan. dan itulah pengaruh terhadap bakat-bakat tersebut.

    Artikel di atas sudah menjelaskan dengan cukup jelas dan mudah dpahami..

    Wassalam….

  55. Menurut saya, perhatian dari keluarga sangat mampu untuk menyemangati kegiatan anak untuk bersekolah. Kegiatan lingkungan yang baik juga mempunyai banyak peran demi membawa mereka ke arah yang lebih benar pula.

  56. Assalamualaikum Wr. Wb.
    Saya sependapat dengan hal tersebut tapi disayangkan jika hal tersebut dijalankan tanpa didukung oleh pemerintah baik materi, kebijakan, implementasi yang tidak sesuai dengan yang ada pada kenyataannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s