SEJARAH PROGRAM AKSELERASI DI INDONESIA

Upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa telah dilakukan sejak tahun 1974 dalam bentuk kebijakan atau program. Secara historis kebijakan pemerintah tersebut dapat dilihat pada urain berikut

1974

Pemberian beasiswa bagi peserta didik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berbakat dan berprestasi tinggi tetapi lemah kemampuan ekonomi keluarganya

1982

Balitbang Dikbud membentuk Kelompok Kerja Pengembangan Pendidikan Anak Berbakat (KKPPAB). Kelompok Kerja ini mewakili unsur-unsur struktural serta unsur-unsur keahlian seperti Balitbang Dikbud, Ditjen Dikdasmen, Ditjen Dikti, Perguruan Tinggi, serta unsur keahlian di bidang sains, matematika, teknologi (elektronika, otomotif, dan pertanian), bahasa, dan humaniora, serta psikologi

1984

Balitbang Dikbud menyelenggarakan perintisan pelayanan pendidikan anak berbakat dari tingkat SD, SMP, SMA di satu daerah perkotaan (Jakarta) dan satu daerah pedesaan (Kabupaten Cianjur). Program pelayanan yang diberikan berupa pengayaan (enrichment) dalam bidang sains (Fisika, kimia, Biologi, dan Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa), matematika, teknologi (elektronika, otomotif, dan pertanian), bahasa (Inggris dan Indonesia), humaniora, serta keterampilan membaca, menulis, dan meneliti.

Pelayanan pendidikan dilakukan di kelas khusus di luar program kelas reguler pada waktu-waktu tertentu.

Perintisan pelayanan pendidikan bagi anak berbakat ini pada tahun 1986 dihentikan seiring dengan pergantian pimpinan dan kebijakan di jajaran Depdikbud.

1989

Di dalam UU no. 2 tahun 1989 tentang Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 ayat 2 dikemukakan bahwa warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus.

Pasal 24, setiap peserta didik pada satuan pendidikan mempunyai hak-hak sebagai berikut: (1) mendapat perlakuan yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya, (5) menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang telah ditentukan.

1993

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan kebijakan tentang Sistem PenyelenggaraanSekolah Unggul (Schools of Excellence) dan membukanya di seluruh provinsi sebagai langkah awal kembali untuk menyediakan program pelayanan khusus bagi peserta didik dengan cara mengembangkan aneka bakat dan kreativitas siswa

1994

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan dokumen tentang “Pengembangan Sekolah Plus” yang menjadi naskah induk tentang “Sistem Penyelenggaraan Sekolah Menengah Umum Unggul”.

1998/1999

Dua sekolah swasta di DKI Jakarta dan satu sekolah swasta di Jawa Barat melakukan ujicoba pelayanan pendidikan bagi anak berpotensi kecerdasan dan bakat istimewa dalam bentuk program percepatan belajar (akselerasi), yang mendapat arahan dari Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah

2000

Program percepaan belajar dicanangkan oleh Menteri Pendidikan Nasional pada Rakernas Depdiknas menjadi Program Pendidikan Nasional.

Pada kesempatan tersebut Mendiknas melalui Dirjen Dikdasmen menyampaikan Surat Keputusan (SK) Penetepan Sekolah Penyelenggara Program Percepatan Belajar kepada 11 sekolah terdiri dari 1 SD, 5 SMP dan 5 SMA di DKI Jakarta dan Jawa Barat.

2001/2002

Diputuskan penetapan kebijakan diseminasi program percepatan belajar pada beberapa sekolah di beberapa provinsi di Indonesia

2003

UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat (4) menyebutkan warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.

Pasal 32 ayat (1) Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi  peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,emosional, mental, sosial,dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

2006

Diterbitkan Permendiknas no. 34/2006 tentang Pembinaan Prestasi Peserta Didik yang memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.

2009

diterbItkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 70/2009 Tentang Pendidikan Inklusif  Bagi Peserta Didik Yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa

Pasal 1 : “Dalam Peraturan ini, yang dimaksud dengan pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya”.

Pasal 5  ayat (1) : “Penerimaan peserta didik berkelainan dan/atau peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa pada satuan pendidikan mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki sekolah”. Sekolah SSN atau RSBI adalah sekolah yang memiliki sumber daya yang memadai untuk menyelenggarakan pendidikan bagai peserta didik  didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dalam bentuk program akselerasi.

2010

diterbitkan Peraturan Pemerintah no. 17/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Pasal 134

(1)  Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik keistimewaannya.

(2)  Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan mengaktualisasikan seluruh potensi keistimewaannya tanpa mengabaikan keseimbangan perkembangan kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, sosial, estetik, kinestetik, dan kecerdasan lain.

Pasal 135

(1)  Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan formal TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat.

(2)  Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa:

a. program percepatan; dan/atau

b. program pengayaan.

(3) Program percepatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan persyaratan:

  1. peserta didik memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa yang diukur dengan tes psikologi;
  2. peserta didik memiliki prestasi akademik tinggi dan/atau bakat istimewa di bidang seni dan/atau olahraga; dan
  3. satuan pendidikan penyelenggara telah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan.

(4) Program percepatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan dengan menerapkan sistem kredit semester sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(5) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk:

a. kelas biasa;

b. kelas khusus; atau

c. satuan pendidikan khusus.

Pasal 136

Pemerintah provinsi menyelenggarakan paling sedikit 1 (satu) satuan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa.

About these ads

41 gagasan untuk “SEJARAH PROGRAM AKSELERASI DI INDONESIA

  1. Salam kenal,
    Saya adalah salah satu siswa di kelas anak berbakat di SMA Negeri 1 Jakarta, yang dimulai pada tahun 1983 (bukan 1984, seperti yang tertulis dalam artikel ini) dan lulus pada tahun 1985 yang kemudian melanjutkan sekolah ke salah satu PTN di Jawa Barat.

    Pengalaman sebagai peserta dalam program ini sangat berguna untuk membantu proses belajar anak saya yang masuk dalam program kelas akselerasi (CI/BI) sejak di SMP dan SMA sekarang, terutama dalam mendidik kemampuan sosialnya.

    Salam,
    Aries R. Prima

  2. terima kasih mas aries atas koreksinya…kami kira pengalaman itu sangat bagus untuk ditularkan kepada yang lain. persoalan kita memang progam akselerasi dan keberadaan anak CI+BI itu memang belum dipahami dengan benar. sekali lagi terima kasih..

  3. terima kasih atas paparan paparan upaya pemerintah dalam penerapan pembelajaran akselerasi. mungkindi perlu tambahan sedikit paparan di setiap upaya yang telah dilakukan pemerintah sehingga dapat membantu pembaca lebih memahami postingan anda :D

  4. pemahaman orang tentang akselerasi cibi harus diluruskan biar tidakbias dengan akselerasi pembangunan………………

  5. betul…banyak yg memang salah paham dengan akselerasi…lalu seenak-enaknya mereka menyimpulkan…

  6. Terima kasih untuk postingan Anda. Informasinya sangat berguna. Pertanyaan saya: program akselerasi yg ada selama ini, apakah disusun oleh setiap sekolah secara independen ataukah pemerintah memiliki kurikulum khusus utuk program siswa berbakat ini? Saya mendapat informasi dari sebuah sekolah di Semarang yg mengatakan bahwa pemerintah Indonesia telah mensahkan sebuah program akselerasi, di mana mereka memberikan test kepada siswa kelas 5 SD. Test ini sekiranya akan mengukur kemampuan akademik mereka dan jika sekiranya mereka mendapat nilai di atas standar, mereka akan diperbolehkan untuk langsung loncat ke SMP kelas 1 tanpa harus melalui kelas 6 SD. Bisa saya dibantu dengan kebenaran berita ini? Terima kasih.

  7. akselerasi adalah layanan untuk anak yang berkualifikasi cerdas+berbakat istimewa (gifted-talented). anak semacam ini memiliki IQ pada kategori very superior, task comitmen baik juga kreativitasnya.
    sekolah/madrasa yg bisa membuka layanan ini harus memiliki akreditasi A dan mendapatkan ijin dari dinas pendidikan propinsi/kanwil kemenag setempat. jadi tidak sembarangan sekolah/madrasah bisa membuka kelas aksel.

    kurikulum yg digunakan adalah kurikulum nasional yg dimodifikasi dengan penekanan materi esensial, eskalasi dan enrichment. manajemen kelas diarahkan pada pembeljaran kolaboratif dn tuntas…
    mereka menyelesaikan kurikulum lebih cepat dari siswa reguler karena strategi layanannya memang memungkinkan seperti itu..jadi bukan SD hanya sampai kelas 5, tetapi mereka menyelesaikan dalam waktu 5 tahun di SD, di smp 2 tahun, juga di sma 2 tahun.

    perlu jelas sekolah mana di semarang yg ikut menyelenggarakan aksel, krena kami memiliki data. karena banyak juga sekolah yang melakukan aksel tanpa ijin..

    tks..

  8. Boleh saya tau, adakah tes psikologi pada anak yang mengikuti kelas akselerasi sebelum dan sesudah program ini? Adakah angka untuk mengukurnya?
    Terima kasih

  9. mb Linda yth…
    tes psikologi untuk kelas akselerasi sudah ditetapkan bisa menggunakn skala weschler dan skala lain. ketentuannya anak tersebut masuk dalam kategori very superior. sebagai contoh bisa skala weschler maka angkanya 130 ke atas..

    psikotes bukanlah seperti ujian untuk melihat pre tes, treatmen lalu pos tes..maksudnya tidak dilakukan psikotes lagi apakah IQ mereka naik atau turun setelah ikut program akselerasi..

    tks, semoga bisa menjawab yang ditanyakan..

  10. anak saya diterima di program akselerasi, yg ingin saya tanyakan apakah benar pihak sekolah boleh memungut iuran bulanan yg jumlahnya mencapai 400 ribuan padahal anak saya bersekolah di smpn ssn. setahu saya program ini didukung pemerintah, apakah mereka tidak mendapatkan dana tambahan dari pemerintah diluar dana bos dan bop? kalau tidak, apakah benar program akselerasi ini membutuhkan dana lebih drpd program reguler?

  11. layanan akselerasi membutuhkan layanan pada anak yg lebih dari anak reguler. ibarat makan..anak reguler cukup makan satu piring, sedangkan anak CI+BI butuh dua piring…nah pemerintah hanya menyediakan dukungan untuk standar reguler yaitu satu piring….maka yang satu piring lagi disediakan oleh orang tuanya…
    soal jumlah tentu saja sesuai kemampuan dan kebutuhan..

  12. Salam,
    Saya mau bertanya, jumlah sekolah yang menyediakan program kelas untuk anak CI/Bi di Indonesia ada berapa?
    Dan berapa jumlah siswa CI/Bi? (*mohon dicantumkan sumbernnya)
    Saya sedang melakukan penelitian tentang kodisi Subjective Well-Being yang mengikuti program kelas akselerasi.
    Trima kasih,

  13. Mohon maaf pak Amril kami mau bertanya bagaimanakah Program CI+BI khususnya SMA pada kurikulum 2013.Kemudian kaitannya dengan SNPTN Undangan dan Ujian Nasionak, apakah ada perubahan atau tidak ?

  14. untuk kurikulum 2013 kami masih menunggu perkembangannya karena sampai saat ini belum bisa mendapatkan dokumen kurikulum. yang ada baru bahan uji publiknya.
    terkait dengan SNMPTN tidak ada masalah karena sejak 2 tahun lalu dengan jalur undangan semua bisa berjalan. yang berbeda di tahun ini adalah, yang b misa ikut UN kelas aksel adalah siswa yang memiliki IQ min. 130. ini sebuah kebijakan yang tepat karena selama ini program aksel sering dimasukkan siswa yang tidak memenuhi kriteria itu.
    tks

  15. maaf pak mau bertanya lagi apakah program aksel untuk tahun depan apakah masih tetap berlanjut ?,terkait dengan kurikulum 2013.apakah perguruan tinggi akan memiliki pola seleksi yang sama atau berbeda untuk anak CI- BI, mengingat tahun 2013-2014 penetapan berlakunya kurikulum 2013, sedangkan tahun 2014 siswa aksel sudah harus lulus,lalu reguler baru tahun 2015 .Mohon tanggapannya.terimakasih pak.

  16. aksel tidak ada masalah bu..tetap lanjut terus…terkait dengan kurikulum baru, kami masih mempelajarinya…soal perguruan tinggi tidak masalah karena mereka tidak masuk ke dalam area kurikulum sekolah. soal kurikulum yang dipakai, kita melakukan penyesuaian dulu dengan kebijakan yang ada saat ini. nanti jika kurikulum 2013 sudah benar-benar ditetapkan, baru kita akan komunikasi dengan depdikbud.
    yang terpenting adalah jangan lagi memasukan siswa yang memiliki IQ di bawah 130 untuk masuk aksel…karena mereka akan ditolak untuk ikut ujian nasional.
    tks

  17. Terimakasih pak amril, kalau boleh tahu apakah ada payung hukumnya untuk hal ini misalnya PP atau undang- Undangnya sehingga kami dapat menjadi acuan kami .

  18. mohon informasinya, syarat apa saja yang harus dipenuhi sekolah untuk bisa mengadakan program akseleras? bagaimana langkah yang harus dilakukan sekolah tersebut? Terimakasih

  19. syarat membuka program akselerasi:
    1. akreditasi sekolah = A
    2. memiliki prestasi akademik dan non akademik yang tinggi
    3. melakukan sosialisasi dan pelatihan guru dengan narasumber dari asosiasi ci+bi nasional
    4. membuat studi kelayakan
    5. mengurus ijin ke dinas pendidikan propinsi deengan rekomendasi dari dinas pendidikan kabupaten/kota dan asosiasi ci+bi nasional
    tks

  20. jawaban – jawaban dari asosiasicibinasional kurang transparan dan terkesan kurang terbuka apalagi ditanya soal biaya spp untuk kelas aksel contoh : pertanyaan dari saudara Corry savitri

  21. bagaimana mengantisipasi ujian un dengan IQ 130 oleh psikolog yang dibayar karena sekolah terlanjur melaksanakan kelas aksel? Perlukah dengan hasil dari psikolog yang berbeda dan kredibel? ingat akil ketua MK, mungkin saja toch?

  22. dengan martabat psikolog yang baik hal itu kecil kemungkinnya, hal itu sangat mungkin dilakukan oleh staf / orang dekat psikolog atau orang/ pihak2 yang berkepentingan dengan nama baik sekolah (aksel).

  23. semoga asosiasicibinasional bisa menjaga standar bakal calon anggotanya(siswa-siswi yang akan ikut un nanti IQ>130 atau boleh IQ<130)

  24. yth bpk/ibu nurito…
    jika anak tidak memiliki IQ min. 130, sebaiknya tidak dimasukakan ke dalam kelas akselerasi.

  25. asosiasi tidak bisa menjaga.. kami hanya bisa menghimbau dan mengingatkan. oleh karnea itu orang tua harus tahu berapa hasil psikotes putranya, jangan mau dibohongi oleh sekolah/madrasah, karena IQ yang bisa UN untuk kelas aksel hanya min. 130. tks

  26. saya Husna siswi akselerasi dari MAN 2 PONOROGO , , saya mau bertanya ,, bagaimana dengan masalah sosialisasi siswa akselerasi?, ada banyak orang yang berfikir siswa akselerasi itu sangat kurang sosialisai di karenakan lebih sering berada dalam kelas untuk belajar atau menyelesaikan tugas dari pada bermain bersama teman dari lain kelas. . trima kasih ;)

  27. mbak Husna yg baik…
    kejadian yang dialami oleh husna dan kawan-kawan disebabkan guru dan kepala sekolah/madrasah yang tidak mengetahui cara mengelola aksel yang benar, sehingga anak2 cibi tidak boleh banyak beraktivitas selain belajar di kelas. hal ini merupakan salah satu kekeliruan mendasar yang dimiliki oleh pengelola aksel yang tidak punya pemahaman yang benar bagaimana mengelola aksel.
    tks

  28. maf sebelumnya pak, bukan seperti itu, maksud pertanyaan saya, bagaimana cara mengtasi opini dari luar, sebenarnya ank-ank aksel kelas saya malah justru lebih sering keluar kelas,, maksud dari pertanyaan saya adalah bagaimana meluruskan opini dari luar yang berfikir seperti di atas,,

  29. mbak Husna…
    kita tidak bisa meluruskan opini orng, karene mreka memiliki alasan dan informasi yang berbeda yang mendasari opini yang mereka lakukan. yang kita perbuat hanya memberikan bukti bahwa aksel yang dikelola itu sesuai aturan, siswa yang masuk sesuai kriteria. itu saja. tks

  30. sebenarnya saya dulu sebelum masuk aksel, saya juga berfikir seperti yang difikirkan orang-orang pak :) tp ternyata tidak,, di sini siswa aksel malah di ajarkan sosialisasi yang baik,, yg menjd pertanyaan saya, bagaimana meluruskan opini tersebut ? tolong di beri solusi nya pak,, :) tima ksih

  31. harus ikut…karena anak CI+BI juga harus dikembangkan kemampuan2 lainnya di luar kemampuan di bidang akademik..

  32. mb husna… seperti yang saya sampaikan, kita gak bisa meluruskan opini orang, karena berbagai faktor yang melandasi opini itu. yang kita lakukan adalah memberi bukti, bahwa kita bukan seperti yang mereka prasangka kan..tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s